1. Memahami Al-Qur’an, Dikenal Sebagai Kitab yang Syamil yang berarti Mencakup Seluruh Urusan Kehidupan
Al-qur’an merupakan kitab yang syamil, manhaj (metode kehidupan) hidup yang sempurna, memiliki sebuah tabiat gerak yang hidup, membangun sebuah peradaban yang positif dan tetap berpengaruh hingga akhir zaman dunia.
Sebagian orang terperangkap untuk memandang Al-Quran dalam satu sisi saja, dan bahasa saja, maupun Al-Qur’an hanya dijadikan sebuah jampi-jampi sebagai pengobatan, dan sebagainya yang mungkin engkau tahu.
Kita tidak akan mengingkari bahwa semua hal itu dicakup oleh Al-Qur’an, dan bukan kita tidak mempelajari sebuah bagian-bagian itu semua namun yang tidak diperbolehkan hanyalah menghususkan diri kita pada satu sisi saja.
Nah adapun sebagian ulama yang membahas Al-Qur’an dari sisi akhlaq, ekonomi, sosiologi, tata bahasa, dan lain-lain yang mungkin belum dimengerti. Ini merupakan sebuah usaha yang sangat berharga sekali dan kita tidak bisa mengesampingkannya.
Banybm hendaklah orang yang mempelajari mushaf Al-Qur’an adalah satu kerangka yang menyeluruh, arti menyeluruh yakni dalam tabi’atnya, peranannya, risalah, mukjizat, ilmu, tema-temanya, manhaj, undang-undang serta syari’atnya dan dalam setiap sebuah perkara yang diisyaratkan dalam mushaf Al-Qur’an.
2. Memfokuskan Kepada Tujuan Utama dalam Al-Qu’an Tersebut
Maksudnya, sebagian manusia memakai Al-Qur’an dengan tujuan sampingan, atau tujuan furu’iyah dan bahkan sama sekali tidak disesuaikan dengan tujuan Al-Qur’an diturunkan. Sedemikian rupa Al-Qu’an juga dijadikan untuk perlombaan, Al-Qur’an dibca hanya untuk orang mati saja.
Atau Al-Qur’an hanya diambil barakahnya dengan menjadikan azimat, ruqa’ dan juga tamimah. Bahkan ada juga Al-Qur’an hanya dijadikan sebuah panjangan yang menghiasi rumah, mobil dan tempat-tempat lain.
Sekelompok tersebut juga tidak memakai Al-Qur’an untuk membukakan hati, jiwa, perasaan dan akal dirinya, sehingga hidup dalam dunia tidak sesuai dengan tuntunan benar Al-Qur’an dalam seluruh lapangan kehidupan, baik hidup sendiri, rumah tangga, masyarakat atau tetangga, pendidikan, ekonomi, yayasan-yayasan, negara dan mungkin yang lain.
Tujuan utama dari sebuah Al-Qur’an berkisaran ada empat perkara dalam kehidupan kita, mari simak di bawah ini:
- Al-Qur’an sebagai petunjuk jalan yang lurus menuju jalan-Nya Allah SWT. Bisa di baca (Al-Isra: 9, As-Syura: 52, atau Al-Maidah:15-16).
- Membentuk kepribadian muslim agar seimbang. Diantaranya yakni, mungkin juga ada yang sudah tahu:
- Menanamkan iman yang kuat.
- Membekali akal diri dengan ilmu pengetahuan.
- Memberi arahan dengan tujuan agar bisa memanfaatkan potensi yang tertanam di pribadi, dan sumber-sumber kebaikan yang ada di dunia.
- Menetapkan sebuah undang-undang dengan tujuan setiap umat muslim akan mampu memberikan sumbangsih dan kreatif untuk mencapai sebuah impian dalam kemajuan diri.
- Membentuk masyarkat umat muslim yang benar-benar Qur’ani, dengan maksud mayarakat yang anggotanya terdiri dari orang-orang (penjelmaan Al-Qur’an dalam setiap gerak hidupnya tersebut). Masyarakat yang dengan diasuh dan kemudian dibimbing dengan arahan Al-Qur’an, yang hidup akan di bawah naungannya, dan berjalan di bawah cahayanya, seperti masyarakat sahabat nabi. Bisa di baca (Qur’an Surat, Al-anfak:24).
- Membimbing umat Islam di Dunia dalam memerangi jaman kebodohan (Kejahiliyahan).
3. Memperhatikan Sisi Harakah dalam Menegakkan Berdakwah, Jihad dan Hukum Islam
Maksud dari kalimat tersebut adalah karena Al-Qur’an memiliki sifat waqi’yah harakiyah (perkembangan atau masalah tentang akhir zaman). Ada 4 macam:
Jidiyatul harakiyah.
