in ,

Arca Perunggu Koleksi Suaka Peninggalan Sejarah dan Purbakala

Arca Perunggu Pantheon Hindu dan Budha
Katalog Koleksi Arca Perunggu Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala Yogyakarta

ARCA PERUNGGU – Salah satu koleksi benda cagar budaya bergerak yang berada di ruang koleksi Suaka Peninggalan Sejarah dan Purbakala adalah arca perunggu, secara lengkap daftar inventaris koleksi tersebut ada di dalam Buku Induk Koleksi. Berdasarkan pencatatan sampai dengan 5 September 1995, arca perunggu yang terdaftar dalam buku katalog tersebut berjumlah 46 (empat puluh enam) buah, satu di antaranya adalah kepala arca.

Arca Perunggu Pantheon Hindu dan Budha

Arca Perunggu Pantheon Hindu dan Budha
Katalog Koleksi Arca Perunggu Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala Yogyakarta

Berdasarkan basil klasifikasi, dapat diketahui bahwa arca-arca tersebut terdiri dari arca Pantheon Buddha, sebanyak 43 (empat puluh tiga) buah, dan Pantheon Hindu sebanyak 3 (tiga) buah. Rincian arca-arca tersebut adalah sebagai berikut:

Pantheon Hindu :

  • Satu arca Siva.
  • Dua arca Siva Mahadeva.

Pantheon Buddha:

  • Satu arca Bhairava
  • Satu arca Aksobhya
  • Satu arca Ratnasambhava
  • Dua arca Amitabha
  • Satu arca Amogasiddhi
  • Dua arca Vairocana dan 1 (satu) Mahavairocana
  • Satu arca Locana
  • Empat arca Avalokitesvara (satu diantaranya berupa kepala)
  • Dua arca Padmapani
  • Dua arca Vajrapani
  • Satu arca Vajrabodhisattva Vajrasattva
  • Satu arca Manjusri
  • Dua arca Bodhisattva
  • Dua arca Jambhala
  • Satu arca Cunda
  • Tujuh belas arca-arca pendamping dari pantheon agama Buddha.

Sebagian dari koleksi arca tersebut merupakan temuan lepas dari berbagai tempat. Di samping itu ada juga yang ditemukan berkelompok dalam satu lokasi, yaitu di Dusun Kleben, Surocolo, dan Mayangan.

Arca-arca dari Dustin Kleben, Pendowoharjo, Sleman, ditemukan pada tahun 1975 terdiri dari 3 (tiga ) buah arca dari pantheon Buddha, yaitu Mahavairocana, Locana, dan Avalo kitesvara. Dilihat dari segi ikonografi maupun ikonometrinya, ketiga arca ini merupakan satu kelompok.

Mahavairocana dan Locana merupakan satu pasangan sebagai dhyanibud dha dengan isterinya (Sakti). Sebagai Mahavairocana, Vairocana tidak digambarkan berbusana pendeta yang sederhana seperti umumnya penggambaran dhyanibuddha, namun memakai busana dengan perhiasan mewah. la adalah dhyanibuddha pertama yang menempati pusat mandala (zenith), sebagai simbol dari kosmis rupa, dan menggambarkan musim gugur yang dilambangkan dengan warna putih.

Mahavairocana dan Locana sebagai satu pasangan digambarkan dengan ciri-ciri yang sama yaitu dengan sikap duduk sattvapar yankasana, kedua tangannya bersikap bodhyagrimudra.

Arca dari Dusun Surocolo, Seloharjo, Pundong, Bantul, ditemukan pada tahun 1976. Ada 20 (dua puluh) buah arca, terdiri dari 19 (sembilan belas) buah dari pantheon Buddha, yaitu arca Bodhisattva (Padmapani, Vajrapani) dan 17 (tujuh belas) buah arca pendamping, dan 1 (satu) buah arca Siva dari pantheon Hindu.

Beberapa arca pendamping tersebut telah diidentifikasi oleh Prof. DR. Edi Sedyawati, berdasarkan sumber tertulis berupa teks Nispannayogavali. Teks tersebut memuat 26 (dua puluh enam) mandala dan dalam setiap mandala terdapat kelompok dewa pengiring yang terdiri dari lima kelompok, yaitu:

  • Kelompok dewa panca indra
  • Kelompok dewa kesenian
  • Kelompok dewa wewangian dan cahaya
  • Kelompok dewa pemikat dan pengikat sebagai penjaga gerbang
  • Kelompok dewa berkepala binatang sebagai penjaga pintu.

Dari kelima kelompok dewa pengiring di atas, kelompok dewa panca indra tidak terdapat di antara temuan dari Surocolo. Namun sejauh ini temuan dari Surocolo belum bisa ditentukan jenis mandalanya secara pasti. Kelompok arca dari Surocolo mempunyai kesamaan dalam penggambaran wajah dan asesorisnya.

Masing-masing arca mengenakan aksesoris yang lengkap, yaitu mahkota berupa kiritamakuta, sumping, anting-anting, kalung, kelat bahu, gelang lengan, gelang tangan, ikat dada, ikat pinggang, dan gelang kaki. Memakai kain dari batas perut hingga mata kaki dengan motif yang bervariasi. Wajah masing- masing dewi (kecuali yang berkepala binatang) digambarkan berparas cantik dengan urna di dahinya.

Setiap kelompok dewi digambarkan mempunyai bentuk lapik yang berbeda, yaitu kelompok dewi kesenian (pemusik), wewangian, dan cahaya, serta kelompok vajrabodhisattva mempunyai lapik bulat; kelompok dewi kesenian (penari) mempunyai lapik berbentuk bulat kecil; kelompok dewi pemikat dan pengikat, serta kelompok dewi berkepala binatang mempunyai lapik berbentuk oval.

Arca dari Dusun Mayangan Trihanggo, Gamping, Sleman, ditemukan di sawah milik bapak Prapto Tukiran. Proses penemuannya terjadi 4 (empat) kali, yaitu pada tanggal 19, 22, 27, dan 29 September 1990 pada saat beberapa orang sedang menggali tanah. Temuan berada di kedalaman satu meter di bawah permukaan tanah. Tidak disebutkan apakah ada arca perunggu atau tidak.

Benda yang ditemukan berupa benda-benda perunggu yang terdiri dari: 10 (sepuluh) buah arca, yaitu arca Aksobhya, Ratnasambhava, Vairocana, Avalokitetvara, Padmapdni, Vajrabodhisattva Vajrasattva, Manjusri, Bodhisattava yang belum diketahui identitasnya, dan dua buah arca Jambhala; serta beberapa benda lainnya di antaranya lampu gantung, centong nasi, cincin, tongkat pendeta, genta, cermin, talam, mangkuk, guci, fragmen gerabah, fragmen besi, dan fragmen rahang.

What do you think?

0 points
Upvote Downvote

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

penulisan gelar yang benar

Contoh Cara Penulisan Gelar Yang Benar dan Sesuai dengan EYD

Contoh Konflik Sosial Dalam Masyarakat