11 Sejarah Dakwah dan Perjuangan Nabi Musa

Sudah menjadi sunnatullah bahwa dalam kehidupan ini setiap hamba akan mengalami ujian dan cobaan yang datang silih-berganti. Hal ini untuk mengetahui hamba mana saja yang benar-benar beriman kepada Allah swt, sesuai firman-Nya, “Dan sungguh, Kami akan benar-benar menguji kamu sehingga Kami mengetahui orang-orang yang benar-benar berjihad dan bersabar diantara kamu; dan akan Kami uji perihal kamu.” (QS. Muhammad, 47:31)

Tidak terkecuali pada Nabi dan Rasul. Perjuangan dakwah mereka justru lebih berat dari manusia biasa. Berikut adalah sejarah singkat perjuangan Nabi Musa as dalam berdakwah, menyerukan tauhid.

 

Nabi Musa as lahir dalam keadaan terancam dibunuh Fir’aun

Pisau berdarah
indianexpress.com

Fir’aun Mesir kala itu, melalui ajudannya membunuh setiap bayi laki-laki yang lahir karena ia takut ramalan tentangnya menjadi kenyataan, yaitu adanya seorang laki-laki yang kelak akan menggulingkan kekuasaannya. Ibu Musa yang cemas anak laki-lakinya akan dibunuh, menghanyutkan bayinya di sungai Nil atas petunjuk Allah swt.

Musa yang berada dalam keranjang dan hanyut mengikuti arus sungai Nil, ditemukan oleh istri Fir’aun, Asiyah. Merasa belas kasih terhadap si bayi, Asiyah memohon kepada Fir’aun untuk diperbolehkan merawatnya. Meskipun awalnya ragu, Fir’aun memperbolehkan bayi itu hidup di dalam istana. Istri Fir’aun kemudian mencarikannya ibu susu, lalu pilihannya jatuh pada seorang wanita yang ternyata adalah ibu kandung si bayi. Maka Musa kembali kepada ibunya dan hidup bersamanya selama beberapa tahun. Kisah ini dapat dibaca pada QS. Al-Qashsash: 4-13.

Nabi Musa as hendak menolong kaumnya tetapi justru kena batunya

Seperti melempar bumerang
genius.com

Setelah usai masa penyusuan, Musa kembali ke istana dan hidup sebagaimana anak raja. Musa sadar bahwa dirinya adalah anak angkat yang berasal dari Bani Israil yang tertindas. Oleh karena itu ia bertekad untuk menolong kaumnya itu. Maka ia pergi ke luar istana untuk menjalankan misinya. Di sebuah lorong, ia melihat seorang dari golongan Bani Israil bernama Samiri dan seorang kaum Fir’aun bernama Fatun, mereka sedang berkelahi. Ia berusaha menolong Samiri yang berteriak minta tolong, tubuh Samiri memang kalah jauh dibanding Fatun. Malang, pukulan Musa kepada Fatun menyebabkan orang itu mati meskipun ia tidak berniat membunuhnya. Segera, ia beristighfar, memohon ampun kepada Allah swt. Ia berusaha menyembunyikan peristiwa pembunuhan yang tidak disengaja itu. Samiri yang tidak dapat menahan mulut, akhirnya mengungkap siapa pembunuh yang dicari tentara Fir’aun selama ini. Musa pun berusaha menyelamatkan diri dengan meninggalkan kota Mesir.

Nabi Musa as terpaksa tinggal jauh dari tanah air

Keep Calm and cinta tanah air
keepcalm-o-matic.co.uk

Setelah 8 hari 8 malam, Musa tiba di kota Madyan, di mana Nabi Syu’aib as hidup di sana. Ia istirahat di bawah pohon, lalu ia melihat dua gadis yang sedang menggembala kambing. Kedua gadis itu tidak bisa mengambil air di sebuah sumber karena di sana penuh sesak. Maka Musa membantu kedua gadis itu untuk mengambil air sehingga kambing-kambing mereka mendapat air minum.  Mendapat kebaikan dari Musa, ayah kedua gadis itu mengundangnya ke rumah. Ia bekerja padanya dengan mengurus pekerjaan rumah dan gembala. Setelah melihat sifat-sifat baik pada diri Musa, Syu’aib yang sudah lanjut usia menawarkan Musa untuk menjadi menantunya. Kisah dapat dibaca pada QS, Al-Qashash: 22 – 28.

