Ayah Bunda, Hindari Cara Mendidik Anak Berikut Ini

Anak adalah inveatasi masa depan. Anak yang baik akan menjadi harapan dan kebanggaan ayah bunda di hari tua. Sebaliknya, anak yang membangkang dan memiliki masa depan suram, adalah beban ayah bunda hingga ajal menjemput.

Padahal pertanggungjawaban anak tak selesai di hari tua. Pertanggungjawaban ini juga akan dipertanyakan di akhirat kelak. Oleh karena itu masalah mendidik anak bukanlah sesuatu yang sembarangan.

Fitrah semua orang tua memberikan apapun yang terbaik untuk anak. Baik dalam hal materi, pengasuhan, dan pendidikan. Namun tanpa ilmu, mustahil ayah bunda dapat memberikan semua hal yang terbaik.

Di zaman sekarang bukan hanya ayah yang sibuk bekerja di luar rumah. Tak sedikit sosok bunda yang juga memainkan peran sebagai wanita karir. Alhasil selain intensitas bertemu dengan anak sedikit, bunda juga sudah lelah sesampai di rumah.

Urusan mengasuh anak hanya mendapatkan sisa-sisa tenaga yang dimiliki. Bukan tidak mungkin mendidik anak juga dengan sisa-sisa kesabaran setelah berkativitas di luar seharian.

Sadar atau tidak sadar beberapa hal di bawah ini sering dilakukan ayah bunda untuk mendidik anak menjadi penurut. Secara instan dan kasat mata memang anak menjadi penurut.

Namun beberapa hal dibawah ini memiliki dampak yang tidak baik di masa depan.

Memerintah

www.tentremhipnoterapi.com

“Pokoknya bunda gak mau tahu. Kamu harus segera mandi dan makan sarapanmu sebelum jam 6. Ayah bunda keburu terjebak macet di jalan. Kalau telat dan gaji ayah bunda dipotong, kamu mau makan apa? Sana cepetan mandi!”

Dialog mirip seperti ini bukan tidak mungkin kamu praktekan di rumah. Perintah, perintah, dan perintah adalah cara praktis memberikan instruksi kepada anak.

Sebenarnya tak masalah memberikan perintah kepada si kecil. Namun cara penyampaiannya harus dengan baik. Beban perintahnya juga disesuaikan dengan kemampuan anak.

Sebagai contoh kasus bangun kesiangan diatas. Bunda dengan lembut membangunkan anak dan memberikan perintah. “Nak sudah siang ayo mandi. Tidak baik kalau terlambat datang ke sekolah. Bunda bantu siapkan sarapan dan seragam sekolah kamu ya.”

Menyalahkan

www.baliherbaldetox.com

“Salah sendiri kamu tidak menyimpan barang-barang pada tempatnya. Syukurin mainan kamu keinjak dan rusak. Bunda gak mau beliin kamu mainan lagi kalau kamu terus-terusan teledor.”

Melakukan kesalahan adalah sesuatu yang wajar dilakukan semua orang. Namun menyalahkan anak seolah-olah dia tidak pernah bersikap benar bukan hal yang bijaksana. Anak akan merasa rendah diri dan tidak berguna.

Bunda cukup menunjukan kesalahan anak dan memberikan solusi perbaikan sikapnya di masa depan.

Sebagai contoh pada kasus diatas katakan hal seperti ini, “Nak lain kali taruh barang-barang pada tempatnya ya. Kalau rusak seperti ini kamu jadi gak bisa mainan lagi. Besok bunda belikan mainan yang sama namun kamu harus lebih hati-hati menyimpannya ya.”

Meremehkan

“Sudah seharusnya kamu mendapat nilai 80 pada ulangan matematika. Bunda sudah bayar guru les mahal.”

Sering kali ayah bunda menyepelekan pencapaian yang didapatkan anak. Meskipun bagi ayah bunda pencapaian tersebut adalah hal kecil, namun bagi anak hal tersebut adalah penting dan besar dalam hidupnya.

Mereka juga berusaha keras untuk mendapatkannya. Hargai setiap pencapaian yang diperoleh anak meskipun dengan pujian sederhana. “Wah anak bunda pinter, nilai matematikanya 80. Besok belajar lagi ya Nak biar bisa dapat nilai 100.”

Membandingkan

www.satunkriku.blogspot.com

“Kamu itu pemalas, anak bodoh. Coba kamu seperti kakak kamu yang selalu jadi juara kelas. Boro-boro kamu bisa jadi juara kelas, nilai Bahasa Inggris aja selalu jeblok.”

Setiap anak memiliki keistimewaan. Meskipun lahir dalam rahim yang sama dan sperma yang sama, namun potensi yang dimiliki anak tidak bisa disamakan. Oleh karena itu ayah bunda sebaiknya menghindari membanding-bandingkan anak dengan orang lain.

Tinggalkan komentar