Harakah dzatu marahil.
Harakah daibah walwail mutajaddidah.
Syari’at, dalam mengatur hubunggan antar kelompok bukan agama islam.
4. Menjaga Suasana Pemikiran Agar Selalu Ada dalam Bingkai Topik yang Dimasalahkan
Wahai kerabat muslimin dan muslimat disaat membaca Al-Qur’an diperbolehkan dengan tujuan memperdalam satu ayat dari sisi ilmu pengetahuan serta sisi tata bahasa atau yang lain, namun alangkah baiknya perasaan, pemikiran, penghayatannya dan perhatian yang dituju tetap pada pokok pemikiran ayat yang lagi dibaca tersebut.
Maka dari pembahasan no.4 ini, diberi pembahasan tentang “Menjaga suasana pemikiran agar selalu ada dalam bingkai topik permasalahan yang terkandung dalam ayat setiap yang dibaca.”
5. Menjauhi Hal yang Menyimpang, Bisa Menghalangi Cahaya Al-Qur’an
Dalam hal ini dapat dimisalkan tenggelam dalam suatu perbedaan pendapat mengenai qiraat, i’rab, balaghah, asal kata, atau perbedaan-perbedaan masalah dalam pembelajaran fiqih, dan ada lagi seperti mempertentangkan tokoh, daerah, tanggal kisah-kisah yang dicerminkan dalam Al-Qur’an.
Bisa dicontohkan lagi mempertentangkan asal kata Malaikat, pertanyaan jumlah Ashabul Kahgi ada berapa dan mungkin kerabat juga tahu. Bukan berarti ini juga tidak boleh diberlakukan, boleh dikerjakan hanya orang-orang yang terpilih dalam ilmu penafsiran saja.
6. Menjauhkan Israliyyat atau Cerita-cerita Palsu dan Menjauhi dari Mempersalahkan Ayat-ayat yang Mutasyabihat
7. Mendalami Al-Qur’an tanpa Adanya Asumsi dan Opini Tertentu
Maksud dari perkataan ini adalah hal-hal untuk menjauhkan agar makna-makna ayat Al-Qur’an tidak dipaksakan dengan sebuah tujuan dengan sepahaman asumsi yang sudah dia pegang dan berusaha juga untuk menemukan legitimasi atas pendapat yang ia miliki dan tidak mempelajari Al-Qur’an untuk meluruskan dalam sepahaman dirinya sendiri saja.
Seperti apa yang dikerjakan sahabat Rasulullah apabila saat mereka membaca Al-Qur’an mereka melepaskan seluruh keyakinan dan sebuah persepsi shabat yang mereka pegang saat dalam masa jahiliyah dulu.
8. Tsiqah Secara Mutlak Terhadap Semua Petunjuk, Perintah, Larangan dan Berita yang Diungkap dalam Al-Qur’an
9. Memahami Isyarat-isyarat yang Terdapat dalam Al-Qur’an
Bila kita membaca Al-Qur’an di dalamnya ada sebuah rahasia-rahasia arti yang terkandung, dan tidak akan dipahami, kecuali orang-orang yang sudah mempunyai kunci-kunci agar bisa berinteraksi dengan Al-Qur’an dan ia sendiri memiliki bashirah, atau seperti limpahan keimanan dan kesiapan untuk hidup di bawah naungan atau perlindungan Al-Qur’an.
Atau dimiripkan dengan ayat keimanan agar mendorong orang untuk merasa diawasi oleh Allah SWT, dan membaca tentang akhir zaman atau biasa kita sebut qiamat. Seketika itu hatinya tergerak untuk takut akan balasan (adzab) Allah SWT yang sangat pedih.
Selanjutnya dirinya sendiri mampu memahami hubungan antara ayat satu dengan ayat yang lain, dan itu pun ayat tersebut diturunkan ke dalam senggang waktu yang cukup jauh.
10. Memiliki Pemahaman Tersendiri Bahwa Satu Kata atau Kalimat dalam Al-Qur’an Memiliki Beberapa Pengertian
Karena dalam ayat Al-Qur’an banyak juga diungkapkan dengan sebuah kalimat sesingkat-singkatnya namun padat atau disebut dengan i’jaz, mungkin kawan bisa lihat surat Al-Ashri, dan Imam Syafi’i mengungkapkan: “Kalaulah manusia mentadabburi surat Al-Ashri, tentu surat tersebut sudah cukup bagi mereka sebagai pedoman hidup.”