Nabi Musa as mengemban amanah dakwah yang tidak mudah

Perjalanan panjang
housingwire.com

Sepuluh tahun kemudian, Musa yang rindu pada tanah airnya bertolak ke Mesir bersama istrinya. Dalam perjalanan, ia menerima wahyu. Saat itu di bukit Thur. Mukjizatnya berupa tongkat yang dapat berubah menjadi ular, tongkat ini dulunya diberikan oleh Nabi Syu’aib. Mukjizat kedua, Allah memerintahkan Musa agar mengepitkan tangannya ke ketiaknya sehingga tangannya menjadi putih cemerlang tanpa cacat atau penyakit. Kisah ini ada pada QS. Taha: 9 – 23.

Nabi Musa as melanjutkan perjalanannya ke Mesir. Bukan hanya karena rindu tanah air, tetapi juga karena misi dakwah. Ia sempat ragu karena sebelumnya pernah membunuh seorang kaum Firaun. Lalu Allah menguatkannya dengan berfirman bahwa Allah akan selalu menjadi penolongnya. Kisah ini terdapat pada QS. Al-Qashash 33-35 dan QS. Taha: 42-47.

Nabi Musa berdakwah dengan kondisi lisannya yang tidak pandai bicara

Huruf dan Angka, perangkai kata-kata
meetdoctor.com

Selama perjalanan ke Mesir dengan mengemban amanah dakwah, Nabi Musa as was-was sebab ia terbayang pembunuhan yang dilakukannya beberapa tahun yang lalu. Ia pun bukan orang yang pandai bicara. Oleh karena itu, ia memohon kepada Allah swt agar diberikan teman dakwah, yaitu saudaranya sendiri, Harun yang dikenal pandai berbicara.

Sesampainya di istana Fir’aun, Nabi Musa as yang disertai saudaranya, Harun, berdialog dengan Fir’aun. Ia menyerunya untuk menyembah Allah yang Esa dan membebaskan Bani Israil dari siksaannya. Namun, Fir’aun menolak seruan itu.

Fir’aun menantang adu kekuatan. Maka pada hari yang disepakati keduanya bertemu kembali. Fir’aun memanggil ahli sihirnya yang dapat mengubah tongkat menjadi ular ukuran normal. Nabi Musa as melempar tongkatnya hingga berubah menjadi ular raksasa dan melahap semua ular milik ahli sihir. Tampaklah kekuasaan Allah, maka ahli sihir itu membenarkan Musa dan beriman kepada Allah swt. Kisah ini dapat dibaca pada QS. Asy-Syu’araa: 18-51.

Nabi Musa as dikhianati berkali-kali oleh kaumnya

Broken promises
kaskus.co.id

Musa melanjutkan dakwahnya. Fir’aun semakin berang, sehingga penyiksaannya terhadap bani Israil semakin menjadi-jadi. Tentang hal ini bisa dilihat pada QS. Al-A’raaf : 127-129 serta QS. Al-Mukmin : 28 – 33 dan 38 – 45.

