Beginilah Cara Terbaik untuk Mentadabburi Al-Qur’an

Wahai kerabat muslim, sebagai umat muslim. Kita diharuskan melaksanakan perintah Allah SWT dan menjauhi larangan-Nya. Dan juga mengimani 6 rukun iman, dan salah satunya yakni mengimani kitb-kitab Allah, yakni salah satunya Al-Qur’an.

Al-qur’an sendiri diwahyukan atau diturunkan Allah SWT dari tangan malaikat Jibril dan disampaikan kepada Nabi kita mulia Muhammad Sallallahu A’laihi wa Sallam untuk pedoman umat untuk menuju ke jalan yang lurus.

Ketika Nabi Muhammad Shallallahu A’laihi wa Sallam, telah merawiskan umat Islam yakni Al-qur’an. Kita sebagai umat muslim memahami atau mentadaburi Al-qur’an hukumnya adalh wajib. Dan berdasarkan ayat dibawah ini:

أَفَلَا يَتَدَبَّرُونَ الْقُرْآنَ أَمْ عَلَى قُلُوبٍ أَقْفَالُهَا
Artinya: “Maka apakah mereka tidak menghayati Al-Qu’an, ataukah hati mereka terkunci?.” (QS. Muhammad, Ayat 24)

Di sini ada juga tahapan yang harus diperhatikan agar mampu untuk memahami dan juga mampu berinteraksi dengan Al-qur’an. Coba simak:

  1. Memperhatikan adab Tilawah
  2. Membaca satu surat, atau satu juz, atau satu ruku’ dengan pelan-pelan, khusyu’, tadabburi dan juga kalau bisa penuh deengan penghayatan, seperti saat kamu upacara di sekolah. Lainnya yakni, tidak mementingkan target dalam satu harus seslesai satu surat, satu juz atau beberapa lembar.
  3. Teliti atau memperhatikan serta merenungi satu auat, memperdalam untuk mendapatkan sebuah arti yang terkandung dalam ayat tersebut, dengan cara membaca dengan hati, perasaan dan sebuah penghayatan, mendengarkan dari tilawah orang lain atau sebuah murrotal mp3 dilakukan dengan berulang-rulang (murrojaah) sampai mendapat arti yang terkandung dalam ayat itu.
  4. Mempelajari secara detail dan terincikan, dari susunan kata, konteks kalimat, dan sampai arti yang terkandung dalam bacaan tersebut. Dikarenakan turunnya “Asbabbun Nuzul” (Sebab turunnya suatu ayat), i’rab (perubahan akhir) sampai benar-benar sudah mendalami atau memahami seluk beluk ayat terseebut dari berbagai sudut pandang.
  5. Jangan lupa memahami korelasi ayat dengan kondisi yang sekarang
  6. Merujuk kepada yang sudah dipahami oleh para “Salafus shalih” terutama dari pemahaman para sahabat Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Hal seperti ini disebabkan mereka lebih ahli dibanding profesor Al-Qur’an terpintar dalam zaman ini, kerena mereka mendapatkan petunjuk langsung dari Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Maka dari itu, dari aspek kesopanan dan juga ilmiah, kita harus lebih mendahulukan pemahaman para sahabat. Hal ini juga bertujuan untuk mencegah Al-Qua’an tidak difahami dengan hawa nafsu kita sendiri.
  7. Mempelajari juga pendapat para ahli tafsir, seperti Ibnu Katsir atau yang lainnya yang memiliki bobot ilmiah.
  8. Wirid Seorang Muslim dalam Membaca Al-Qur’an dalam Hariannya

Allah Subhanahu wa Ta’ala, saat mencintai amal shalih yang istimrar (merupakan sikap dalam hidupnya atau menjadikan dirinya dicintai Allah SWT) yang berkesinambungan meski sedikit dibanding banyak, akan tetapi kurang memperhatikan juga kontiyuitasnya.