Mungkin ada contoh lain yang ada di dalam Al-Qur’an seperti, Al-Isra’: 16 ; Al-Mujadilah: 5 ; Al-A’raf: 34 dan terakhir At-Taha : 24.
11. Belajar Realita Sahabat Rasulullah dalam Pengalaman Al-Qur’an
Dari Ibnu Mas’ud beliau berkata: “Kami susah dalam menghafal lafadz dari ayat Al-Qur’an, namun ternyata mudah untuk mengamalkannya sedang orang setelah kami nantinya mudah untuk menghafal namun sulit untuk mengamalkannya.”
Selain itu Ibnu Umar beliau pun juga berkata: “Para sahabat diberi keimanan sebelum Al-Qur’an, sehingga Al-Qur’an turun untuk Nabi Muhammad Sallallahu ‘Alaihi wa Sallam menjelaskan detail hukum halal dan haram, kemudian mereka terus berpegang teguh dengan ayat tersebut.”
Bisa ddimisalkan, saat awal turun ayat yang memerintahkan tentang mengalihkan arah qiblat dari Masjidil Aqsha menuju ke Masjidil Haram maka para sahabat nabi pun serentak mengerjakannya dengan sungguh-sungguh dan kemudian penuh ketaatan dari sebuah komitmen yang sudah direncanakan sebelumnya.
12. Mendalami Bahwa Al-Qur’an Tidak Dibatasi dengan Teempat dan Zaman.
13. Mendalami Kolerasi Ayat-ayat dari Al-Qur’an dengan Realita untuk Sekarang Ini.
14. Merasa Bahwa Ayat-ayat Al-Qur’an ditujukan Pada Dirinya.
15. Belajar Al-Qur’an dengan Manhaj Talaqqi dengan Benar (Berhadap-hadapan dengan Guru yang Sudah Diverifikasi Bacaannya, dan Harus Ada Silsilahnya Sampai Menyambung ke Rasulullah SAW).
16. Jauhkan Diri dari Perbedaan-perbedaan Pendapat Para Ahli Tafsir.
2
Memperhatikan Bagaimana Para Sahabat R.A, Berinteraksi dengan Al-Qur’an
Para sahabat Rasulullah merupakan sesi generasi yang tumbuh dengan Al-Qur’an, hidup di bawah naungannya, menikmati atau menghayati ayat-ayat dari makna Al-Qur’an, berinteraksi dengan nash-nashnya, serta memahami petunjuk-petunjuknya.
Mereka para sahabat pun disinari oleh cahaya Al-Qur’an, itu juga mereka menjadi generasi Qur’ani yang unik.
Menyelediki bagaimana mereka merelasasikan sebuah Al-Qur’an dalam kehidupan, ini akan membantu kita dalam meneladani mereka para sahabat dan menempuh jalan yang pernah mereka tempuh.
Ibnu Mas’ud R.A beliau berkata:
“Kami sulit menghafal lafadz Al-Qur’an, namun mudah mengamalkannya sedangkan orang setelah kami mudah untuk menghafal namun sulit untuk mengamalkannya.”
Ibnu Umar berkata:
“Kami (para sahabat) menjalani masa yang begitu panjang, dan seseorang diantara kami diberi iman sebelum Al-Qur’an, sehingga surat-surat turun kepada Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, maka beliaupun belajar antara halal dan haram, berikutnya perintah dan larangan serta bagaimana beliau harus bersikap.
Kemudian sayapun (Ibnu Umar) melihat orang yang diturunkan Al-Qur’an sebelum iman, kesimpulannya beliau membaca Al-Fatihah hingga tamat untuk memperdalaminya (khatam), namun beliau tidak tahu apa yang dilarang dan bagaimana harus menyikapinya, beliau pun membaca Al-Qur’an dan menanggapinya dengan buku-buku murahan.”
Berikut yang Bisa Ditiru dari Para Sahabat R.A dalam Berinteraksi dengan Al-Qur’an:
1. Disaat diturunkan Qur’an Surat (2:144). Seseorang berasalkan bani Salamah, yang lewat saat itu orang-orang lagi mengerjakan ruku’ shalat shubuh, merekapun sudah melaksanakan shalat 1 rakaat dan ia pun menyeru: “Qiblat telah dialihkan!” Maka mereka pun dengan sergap berbalik kearah Ka’bah. (H.R Bukhari dan Abu Daud)
“Ibroh atau pelajaran berharga yang dapat diambil: Mereka para sahabat dan perhatian meraka yang tinggi pada setiap ayat yang turun seketika itu.”