Nabi Musa as memohon kepada Allah swt agar kaumnya diberikan bencana supaya mereka sadar akan kekuasaan Allah swt. Doa itu dikabulkan. Badai angin topan datang, banjir besar melanda Mesir. Orang-orang berduyun-duyun mendatanginya untuk meminta pertolongan dengan berjanji bahwa mereka akan beriman kepada Allah swt. Namun ketika badai telah berlalu dan mereka dapat bercocok tanam kembali, mereka berpaling dari Allah swt. Lalu ladang mereka diserbu belalang sehingga gagal panen. Orang-orang berduyun-duyun mendatanginya lagi untuk meminta pertolongan dengan berjanji bahwa mereka akan beriman kepada Allah swt. Namun ketika belalang telah pergi dan mereka memperoleh hasil panen yang melimpah, mereka berpaling dari Allah swt. Lalu lumbung makanan mereka diserbu kutu sehingga hasil panen mereka rusak. Orang-orang berduyun-duyun mendatanginya lagi untuk meminta pertolongan dengan berjanji bahwa mereka akan beriman kepada Allah swt. Namun ketika kutu telah pergi dan mereka dapat menikmati hasil panen, mereka berpaling dari Allah swt. Lalu ribuan katak menyerbu rumah, ladang, dan sumur sehingga mereka tidak dapat hidup tenang. Orang-orang berduyun-duyun mendatanginya lagi untuk meminta pertolongan dengan berjanji bahwa mereka akan beriman kepada Allah swt. Namun ketika katak telah pergi dan mereka dapat hidup tenang, mereka berpaling dari Allah swt. Lalu tiba-tiba semua yang hendak mereka makan dan minum selalu berubah menjadi darah. Orang-orang berduyun-duyun mendatanginya lagi untuk meminta pertolongan dengan berjanji bahwa mereka akan beriman kepada Allah swt. Namun ketika hukuman Allah swt telah dicabut dari mereka, kembali mereka berpaling dari Allah swt. Sebaliknya, mereka berkata bahwa Nabi Musa as adalah seorang penyihir yang handal karena dapat melakukan banyak musibah serta menangani musibah yang mereka alami. Kisah ini bisa dibaca pada QS. Al-Mukmin: 26, Az-Zukhruf: 51-54, Yunus: 88-89, dan Al-A’raaf: 130-135.

Nabi Musa as dikejar Firaun dan tentaranya hingga mentok di Laut Merah

Laut Merah
svamante.com

Semakin hari, semakin berat siksaan Fir’aun atas Bani Israil. Terlebih, orang-orang kafir juga berharap dirinya dan pengikutnya pergi dari negeri mereka. Maka Bani Israil mendatangi Nabi Musa as untuk meminta membawa mereka keluar dari Mesir. Pada malam hari Nabi Musa as bersama bani Israil  pergi meninggalkan Mesir.  Fir’aun, pasukannya, dan orang-orang kafir ternyata membuntuti mereka dengan niat membunuh mereka.

Tiba di Laut Merah, seakan mereka hendak tersusul. Mereka tidak dapat berbalik ke belakang karena di sana ada Firaun dan bala tentaranya. Mereka tidak dapat melanjutkan lari ke depan karena di sana adalah lautan luas. Lalu Nabi Musa as memukulkan tongkatnya ke laut sesuai perintah Allah swt. Laut itu terbelah sehingga Bani Israil dapat melewatinya. Fir’aun yang terus mengejar akhirnya mati tenggelam karena air laut kembali seperti semula ketika Nabi Musa as memukulkan kembali tongkatnya ke laut. Kisah ini dapat dilihat pada QS. Taha: 77-79, Asy-Syu’araa: 60-68, dan Yunus:90-92.

Nabi Musa as menghadapi kaum yang bebal

Topeng
medyalens.com

Sebelum tiba di tanah yang dijanjikan, Bani Israil melihat kaum yang menyembah berhala sehingga mereka meminta kepada Nabi Musa as untuk dibuatkan patung seperti itu. Tentulah hati Nabi Musa as sedih karena kaumnya yang baru saja menerima pertolongan dari Allah swt justru segera berbalik dan hendak menyembah berhala kembali. Kisah ini ada pada QS. Al-A’raaf: 138- 140 dan 160, serta QS. Al-Baqarah: 61.