Dan seorang umat muslim hendaknya merancang wirid harian untuk berinteraksi dengan Al-Qur’an, di bawah ini coba simak:

  • Wirid Tilawah, “Tidak kurang sehari satu juz (One day One Juz)
  • Wirid Hafalan. “Menghafal 1 sampai tiga ayat setiap harinya, sesibuk apapun”
  • Wirid Tadabbur, “Mentadabburi Al-Qur’an 1 sampai 3 ayat untuk setiap hari, sesibuk apapun.”
1

Kunci-kunci Agar Dapat Memahami dan Berinteraksi dengan Al-Qur’an

www.repricerexpress.com

1. Memahami Al-Qur’an, Dikenal Sebagai Kitab yang Syamil yang berarti Mencakup Seluruh Urusan Kehidupan

Al-qur’an merupakan kitab yang syamil, manhaj (metode kehidupan) hidup yang sempurna, memiliki sebuah tabiat gerak yang hidup, membangun sebuah peradaban yang positif dan tetap berpengaruh hingga akhir zaman dunia.

Sebagian orang terperangkap untuk memandang Al-Quran dalam satu sisi saja, dan bahasa saja, maupun Al-Qur’an hanya dijadikan sebuah jampi-jampi sebagai pengobatan, dan sebagainya yang mungkin engkau tahu.

Kita tidak akan mengingkari bahwa semua hal itu dicakup oleh Al-Qur’an, dan bukan kita tidak mempelajari sebuah bagian-bagian itu semua namun yang tidak diperbolehkan hanyalah menghususkan diri kita pada satu sisi saja.

Nah adapun sebagian ulama yang membahas Al-Qur’an dari sisi akhlaq, ekonomi, sosiologi, tata bahasa, dan lain-lain yang mungkin belum dimengerti. Ini merupakan sebuah usaha yang sangat berharga sekali dan kita tidak bisa mengesampingkannya.

Banybm hendaklah orang yang mempelajari mushaf Al-Qur’an adalah satu kerangka yang menyeluruh, arti menyeluruh yakni dalam tabi’atnya, peranannya, risalah, mukjizat, ilmu, tema-temanya, manhaj, undang-undang serta syari’atnya dan dalam setiap sebuah perkara yang diisyaratkan dalam mushaf Al-Qur’an.

2. Memfokuskan Kepada Tujuan Utama dalam Al-Qu’an Tersebut

Maksudnya, sebagian manusia memakai Al-Qur’an dengan tujuan sampingan, atau tujuan furu’iyah dan bahkan sama sekali tidak disesuaikan dengan tujuan Al-Qur’an diturunkan. Sedemikian rupa Al-Qu’an juga dijadikan untuk perlombaan, Al-Qur’an dibca hanya untuk orang mati saja.

Atau Al-Qur’an hanya diambil barakahnya dengan menjadikan azimat, ruqa’ dan juga tamimah. Bahkan ada juga Al-Qur’an hanya dijadikan sebuah panjangan yang menghiasi rumah, mobil dan tempat-tempat lain.

Sekelompok tersebut juga tidak memakai Al-Qur’an untuk membukakan hati, jiwa, perasaan dan akal dirinya, sehingga hidup dalam dunia tidak sesuai dengan tuntunan benar Al-Qur’an dalam seluruh lapangan kehidupan, baik hidup sendiri, rumah tangga, masyarakat atau tetangga, pendidikan, ekonomi, yayasan-yayasan, negara dan mungkin yang lain.

Tujuan utama dari sebuah Al-Qur’an berkisaran ada empat perkara dalam kehidupan kita, mari simak di bawah ini:

