4 Kesalahan yang Sering Kita Perbuat Ketika Menyemangati Seseorang

Kita semua pernah mengalami kondisi berikut. Seseorang datang mencari kita untuk kemudian membuka isi pikiran dan hati yang membuat ia merasa tertekan jiwanya. Suatu ketika, kita beranggapan bahwa masalah yang ia alami hanya sepele sehingga kita buru-buru memberi tanggapan yang sederhana dan justru meremehkan masalah. Pada kesempatan yang lain kita beranggapan bahwa masalah yang dialaminya sangat pelik sehingga kita tidak tahu harus berbuata apa untuk menolongnya dan justru memberi jawaban yang sulit dimengerti oleh kita sendiri.

Di kemudian hari, kita lalu sadar, bisa jadi usaha kita dalam memberi semangat kepadanya adalah hal paling payah yang pernah kita lakukan. Alih-alih menjadi semangat, orang yang kita semangati justru merasa dirinya lemah atau tidak berkompeten. Kalau sudah begini, bukan tidak mungkin hubungan pertemanan menjadi renggang.

Untuk mencegah dirinya semakin terluka dan menghindarkan diri kita dari penyesalan, ada beberapa hal yang harus kita hindari ketika menyemangati seseorang. Ini daftarnya.

 

Memposisikan diri sebagai pihak yang paling baik dan benar

Menjadi pendengar yang baik
cosmopolitan.de

Kita mungkin berpikir bahwa pandangan positif terhadap suatu masalah akan menghibur mereka yang sedang galau. Misalnya dengan kata-kata penyemangat, “Jangan khawatir! Kamu itu hebat. Kamu akan mendapat pelajaran berharga dari masalah yang kamu hadapi.” Menurut Denise Marigold, Ph.D., asisten professor psikologi di Renison University College berpendapat bahwa perkataan seperti tersebut¬† mungkin akan membuat seseorang justru merasa diremehkan dan terintimidasi.

Orang-orang yang rendah diri cenderung pesimis terhadap semua potensi yang dimilikinya dan pikirannya banyak diliputi kata kegagalan. Ketika orang-orang seperti ini mendengar kalimat, “Tidak apa-apa. Lain kali kamu bisa lebih baik dari sekarang!” hal ini justru membuat mereka merasa bahwa tidak ada yang dapat mengerti perasaannya.

Daripada selalu memberi kata-kata motivasi, lebih baik tajamkan pendengaran. Rasakan emosi dalam setiap kata yang ia ucapkan. Hal ini bukan berarti kita setuju dengannya, namun sebuah sikap untuk berdamai dengan kenyataan. Akan lebih alami jika kita berkata, “Aku turut sedih. Kamu pasti sangat kecewa. Iya, kan?!” Upayakan untuk memberi mereka sebuah perasaan bahwa ada orang yang peduli dengannya, yaitu kita.

Brutal memberikan nasihat yang tidak diperlukan

Memberi saran yang tidak diminta
intervarsity.org

Kita tidak ingin dianggap tidak peduli lalu kita memberikan nasihat atas musibah atau peristiwa menyedihkan yang dialami seseorang. Akan tetapi, nasihat yang kita berikan tanpa diminta bisa jadi membuat mereka tidak menikmati sesi ceritanya. Sebaliknya, ia mungkin akan melakukan hal yang menyelisihi saran kita. Seringkali orang datang kepada kita bukan karena tidak tahu cara menyelesaikan masalahnya, tetapi ia hanya ingin dimengerti.

Daripada memberikan nasihat yang tidak perlu, sebaiknya kita gali lebih dalam kondisinya dengan beberapa pertanyaan. Misalnya, “Aku tahu, kamu merasa diabaikan kan?!” “Lalu bagaimana?” “Apa yang kamu katakan kepadanya?” “Apa yang ingin kamu katakan kepadanya?”, dan lain sebagainya. Saat mereka menjawab pertanyaan-pertanyaan itu, sebaiknya kita mendengarkan dengan seksama agar dapat mengendalikan jalannya percakapan.

Merekomendasikan untuk mendatangi orang lain yang lebih pandai menyelesaikan masalah

hindari sikap tidak peduli
hnporadna.hnonline.sk

Kita tentu sedih mendengar kesedihan orang yang kita sayangi. Kesedihan semakin menjadi ketika kita tidak tahu cara menolongnya. Pada beberapa kondisi kita akan menyarankannya untuk mencari orang lain yang dapat membantunya, psikiater misalnya. Saran seperti ini justru akan semakin membuatnya merasa tersisih. Bahwa kita tidak peduli dengan masalah yang dialaminya.

Saat kita benar-benar tidak berkompeten dalam penyelesaian sebuah masalah, atau saat itu kita sedang lelah, sebaiknya tidak terburu-buru menolak kedatangannya. Sejenak saja, dengarkan masalahnya dan berikan tanggapan walau sedikit. Misalnya dengan berkata, “Hatiku turut sakit merasakan penderitaanmu. Aku berharap bisa meringankan bebanmu. Aku ada di sini untukmu. Aku penasaran, mungkin orang lain di luar sana memiliki ide yang lebih cemerlang daripada kita sehingga penderitaan yang kita rasakan bisa terobati. Apakah kamu pernah berpikir seperti ini?”

Berbalik dari pendengar menjadi pendongeng: menceritakan masalah pribadi

pengalaman adalah guru
musicbed.com

Kita berbagi segala hal dengan orang-orang yang kita percayai. Mengapa kita tidak berbagi masalah yang sama saja, sehingga mereka dapat membandingkan masalahnya dengan masalah kita? Memang ada benarnya, tetapi hal ini memiliki resiko yang cukup tinggi. Salah-salah, justru mereka semakin menderita dengan masalah baru.

Daripada menceritakan masalah pribadi yang sedang kita alami, lebih baik ceritakan masalah pribadi–yang mirip dengan masalahnya–yang telah berhasil kamu atasi lalu kembalikan topik kepadanya. Pusat cerita tidak boleh berbalik ke arah kita. Misalnya, setelah kita bercerita tentang pengalaman pribadi lalu kita berkata “Aku merasa seperti seluruh hidupku hancur, seakan aku tidak bisa mempercayai siapa pun lagi ketika peristiwa itu menimpaku. Apakah seperti ini juga yang kamu rasakan?” Kalimat ini merupakan transisi yang baik untuk mengembalikan pusat cerita dari kita ke orang lain.

Tinggalkan komentar