Nabi Musa as kemudian bermunajat kepada Allah untuk mendapat kitab pedoman hidup. Ia mengajak 70 orang pilihan dan meninggalkan sebagiannya bersama saudaranya yang juga seorang nabi, Harun. Ia bergegas menuju bukit Thur, mendahului 70 orang kaumnya. Setibanya di bukit Thur, Nabi Musa as diberi keistimewaan melihat Dzat Allah dan mendapatkan kitab Taurat. Kisah ini bisa dilihat pada QS. Taha: 83-84 dan QS. Al-A’raaf: 142-145.

Pada saat itu timbullah dalam hati mereka keinginan untuk melihat Zat Allah dengan mata kepala mereka setelah mendengar percakapan-Nya dengan Nabi Musa as.M aka setelah selesai Nabi Musa bercakap-cakap dengan Allah berkatalah mereka kepadanya: “Kami tidak akan beriman kepadamu sebelum kami melihat Allah dengan terang.” Dan sebagai jawaban atas keinginan mereka yang menunjukkan keingkaran dan ketakaburan itu, Allah seketika itu juga mengirimkan halilintar yang menyambar dan merenggut nyawa mereka sekaligus.

Nabi Musa yang merasa sedih akan nasib kaumnya, berseru memohon kepada Allah agar diampuni dosa mereka seraya berkata, “Wahai Tuhanku, aku telah pergi ke Thur Sina dengan tujuh puluh orang yang terbaik di antara kaumku kemudian aku akan kembali seorang diri, pasti kaumku tidak akan mempercayaiku. Ampunilah dosa mereka, wahai Tuhanku dan kembalilah kepada mereka nikmat hidup yang Engkau telah cabut sebagai pembalasan atas keinginan dan permintaan mereka yang durhaka itu.”

Allah memperkenankan doa tersebut. Kemudian pada kesempatan itu Nabi Musa mengambil janji dari mereka bahwa mereka akan berpegang teguh kepada kitab Taurat sebagai pedoman hidup mereka melaksanakan perinta-perintahnya dan menjauhi segala apa yang dilarangnya. Kisah ini dapat dibaca pada QS. Taha: 85-98, Al-A’raf: 149, 151, 154, 155, dan Al-Baqarah: 55, 56, 63 dan 64.

Nabi Musa as kembali kepada kaumnya. Namun alangkah kaget dirinya ketika mendapati kaumnya kembali menyembah berhala berupa patung anak lembu. Ia bahkan sempat menyalahkan Nabi Harun as. Maka turun perintah Allah swt untuk berqurban sapi agar hilang penghambaan mereka kepada hewan tersebut. Kini kita dapati surat terpanjang di dalam Al-Qur’an adalah Al-Baqarah yang artinya sapi betina.

Bani Israil yang keras kepala juga menolak perintah untuk memasuki tanah Palestina karena di sana terdapat kaum Kan’aan yang lebih kuat dari mereka. Akibatnya, mereka mengembara tak tentu arah selama 40 tahun. Kisah ini dapat dibaca pada QS. Al-Maidah: 20 – 26.

Nabi Musa as sempat terkena godaan dunia dengan menganggap dirinya sebagai orang yang paling pandai

Ilustrasi Nabi Musa as dan Nabi Khidir
mohlimo.com

Suatu ketika, timbul kesombongan pada diri Nabi Musa as. Saat itu ia ditanya seorang kaumnya, siapa orang terpandai di dunia ini. Tanpa ragu, ia menjawab orang itu adalah dirinya sendiri, Nabi Musa as, sang utusan Allah swt. Demi menyadarkan Musa dari kelalaiannya, Allah swt memerintahkannya untuk berguru pada seseorang yang bisa dia temui di suatu tempat di mana dua lautan bertemu.

Hamba shalih itu, menurut banyak pendapat ahli-ahli tafsir, adalah Nabi Al-Khidhir. Saat Nabi Musa as mengungkapkan keinginannya untuk berguru padanya, Nabi Khidir berkata, “Kamu tidak akan sabar dan tidak dapat menahan diri bila kamu mengikutiku dan berjalan bersamaku.”