  • Al-Qur’an sebagai petunjuk jalan yang lurus menuju jalan-Nya Allah SWT. Bisa di baca (Al-Isra: 9, As-Syura: 52, atau Al-Maidah:15-16).
  • Membentuk kepribadian muslim agar seimbang. Diantaranya yakni, mungkin juga ada yang sudah tahu:
  • Menanamkan iman yang kuat.
  • Membekali akal diri dengan ilmu pengetahuan.
  • Memberi arahan dengan tujuan agar bisa memanfaatkan potensi yang tertanam di pribadi, dan sumber-sumber kebaikan yang ada di dunia.
  • Menetapkan sebuah undang-undang dengan tujuan setiap umat muslim akan mampu memberikan sumbangsih dan kreatif untuk mencapai sebuah impian dalam kemajuan diri.
  • Membentuk masyarkat umat muslim yang benar-benar Qur’ani, dengan maksud mayarakat yang anggotanya terdiri dari orang-orang (penjelmaan Al-Qur’an dalam setiap gerak hidupnya tersebut). Masyarakat yang dengan diasuh dan kemudian dibimbing dengan arahan Al-Qur’an, yang hidup akan di bawah naungannya, dan berjalan di bawah cahayanya, seperti masyarakat sahabat nabi. Bisa di baca (Qur’an Surat, Al-anfak:24).
  • Membimbing umat Islam di Dunia dalam memerangi jaman kebodohan (Kejahiliyahan).

3. Memperhatikan Sisi Harakah dalam Menegakkan Berdakwah, Jihad dan Hukum Islam

Maksud dari kalimat tersebut adalah karena Al-Qur’an memiliki sifat waqi’yah harakiyah (perkembangan atau masalah tentang akhir zaman). Ada 4 macam:

Jidiyatul harakiyah.
Harakah dzatu marahil.
Harakah daibah walwail mutajaddidah.
Syari’at, dalam mengatur hubunggan antar kelompok bukan agama islam.

4. Menjaga Suasana Pemikiran Agar Selalu Ada dalam Bingkai Topik yang Dimasalahkan

Wahai kerabat muslimin dan muslimat disaat membaca Al-Qur’an diperbolehkan dengan tujuan memperdalam satu ayat dari sisi ilmu pengetahuan serta sisi tata bahasa atau yang lain, namun alangkah baiknya perasaan, pemikiran, penghayatannya dan perhatian yang dituju tetap pada pokok pemikiran ayat yang lagi dibaca tersebut.

Maka dari pembahasan no.4 ini, diberi pembahasan tentang “Menjaga suasana pemikiran agar selalu ada dalam bingkai topik permasalahan yang terkandung dalam ayat setiap yang dibaca.”

5. Menjauhi Hal yang Menyimpang, Bisa Menghalangi Cahaya Al-Qur’an

Dalam hal ini dapat dimisalkan tenggelam dalam suatu perbedaan pendapat mengenai qiraat, i’rab, balaghah, asal kata, atau perbedaan-perbedaan masalah dalam pembelajaran fiqih, dan ada lagi seperti mempertentangkan tokoh, daerah, tanggal kisah-kisah yang dicerminkan dalam Al-Qur’an.

Bisa dicontohkan lagi mempertentangkan asal kata Malaikat, pertanyaan jumlah Ashabul Kahgi ada berapa dan mungkin kerabat juga tahu. Bukan berarti ini juga tidak boleh diberlakukan, boleh dikerjakan hanya orang-orang yang terpilih dalam ilmu penafsiran saja.

6. Menjauhkan Israliyyat atau Cerita-cerita Palsu dan Menjauhi dari Mempersalahkan Ayat-ayat yang Mutasyabihat
7. Mendalami Al-Qur’an tanpa Adanya Asumsi dan Opini Tertentu

Maksud dari perkataan ini adalah hal-hal untuk menjauhkan agar makna-makna ayat Al-Qur’an tidak dipaksakan dengan sebuah tujuan dengan sepahaman asumsi yang sudah dia pegang dan berusaha juga untuk menemukan legitimasi atas pendapat yang ia miliki dan tidak mempelajari Al-Qur’an untuk meluruskan dalam sepahaman dirinya sendiri saja.

Seperti apa yang dikerjakan sahabat Rasulullah apabila saat mereka membaca Al-Qur’an mereka melepaskan seluruh keyakinan dan sebuah persepsi shabat yang mereka pegang saat dalam masa jahiliyah dulu.

