Sepak bola adalah keindahan, skema permainan antar pemain yang harmoni bagai memandang orkestra di lapangan. Sepak bola adalah seni, gocekan-gocekan maut bak penari yang menari-nari di rumput hijau.
Sepak bola adalah kecerdasan, teknik mengolah si kulit bundar, strategi meraih kemenangan, semuanya membutuhkan olah pikir yang tak sembarangan.
Sepakbola adalah sportivitas, mengakui kekalahan, menerima keputusan wasit, memberi bantuan kepada lawan bertanding, semuanya mengesankan itu. Semangat boleh memanas, tapi pikiran tetap harus dingin.
Keindahan, kesenian, kecerdasan, dan sportivitas, sungguh sangat tidak masuk akal jika sepak bola lalu dimaknai sebagai perang antar suporter, militansi berani mati dan mencelakai pihak lawan.
Inilah gambaran mayoritas suporter di Indonesia, mereka jauh dari kata dewasa jika tidak ingin disebut ‘kolot’. Bentrokan dan pengroyokan seakan menu sehari-hari dalam pemberitaan sepak bola nasional.
Salah satu yang menyebabkan sering terjadinya bentrokan, karena adanya rivalitas abadi antar kelompok suporter. Diawali dari gengsi dua klub di lapangan, merambah sampai kepada permusuhan supporter.
Biasanya rivalitas dua suporter ini karena ada beberapa faktor, seperti sesama tim besar dalam satu regional dan provinsi atau dendam permusuhan lama yang membesar.
Apa saja rivalitas suporter yang paling sengit di Indonesia, berikut daftaranya.