Nabi Musa as menyatakan keinginannya yang besar untuk belajar dari Khidir. Maka, Nabi Khidir mengajukan syarat, agar Nabi Musa as tidak mengajukan pertanyaan sebelum ia memberitahukan kepadanya. Llau mereka berdua mengadakan perjalanan.

Tatkala mereka sampai di tepi pantai, terdapat sebuah perahu sedang berlabuh. Nabi Khidhir melubangi perahu sehingga pemiliknya tidak dapat mengangkut penumpang lagi. Musa lupa akan janjinya dan berkata, “Apakah dengan perbuatan kamu ini engkau hendak menenggelamkan perahu ini dengan semua penumpangnya? Tidakkah engkau merasa kasihan kepada pemilik perahu ini yang telah berjasa mengantar kita ke tempat yang kita tuju?”

Berkata Nabi Khidhir, “Bukankah telah kukatakan kepadamu bahwa kamu tidak akan sabar menahan diri melihat tindakanku selama perjalanan.”

Musa berkata, “Maaf. Aku lupa. Janganlah aku dipersalahkan dan dimarahi akan kelupaanku.”

Perjalanan berlanjut. Mereka bertemu dengan seorang anak laki-laki yang sedang bermain-main dengan kawan-kawannya. Tiba-tiba dipanggillah anak itu oleh Khidhir, dibawanya ke tempat yang agak jauh, dibaringkannya dan dibunuhnya seketika itu. Alangkah terperanjatnya Musa melihat tindakan Khidhir. Musa berkata, “Mengapa kamu membunuh seorang anak yang tidak berdosa? ”

Nabi Khidhir menjawab, “Bukankah aku telah berkata kepadamu, bahwa kamu tidak akan sabar menahan diri berjalan denganku?”

Musa berkata, “Maaf. Aku lupa. Perkenankan aku meneruskan perjalanan bersamamu. Jika kesalahan yang sama terjadi lagi, maka akan berhenti menyertaimu.”

Lalu mereka berdua tiba di suatu desa. Mereka berharap mendapat belas kasih dari penduduk desa itu karena mereka lelah dan lapar. Namun tidak seorang pun dari penduduk desa itu yang mau menolong mereka  sehingga dengan rasa kecewa mereka segera meninggalkan desa itu.

Dalam perjalanan keluar dari desa itu mereka melihat dinding salah satu rumah desa itu nyaris roboh. Segera Nabi Khidhir menghampiri dinding itu dan ditegakkannya kembali. Dan secara spontan, Nabi Musa as berkata, “Mereka telah menolak untuk memberi kepada kami tempat istirahat dan sesuap makanan untuk kita. Apakah, kamu hendak menuntut upah bagi usahamu menegakkan dinding itu?”

Nabi Khidhir menjawab, “Wahai Musa, inilah saatnya kita berpisah sesuai dengan janjimu yang terakhir. Telah kamu langgar kembali janjimu. Akan tetapi sebelum kami berpisah , akan kuberikan alasan-alasan perbuatan yang kamu rasakan tidak wajar itu.”

“Ketahuilah bahwa perusakan sampan itu dimaksudkan untuk menyelamatkannya dari seorang raja yang zalim yang merampas sampan rakyatnya. Sedang sampan itu adalah milik orang-orang fakir-miskin yang digunakan sebagai sarana mencari nafkah bagi hidup mereka sehari-hari. Jika sampannya berlubang maka si raja yang zalim itu akan berfikir dua kali untuk merampasnya. Adapun tentang anak yang aku bunuh itu ialah bertujuan menyelamatkan kedua orang tuanya dari gangguan anak yang durhaka itu. Kedua orang tua anak itu adalah orang-orang yang mukmin, aku khawatir mereka menjadi sesat karena anaknya. Aku berharap Allah akan menguruniai mereka anak pengganti yang sholeh dan berbakti kepada mereka berdua. Tentang dinding rumah yang kuperbaiki itu karena di bawahnya terpendam harta peninggalan milik dua orang anak yatim piatu. Ayah mereka adalah orang yang sholeh ahli ibadah dan Allah menghendaki bahwa warisan yang ditinggalkan untuk kedua anaknya itu sampai ke tangan mereka  bila mereka sudah dewasa. Ketahuilah Musa, semua itu kulakukan bukan atas kehendakku sendiri tetapi atas tuntunan wahyu Allah kepadaku.”