8. Tsiqah Secara Mutlak Terhadap Semua Petunjuk, Perintah, Larangan dan Berita yang Diungkap dalam Al-Qur’an

9. Memahami Isyarat-isyarat yang Terdapat dalam Al-Qur’an

Bila kita membaca Al-Qur’an di dalamnya ada sebuah rahasia-rahasia arti yang terkandung, dan tidak akan dipahami, kecuali orang-orang yang sudah mempunyai kunci-kunci agar bisa berinteraksi dengan Al-Qur’an dan ia sendiri memiliki bashirah, atau seperti limpahan keimanan dan kesiapan untuk hidup di bawah naungan atau perlindungan Al-Qur’an.

Atau dimiripkan dengan ayat keimanan agar mendorong orang untuk merasa diawasi oleh Allah SWT, dan membaca tentang akhir zaman atau biasa kita sebut qiamat. Seketika itu hatinya tergerak untuk takut akan balasan (adzab) Allah SWT yang sangat pedih.

Selanjutnya dirinya sendiri mampu memahami hubungan antara ayat satu dengan ayat yang lain, dan itu pun ayat tersebut diturunkan ke dalam senggang waktu yang cukup jauh.

10. Memiliki Pemahaman Tersendiri Bahwa Satu Kata atau Kalimat dalam Al-Qur’an Memiliki Beberapa Pengertian

Karena dalam ayat Al-Qur’an banyak juga diungkapkan dengan sebuah kalimat sesingkat-singkatnya namun padat atau disebut dengan i’jaz, mungkin kawan bisa lihat surat Al-Ashri, dan Imam Syafi’i mengungkapkan: “Kalaulah manusia mentadabburi surat Al-Ashri, tentu surat tersebut sudah cukup bagi mereka sebagai pedoman hidup.”

Mungkin ada contoh lain yang ada di dalam Al-Qur’an seperti, Al-Isra’: 16 ; Al-Mujadilah: 5 ; Al-A’raf: 34 dan terakhir At-Taha : 24.

11. Belajar Realita Sahabat Rasulullah dalam Pengalaman Al-Qur’an

Dari Ibnu Mas’ud beliau berkata: “Kami susah dalam menghafal lafadz dari ayat Al-Qur’an, namun ternyata mudah untuk mengamalkannya sedang orang setelah kami nantinya mudah untuk menghafal namun sulit untuk mengamalkannya.”

Selain itu Ibnu Umar beliau pun juga berkata: “Para sahabat diberi keimanan sebelum Al-Qur’an, sehingga Al-Qur’an turun untuk Nabi Muhammad Sallallahu ‘Alaihi wa Sallam menjelaskan detail hukum halal dan haram, kemudian mereka terus berpegang teguh dengan ayat tersebut.”

Bisa ddimisalkan, saat awal turun ayat yang memerintahkan tentang mengalihkan arah qiblat dari Masjidil Aqsha menuju ke Masjidil Haram maka para sahabat nabi pun serentak mengerjakannya dengan sungguh-sungguh dan kemudian penuh ketaatan dari sebuah komitmen yang sudah direncanakan sebelumnya.

12. Mendalami Bahwa Al-Qur’an Tidak Dibatasi dengan Teempat dan Zaman.

13. Mendalami Kolerasi Ayat-ayat dari Al-Qur’an dengan Realita untuk Sekarang Ini.

14. Merasa Bahwa Ayat-ayat Al-Qur’an ditujukan Pada Dirinya.

15. Belajar Al-Qur’an dengan Manhaj Talaqqi dengan Benar (Berhadap-hadapan dengan Guru yang Sudah Diverifikasi Bacaannya, dan Harus Ada Silsilahnya Sampai Menyambung ke Rasulullah SAW).