2. Disaat diturunkan Qur’an Surat (4:95). Dari Ibnu ummi maktum R.A, beliau bertanya kepada Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam: “Ya Rasulullah, bagaimana dengan orang yang tidak mampu dalam berjihad?” Dan turunlah ayat setelahnya: “Kecuali bagi yang memiliki udzur”. (HR. Bukhari dan Tirmidzi)
“Ibroh atau pelajaran berharga yang dapat diambil: Para sahabat sungguh teliti dan perhatian mereka yang sungguh tinggi pada setiap ayat yang turun.”
3. Disaat diturunkan Qur’an Surat (6:82). Para shahabat Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, mereka pun berkata: “Ya Rasulullah siapa diantara kita yang tidak pernah sekalipun berbuat zalim?
Maka Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menanggapi pertanyaan tersebut dan berkata: “Bukan zalim tersebut yang dimaksud, namun maksudnya yakni syirik, tidaklah kalian mendengar firman Allah SWT. Qur’an Surat (31:13)?” (HR. Bukhari, Muslim dan Tirmidzi).
“Ibroh atau pelajaran berharga yang dapat diambil: Rasa takut mereka para shahabat sungguh luarbiasa terhadap perbuatan dosa, dan tidak menganggapnya itu kecil.”
4. Disaat diturunkan Qur’an Surat (4:123). Abu Bakar R.A beliau pun mengatakan: “Setiap kemaksiatan yang ana lakukan pasti dibalas, maka ana tidak menghasilkan sesuatu untuk bisa melepaskanku dari azab punggungku ini.”
Maka sabda Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam: “Apa yang anda katakan itu ya Abu Bakar?” Abu Bakar R.A menanggapi dan beliau berkata: “Wahai Rasulullah semua dari keburukanku ini pasti dibalas.”
Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menanggapi lagi, dan berkata: “Semoga Allah mengampuni anda Abu Bakar, bukankah anda pernah sakit, kapayahan, sedih dan tertimpa musibah?” Maka Abu Bakar R.A membalas dan berkata: “Ya”, Jawab Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam: “Itulah balasannya.” (HR. Ahmad dalam Al-Musnad)
“Ibroh atau pelajaran berharga yang dapat diambil: Para shahabat R.A merasa setiap ayat Al-Qur’an itu ditujukan kepada diri mereka sendiri tidak selain dirinya.”
5. Disat Abu Thalhah R.A membaca Qur’an Surat (9:41), ia pun berkata: “Allah SWT, sudah memerintahkan kepada yang tua ataupun muda untuk berangkat berjihad.” (HR. At-Thobari)
“Ibroh atau pelajaran berharga yang dapat diambil: Mereka senantiasa mentadabburi setiap ayat-ayat dengan sungguh-sungguh dan berusaha mengamalkannya sekuat tenaga tampah lelah.”
Dirasakan dalam Diri Bahwa Pada Setiap Ayat Ditujukan Kepada Diri Kita
Imam Al-Ghazali dalam bukunya Al-Ihya’ mengungkapkan:
“Merasa bahwa kitalah yang dimaknakan oleh setiap khithob Al-Qur’an. Kalau saja Al-Qur’an memerintah maka diri kitalah yang diperintah, jika Al-Qur’an melarang maka diri kita yang dilarang.
Kalau Al-Qur’an memberi janji maka kitalah yang diberi janji tersebut, dan jika Al-Qur’an sudah mengancam maka diri kita tersebut yang diancam, satu lagi jika Al-Qur’an bercerita maka diri kita yang harus mengambil ibrohnya.
Bahkan kalau saja khithob Al-Qur’an tersebut menyerupai jamak maka diri kita sendiri yang dimaksud (Q.S 6:19). Bagaikan seorag budak yang membaca surat dari majikannya, maka dari itulah bacaan Al-Qura’an akan menambah keimanan dalam diri kita, itizam sebuah komitmen, pengalaman, dan bisa menjadi rijal Qurainy yang memberikan atsar serta manfaat pada dalam diri dan orang lain.”
Disaat membaca Al-Qur’an tidak lantas berfikir alangkah baik, kalau saja disampaikan di dalam kuliah/khutbah/ceramah, dan mungkin media lain. Seolah-olah juga Al-Qur’an ini bukan untuk dirinya, namun untuk orang lain selain dia, sementara itu dirinya sudah baik. “Bisa dicontohkan saat Umar R.A mendengar sseoang sedang membaca surat At-Thuur.”
Tidak menganggap bahwa kisah para Nabi AS itu hanya semara cerita para Nabi AS, arau ayat-ayat hukum itu untuk para pemimpin. Ayat-ayat jihad untuk nanti jika ada jihad tersebut, ayat-ayat dakwah untuk para ‘ulama atau mubaligh dan berkelanjutan lainnya.