Nabi Musa as akhirnya sadar bahwa ia tidak pantas menyombongkan diri. Pemilik segala ilmu di dunia ini adalah Allah swt. Kisah Nabi Musa as dan Nabi Khidir dapat dibaca pada QS. Al-Kahfi: 60-82.

Nabi Musa as menghadapi Qarun yang tamak

Harta karun
communitytable.com

Pada masa Nabi Musa as, hiduplah Qarun yang tamak. Qarun adalah seorang yang kaya raya. Bila keluar rumah, ia mengenakan pakaian dan perhiasan yang gemerlap, membawa pelayan dan bodyguard yang banyak, serta mengenderai kuda-kuda yang dihiasi dengan indah dan cantik. Hal ini menimbulkan kecemburuan, terutama bagi mereka yang masih lemah iman sehingga timbul perkataan, “Alangkah mujur nasib Qarun. Mengapa Tuhan melimpahkan kekayaan yang besar itu kepada Qarun yang tidak mempunyai rasa belas kasihan terhadap orang-orang miskin. Di mana letak keadilan Allah yang Maha Pemurah lagi Maha Pengasih itu?”

Maka turun perintah berzakat. Ketika Nabi Musa as mendatangi Qarun dan menyampaikan perintah berzakat, Qarun justru mengolok-olok dirinya. Ia bahkan menyebar fitnah bahwa Nabi Musa as dengan dakwahnya dan penyiaran agama barunya bertujuan ingin memperkaya diri, bahwa perintah zakatnya itu merupakan cara perampasan yang halus terhadap harta para pengikutnya.

Nabi Musa ,lalu berdoa ia kepada Allah agar menurunkan azab-Nya atas diri Qarun yang sombong dan congkak itu, agar menjadi pengajaran dan ibrah bagi kaumnya yang sudah mulai goyah imannya melihat kenikmatan yang berlimpah-limpah yang telah Allah kurniakan kepada Qarun yang membangkang itu.

Nabi Musa as yang difitnah, kemudian berdoa kepada Allah swt. Atas izin Allah swt, terjadilah tanah longsor yang membenamkan rumah Qarun beserta seluruh hartanya. Qarun juga ikut tenggelam bersama harta yang ia cintai. Orang-orang yang dulunya lemah iman kemudian berkata, “Sekiranya Allah swt melimpahkan harta kepada kami, niscaya kami dibenamkan pula seperti Qarun. Sesungguhnya kami telah tersesat ketika kami iri hati dan mendambakan kekayaannya yang membawa binasa baginya. Tidaklah beruntung orang-orang yang mengingkari nikmat Allah.”

Kisah Qarun dapat dilihat pada QS. Qashash: 76-82 dan QS. Al-Ahzab: 69.

Nabi Musa as meninggal dunia sebelum sempat menginjakkan kaki di tanah yang dijanjikan

Dakwah adalah cinta
gardamuda.com

Nabi Musa as wafat pada usia 150 tahun di atas sebuah bukit bernama “Nabu”, di mana ia diperintahkan oleh Allah untuk melihat tanah suci yang dijanjikan (Palestina) namun tidak sampai memasukinya. Thalut, adalah generasi Bani Israil yang berhasil memasuki tanah Palestina dan meneruskan perjuangan Nabi Musa as.

Hal ini menunjukkan kepada kita bahwa dakwah yang kita perjuangkan tidak selalu akan kita nikmati hasilnya di dunia. Meskipun demikian, bukan berarti kita boleh berhenti berjuang. Kita harus senantiasa berdakwah menegakkan syariat yang diberikan Allah swt, dan generasi selanjutnya akan meneruskan perjuangan dakwah.

Tinggalkan komentar