16. Jauhkan Diri dari Perbedaan-perbedaan Pendapat Para Ahli Tafsir.

2

Memperhatikan Bagaimana Para Sahabat R.A, Berinteraksi dengan Al-Qur’an

www.ilmannafian.com

Para sahabat Rasulullah merupakan sesi generasi yang tumbuh dengan Al-Qur’an, hidup di bawah naungannya, menikmati atau menghayati ayat-ayat dari makna Al-Qur’an, berinteraksi dengan nash-nashnya, serta memahami petunjuk-petunjuknya.

Mereka para sahabat pun disinari oleh cahaya Al-Qur’an, itu juga mereka menjadi generasi Qur’ani yang unik.

Menyelediki bagaimana mereka merelasasikan sebuah Al-Qur’an dalam kehidupan, ini akan membantu kita dalam meneladani mereka para sahabat dan menempuh jalan yang pernah mereka tempuh.

Ibnu Mas’ud R.A beliau berkata:

“Kami sulit menghafal lafadz Al-Qur’an, namun mudah mengamalkannya sedangkan orang setelah kami mudah untuk menghafal namun sulit untuk mengamalkannya.”

Ibnu Umar berkata:

“Kami (para sahabat) menjalani masa yang begitu panjang, dan seseorang diantara kami diberi iman sebelum Al-Qur’an, sehingga surat-surat turun kepada Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, maka beliaupun belajar antara halal dan haram, berikutnya perintah dan larangan serta bagaimana beliau harus bersikap.

Kemudian sayapun (Ibnu Umar) melihat orang yang diturunkan Al-Qur’an sebelum iman, kesimpulannya beliau membaca Al-Fatihah hingga tamat untuk memperdalaminya (khatam), namun beliau tidak tahu apa yang dilarang dan bagaimana harus menyikapinya, beliau pun membaca Al-Qur’an dan menanggapinya dengan buku-buku murahan.”

Berikut yang Bisa Ditiru dari Para Sahabat R.A dalam Berinteraksi dengan Al-Qur’an:

1. Disaat diturunkan Qur’an Surat (2:144). Seseorang berasalkan bani Salamah, yang lewat saat itu orang-orang lagi mengerjakan ruku’ shalat shubuh, merekapun sudah melaksanakan shalat 1 rakaat dan ia pun menyeru: “Qiblat telah dialihkan!” Maka mereka pun dengan sergap berbalik kearah Ka’bah. (H.R Bukhari dan Abu Daud)
“Ibroh atau pelajaran berharga yang dapat diambil: Mereka para sahabat dan perhatian meraka yang tinggi pada setiap ayat yang turun seketika itu.”

2. Disaat diturunkan Qur’an Surat (4:95). Dari Ibnu ummi maktum R.A, beliau bertanya kepada Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam: “Ya Rasulullah, bagaimana dengan orang yang tidak mampu dalam berjihad?” Dan turunlah ayat setelahnya: “Kecuali bagi yang memiliki udzur”. (HR. Bukhari dan Tirmidzi)

“Ibroh atau pelajaran berharga yang dapat diambil: Para sahabat sungguh teliti dan perhatian mereka yang sungguh tinggi pada setiap ayat yang turun.”

3. Disaat diturunkan Qur’an Surat (6:82). Para shahabat Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, mereka pun berkata: “Ya Rasulullah siapa diantara kita yang tidak pernah sekalipun berbuat zalim?

Maka Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menanggapi pertanyaan tersebut dan berkata: “Bukan zalim tersebut yang dimaksud, namun maksudnya yakni syirik, tidaklah kalian mendengar firman Allah SWT. Qur’an Surat (31:13)?” (HR. Bukhari, Muslim dan Tirmidzi).

“Ibroh atau pelajaran berharga yang dapat diambil: Rasa takut mereka para shahabat sungguh luarbiasa terhadap perbuatan dosa, dan tidak menganggapnya itu kecil.”

4. Disaat diturunkan Qur’an Surat (4:123). Abu Bakar R.A beliau pun mengatakan: “Setiap kemaksiatan yang ana lakukan pasti dibalas, maka ana tidak menghasilkan sesuatu untuk bisa melepaskanku dari azab punggungku ini.”

