2 Cara Sederhana untuk Menjadi Guru yang Baik

Penelitian untuk menemukan cara menjadi guru yang baik

Seorang peneliti bernama Dr. Ethna Reid penasaran akan hal yang paling memengaruhi seorang anak hingga mampu membaca di masa awal sekolahnya. saat itu Dr. Reid baru saja menyelesaikan pendidikan doktoralnya dan sedang memberi kuliah kepada guru-guru tentang cara-cara memperbaiki buruknya kebiasaan membaca siswa.

Jika diamati sekilas teori-teori yang ia ajarkan masuk akal, namun belum ada data di lapangan yang mendukung teori tersebut. Dr. Reid berpendapat ia harus meneliti pengaruh dari metode-metode yang ia gunakan. Dr. Reid menelepon sekolah lokal untuk menanyakan apakah ada data siswa tentang kemampuan membaca.

Ternyata sekolah tersebut telah memiliki data selama 20 tahun. Terlebih lagi, sekolah tersebut telah melakukan penelitian terhadap data tersebut. Hasilnya cukup informatif namun menyedihkan. Berdasarkan ujian di kelas 1 SD, sekolah dapat memprediksi seberapa baik murid-murid dapat belajar di sekolah tersebut saat kelas 3 SD, kelas 1 SMP, dan seterusnya. Dr. Reid terkejut. Terlalu mengerikan jika keberhasilan seseorang di sekolah dapat diprediksi hanya dengan melihat nilai ujian kelas 1 SD-nya dan tidak ada hal yang dapat kita lakukan agar prestasi seseorang meningkat di tahun-tahun belajar berikutnya.

Titik balik penelitan

 

cara menjadi guru yang baik - ethna reid peneliti tentang guruDr. Reid beranggapan pasti ada guru-guru yang mulanya mendidik murid yang tertingggal namun mampu membuat sang murid berhasil dalam belajar. Jika memang benar ada, apa yang membedakan guru-guru yang berhasil dan yang tidak?

Dr. Reid pun mulai mempelajari data yang ada hingga dia menemukan adanya guru yang membuat muridnya mampu mengejar ketertinggalan setelah lulus dari kelasnya. Bahkan ada siswa yang menjadi sangat berhasil dalam belajar di kelas. “Guru-guru ini dapat mengalahkan prediksi,” kata Dr. Reid. “murid-muridnya mengalahkan model statistik. Kami juga mampu menemukan guru-guru dengan murid yang kinerjanya lebih buruk dari perkiraan setelah 1 tahun belajar di bawah bimbingannya.”

“Saya penasaran apa yang membedakan kedua kelompok guru ini,” lanjut Dr. Reid, “saya pun mengumpulkan guru-guru dengan memiliki murid yang mengalahkan perkiraan statistik dan menanyakan metode apa yang mereka gunakan sehingga murid-murid dapat membaca lebih baik dari perkiraan. Guru-guru itu tidak tahu apa sebenarnya yang membuat mereka berhasil. Setelah itu saya mengumpulkan guru-guru dengan murid yang membaca lebih buruk dari perkiraan lalu blak-blakan bertanya: ‘Apa yang kalian lakukan sehingga menghambat anak-anak belajar?’ Setelah ruangan hening beberapa saat, mereka mengaku bahwa mereka juga tidak tahu.”

Selama 5 tahun berikutnya, Dr. Reid dan timnya mengamati kedua kelompok guru untuk mencari tahu kebiasaan apa yang menentukan sang guru berhasil mendidik muridnya atau tidak. Selain dari sekolah tersebut, tim Dr. Reid mempelajari sekolah-sekolah di berbagai lokasi seperti Maine, Massachusetts, Michigan, Tennessee, Texas, North Caroline, South Carolina, Nebraska, Washington, Virginia, Hawaii, Alabama, dan California.

Mereka juga mengamati guru-guru dari berbagai mata pelajaran, berbagai jenis murid, berbagai ukuran dan kapasitas sekolah, ataupun jumlah dana yang mereka miliki. Reid dan timnya menyusun, mengumpulkan, dan mempelajari data setiap kebiasaan mengajar yang mampu mereka temukan. Tujuannya adalah untuk menentukan kebiasaan mengajar yang paling vital dalam membuat siswanya berhasil.

Hasil penelitian tentang kriteria guru yang baik

 

cara menjadi guru yang baik murah pujianHasilnya, Dr. Reid mempublikasikan kebiasaan yang paling membuat seorang guru berhasil. Tim Dr. Reid telah membuktikan bahwa kebiasaan ini dapat berlaku untuk guru dalam segala usia, gender, lokasi geografis, mata pelajaran, dan hal-hal lainnya. Kebiasaan pertama seorang guru yang vital adalah penggunaan pujian bukan hukuman.

Guru-guru terbaik memberikan pujian jauh lebih sering daripada guru yang buruk. Saat mengajar, guru-guru yang kinerjanya buruk seringkali mematahkan semangat siswa dengan gerutuan seperti, “Bukannya baru tadi saya ajarkan? Kok kamu udah lupa sih.” Guru-guru terbaik mendukung siswa-siswa bahkan yang prestasi belajarnya biasa-biasa saja sehingga kebiasaan belajar pun tumbuh. Guru-guru terbaik memuji bukan hanya dari hasil ujian, namun dari setiap perkembangan yang murid lewati untuk menjadi lebih baik. Proses belajar yang murid-murid jalani.

Kebiasaan guru yang vital lainnya adalah guru-guru terbaik sering mengubah-ubah cara mengajar dari menerangkan ke bertanya kepada murid-muridnya atau berbagai bentuk ujian lainnya. Ketika diperlukan, mereka segera memperbaiki kesalahan muridnya.

Guru-guru yang kinerjanya buruk menghabiskan waktu menjelaskan pelajaran secara membosankan lalu membiarkan siswanya belajar sendiri, seringkali membiarkan siswa yang mengulangi kesalahan yang sama.

2 Cara Sederhana untuk Menjadi Guru yang Baik

cara menjadi guru yang baikPenelitian Ethna Reid menyimpulkan bahwa untuk menjadi guru yang baik ternyata yang paling utama adalah menanamkan 2 kebiasaan.

  1. Perbanyak memuji siswa, hindari mematahkan semangat belajar siswa dengan gerutuan dan
  2. memvariasikan metode mengajar antara metode menerangkan dan metode bertanya,  segera perbaiki kesalahan murid jika ada.

Metode ini dapat berhasil di belahan dunia manapun, termasuk di Indonesia. Oleh karena itu, bagi guru yang ingin murid-muridnya mampu lebih baik dalam menguasai pelajaran, persering menggunakan metode ini. Bagi orang tua yang ingin anak-anaknya dapat belajar dengan baik di sekolah, carilah sekolah dengan guru yang memiliki 2 kebiasaan tersebut.

Guru-guru dengan 2 kebiasaan ini mampu mengalahkan statistik dan membuat muridnya senang belajar di sekolah. Di rumah, orang tua juga dapat menggunakan 2 kebiasaan tersebut untuk mendidik anak. Dengan 2 kebiasaan sederhana ini, setiap anak akan kembali kepada fitrahnya, manusia yang cerdas.

Sumber: Patterson, Kerry. Influencer: The Power to Change Anything

Bacaan lebih lanjut: On Teaching Reading: A Conversation with Ethna Reid

Tinggalkan komentar