6 Prinsip Menjadi Pimpinan Idola Karyawan

Salah satu mantan anak buah Pak Bekti tersandung kasus. Meskipun sudah tidak bekerja di perusahaan lagi tapi investigasi tetap dilakukan. Sebelum tim investigasi pusat datang ke cabang, Pak Bekti mencoba mencari tahu bagaimana mantan anak buahnya ini dulu bekerja, benarkah yang dilakukan Pak Bekti?

Dari kasus yang melibatkan mantan anak buah, Pak Bekti harus belajar bagaimana menjadi atasan yang baik, sehingga kinerja karyawan optimal dan tidak ada yang merugikan perusahaan, baik secara finansial maupun nama baik. Pimpinan yang baik adalah pimpinan yang:

Memiliki wibawa

Seorang atasan juga harus tetap menjaga wibawa, tidak panik ketika akan dilakukan investigasi dari pusat. Kepanikan ini membuat karyawan menilai atasannya lemah. Wibawa akan hancur, kepercayaan karyawan juga luntur.

Mudah didekati

Buka kran komunikasi dengan karyawan, tidak pura-pura sibuk sehingga sulit ditemui. Tunjukkan seorang pimpinan bukan seorang diktator yang arogan. Keramahan pimpinan tidak berarti merendahkan posisi, tapi menunjukkan bisa menjadi bapak yang baik bagi karyawan.

Mengasah diri

Menjadi pimpinan tetap harus mengasah diri, waktu terus berputar keadaan cepat berubah. Upgrade kemampuan dan pengetahuan agar kebijakan yang diambil dapat mengikuti perubahan yang ada.

Dekat dengan bawahan

Ketidak-dekatan Pak Bekti dengan bawahan inilah yang membuat seperti ada jarak antara karyawan dan pimpinan. Bila hubungan terjalin akrab, kasus yang merugikan perusahaan dapat diminimalisir.

Siap menerima masukan

Sebagai pimpinan harus siap menerima masukan untuk kinerja perusahaan lebih baik.

Memberi apresiasi

Jangan lupa untuk memberi apresiasi kepada karyawan atas prestasi yang didapatkannya. Bentuk apresiasi bermacam-macam, bisa berupa bonus gaji atau paket liburan. Apresiasi memotivasi karyawan untuk bekerja lebih giat untuk memajukan perusahaan.

Satu pemikiran pada “6 Prinsip Menjadi Pimpinan Idola Karyawan”

Tinggalkan komentar