Maka sabda Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam: “Apa yang anda katakan itu ya Abu Bakar?” Abu Bakar R.A menanggapi dan beliau berkata: “Wahai Rasulullah semua dari keburukanku ini pasti dibalas.”

Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menanggapi lagi, dan berkata: “Semoga Allah mengampuni anda Abu Bakar, bukankah anda pernah sakit, kapayahan, sedih dan tertimpa musibah?” Maka Abu Bakar R.A membalas dan berkata: “Ya”, Jawab Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam: “Itulah balasannya.” (HR. Ahmad dalam Al-Musnad)

“Ibroh atau pelajaran berharga yang dapat diambil: Para shahabat R.A merasa setiap ayat Al-Qur’an itu ditujukan kepada diri mereka sendiri tidak selain dirinya.”

5. Disat Abu Thalhah R.A membaca Qur’an Surat (9:41), ia pun berkata: “Allah SWT, sudah memerintahkan kepada yang tua ataupun muda untuk berangkat berjihad.” (HR. At-Thobari)

“Ibroh atau pelajaran berharga yang dapat diambil: Mereka senantiasa mentadabburi setiap ayat-ayat dengan sungguh-sungguh dan berusaha mengamalkannya sekuat tenaga tampah lelah.”

Dirasakan dalam Diri Bahwa Pada Setiap Ayat Ditujukan Kepada Diri Kita

Imam Al-Ghazali dalam bukunya Al-Ihya’ mengungkapkan:

“Merasa bahwa kitalah yang dimaknakan oleh setiap khithob Al-Qur’an. Kalau saja Al-Qur’an memerintah maka diri kitalah yang diperintah, jika Al-Qur’an melarang maka diri kita yang dilarang.

Kalau Al-Qur’an memberi janji maka kitalah yang diberi janji tersebut, dan jika Al-Qur’an sudah mengancam maka diri kita tersebut yang diancam, satu lagi jika Al-Qur’an bercerita maka diri kita yang harus mengambil ibrohnya.

Bahkan kalau saja khithob Al-Qur’an tersebut menyerupai jamak maka diri kita sendiri yang dimaksud (Q.S 6:19). Bagaikan seorag budak yang membaca surat dari majikannya, maka dari itulah bacaan Al-Qura’an akan menambah keimanan dalam diri kita, itizam sebuah komitmen, pengalaman, dan bisa menjadi rijal Qurainy yang memberikan atsar serta manfaat pada dalam diri dan orang lain.”

Disaat membaca Al-Qur’an tidak lantas berfikir alangkah baik, kalau saja disampaikan di dalam kuliah/khutbah/ceramah, dan mungkin media lain. Seolah-olah juga Al-Qur’an ini bukan untuk dirinya, namun untuk orang lain selain dia, sementara itu dirinya sudah baik. “Bisa dicontohkan saat Umar R.A mendengar sseoang sedang membaca surat At-Thuur.”

Tidak menganggap bahwa kisah para Nabi AS itu hanya semara cerita para Nabi AS, arau ayat-ayat hukum itu untuk para pemimpin. Ayat-ayat jihad untuk nanti jika ada jihad tersebut, ayat-ayat dakwah untuk para ‘ulama atau mubaligh dan berkelanjutan lainnya.

3

Memahami Bahwasannya Al-Qur’an Tidak Terbatas dengan Waktu atau Tempat

hellopalembang.com

Dilarang diantara kita membatasi Al-Qur’an hanya berlaku untuk masa tertentu, dan orang tertentu, bahkan kaum tertentu. Ada pengecualian memang adanya dalil-dalil yang jelas untuk apa yang dikhususkan tersebut.

Misal, dalam QS (5:44) bukan khusus untuk bani Isra’il.
Apalagi QS (2:217) bukan dikhususkan untuk orang Quraisy yang memerangi Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, dan ayat berkelanjutan lainnya.

Bisa disimpulkan kita harus faham bahwa kitab suci Al-Qur’an sesuai dengan adanya zaman ini, dan adanya relevansi sungguh kuat. Kita sendiri dapat jawaban tentang ujian selama ini yang dihadapi dan mendapati juga dilihat adanya fenomena yang ada sekarang dibahas dengan benar di Al-Qur’an.

Sebagai permisalan:

  1. Al-Hadid, Ayat 4. Dikatakan dalam ayat ini, mengenai Allah Subhanahu wa Ta’ala selalu senantiasa mengayomi kita sampai sekarang. (Muraqabah dan Ma’iyyatullah).
  2. Al-Anbiya’, Ayat 59-6. Dikatakan dalam ayat ini, mengenai Nabi Ibrahim versus Namrud serta pengikutnya.
  3. Al-Kahfi, Ayat 19-20. DIkatakan dalam ayat ini, mengenai para pemuda dan peranannya,
  4. Al-Qashash, Ayat 4. Dikatakan dalam ayat ini, mengenai Fir’aun, karakteristiknya dan kesesatan dirinya.
  5. Al-Muthafiffin, Ayat 9. DIkatakan dalam ayat ini, mengenai sikap dan sifat orang yang durhaka.
  6. Al-a’raf, Ayat 96. Dikatakan dalam ayat ini, mengenai sunnatullah yang berlaku sepanjang zaman.
  7. An-Nisaa’, Ayat 19. Dikatakan dalam ayat ini, mengenai masalah hubungan rumah tangga.
  8. As-Shaff, Ayat 8 sampai 9. Dikatakan dalam ayat ini, mengenai perang agama.

Kesimpulannya agar lebih dalam memahami seperti surat dan ayat yang dikatakan di atas, kita sendiri dituntut untuk menambah wawasan kita. Apa yang harus dilakukan, yakni dengan tsaqofah (wawasan) yang kontemporer, sehingg kita sendiri akan lebih luas dalam memahami sebuah ayat-ayat Al-Qur’an. Baik itu sejarahnya, politik, ekonomi , sosial, iptek, dan lain seterusnya.

4

Memahami Dasar dari Ilmu Tafsir

rendystore.com

Ada persamaan ilmu bahasa Arab (Nahwu, Sharaf, dan Balaghah), ilmu Fiqh dan hukum-hukumnya, serta ilmu Ushul Fiqh, dan Ulumul Qur’an (Sabab-nuzul, Makkiy-Madany, Nasikh-Mansukh, I’jaz Al-Qur’an, Qashas Al-Qur’an, Qasam, Uslub Al-Qur’an, Ahkam Al-Qur’an, dan banyak lagi).

Beberapa orang ada yang berpendapatan bahwa itu hanya dapat dikuasai oleh orang khusus yang memiliki spesialisasi dalam bidang tersebut, bisa dicontohkan ia harus lulus dari IAIN, LIPIA, atau mungkin ada yang tahu lagi contohnya.

Itu pendapat yang di atas merupakan pemahaman yang salah, karena Al-Qur’an bukan hanya ditujukan kepada kelompok khusus dan tidak untuk dilaksanakan hanya kelompok itu saja, Al-Qur’an kitab suci ini ditujukan seluruh muslimin dan muslimat.

Memahami atau sudah bisa menguasai dalam dasar-dasar ilmu Al-Qur’an tidak sulit dan mungkin mustahil menjadi bisa diwujudkan Inya Allah, meskipun tidak juga sangat mudah seperti membalikkan sebuah tangan kita.

Dan bukan berarti semua dari diri kita harus menjadi ahli tafsir yang mengetahui ilmunya secara terperinci, namun dengan tujuan yakni setiap muslim harus memeliki bekal yang asasi guna untuk memahami dan berinteraksi dengan Al-Qur’an.

“Ya Allah Subhanallah wa Ta’ala, jadikanlah kami Ahlul Qur’an dan jangan Engkau haramkan kepada kami untuk memahami Al-Qur’an, dan berikanlah kepada kami taufik dan hidayah-Mu agar kami senantiasa mampu untuk mengamalkan Al-Qur’an.”

Refensi: Ibnu Al-Farisi.