Panduan Lengkap Cara Menyusui yang Benar: Mulai Dari Menyusui Dini Sampai Masalah yang Biasa Terjadi

Menyusui adalah proses yang alami. Namun cukup banyak ibu baru yang merasa kesulitan menjalani prosesnya.

Kalau Bunda mengalami kebingungan untuk menyusui, berikut ini panduan lengkap cara menyusui yang benar. Panduan ini membahas mulai dari menyusui dini sampai berbagai posisi yang bisa Bunda gunakan untuk menyusui.

Satu Jam Pertama Setelah Melahirkan: Menyusui Dini

Kalau Bunda memang sudah merencanakan untuk menyusui, suster atau bidan akan menempatkan bayi Bunda di atas payudara Bunda. Hal ini akan membantu uterus Bunda kembali ke ukuran sebelum hamil dan juga mengeluarkan plasenta.

Stimulasi puting dari isapan bayi Bunda akan menyebabkan uterus berkontraksi. Kontraksi ini akan meremas plasenta secara lembut sehingga terpisah dari dinding uterus. Biasanya dibutuhkan 2 sampai 5 kontraksi untuk memisahkan plasenta.

Secara alamiah, oksitosin diproduksi saat bayi disusui. Oksitosin ini membantu kontraksi uterus, sehingga kehilangan darah dan risiko pendarahan lebih bisa dikendalikan.

sFakta: bayi yang baru lahir secara alamiah tertarik untuk menyusui. Bayi bisa mudah fokus pada areola Bunda.

Bayi menyundul puting secara agresif untuk membuatnya ereksi sehingga lebih mudah menempel saat menyusui. Bayi juga mampu merangkak mendekati payudara pada satu jam pertama setelah melahirkan dan jug amengingat wangi ASI Bunda.

Selama bidan dan suster sibuk mengurus plasenta, menggunting tali pusar, menjahit robekan di perineum, Bunda dan bayi akan saling berkenalan lewat kontak yang kaya akan sentuhan.

Bunda akan menghitng jari tangan dan kakinya. Sang bayi akan mengingat wangi khas Bunda. Penelitian menunjukkan bahwa bayi  bisa mengenali ibunya hanya dari wangi ASI.

Bayi Bunda juga akan memenuhi kebutuhan refleks menghisapnya.

Di Rumah Sakit

Kalau di tempat melahirkan Bunda ada konsultan laktasi, mereka akan menunjukkan cara menyusui yang tepat. Sebisa mungkin rekam cara yang ditunjukkan oleh konsultan laktasi ini.

Tanya

Tidak ada pertanyaan yang bodoh atau sepele. Kalau jawabannya  mengambang atau Bunda belum mengerti, minta konsultan laktasi untuk menjelaskan dengan bahasa yang llebih mudah dipahami.

Jangan ragu meminta klarifikasi kalau ada yang belum jelas. Minta suami Bunda untuk mencatat.

Perhatikan

Amati dan perhatikan saat konsultan laktasi mendemonstrasikan posisi dan langkah-langkah untuk memangku bayi ke payudara Bunda.

Bunda akan mendapat kesempatan untuk latihan menyusui beberapa kali sebelum meninggalkan rumah sakit. Pengulangan ini akan sangat berguna.

Membaca artikel tentang cara menyusui dan melihatnya secara langsung tentu sangat berbeda.

Dengarkan

Konsultan laktasi akan membagikan informasi penting. Fokus, tatap matanya, dan dengarkan aktif perkataannya. Bayangkan di dalam pikiran Bunda saat konsultan laktasi menjelaskan prosesnya.

Latihan

Latihan lagi dan lagi. Kita menyerap 90% pelajaran saat kita mempraktikan dan juga membicarakannya pada saat yang bersamaan.

Latih tiap langkah dan deskripsikan apa yang Bunda lakukan dan jelaskan mengapa langkah itu penting.

Kalau bayi sedang bersama dengan Bunda, coba sambil susui. Ini akan meningkatkan suplai ASI dan juga membantu Bunda mengingat pelajaran menyusui yang diberikan.

Jangan lupa tanyakan pompa ASI yang sesuai pada konsultan laktasi.

Di Rumah

Saat Bunda pertama kali pulang ke rumah bersama bayi, bisa jadi Bunda merasa agak gugup untuk menyusui sendiri. Perasaan tegang ini sangat normal saat Bunda melakukan sesuatu untuk pertama kalinya, termasuk menyusui.

Tenangkan diri. Tanamkan rasa percaya diri bahwa Bunda bisa melakukannya.  Butuh pembiasaan diri di beberapa minggu pertama. Namun Bunda pasti akan sudah menguasai cara menyusui yang tepat begitu konsultasi pascamelahirkan yang pertama.

Kapankah Sebaiknya Menyusui?

Beberapa bulan ke depan, Bunda akan mendapatkan banyak nasihat tentang cara menyusui bayi. Bunda akan ditanya apakah Bunda menyusui “sesuai jadwal” atau “tergantung kebutuhan.”

Sesuai jadwal biasanya berarti ada jam-jam menyusui. Tergantung kebutuhan berarti sesuai siklus biologis bayi. Beberapa hari setelah melahirkan, Bunda akan melakukan keduanya.

Frekuensi menyusui

Seberapa sering Bunda menyusui akan ditentukan oleh bayi Bunda. Dia tidak akan mengalami obesitas saat dewasa jika Bunda membiarkannya mengikuti ritme tubuhnya.

Tidak ada salahnya menyusui sesuai permintaan bayi. Menyusui sesuai permintaan bayi juga akan menghasilkan suplai ASI yang melimpah.

Bayi tahu kapan perutnya merasa lapar dan akan memberikan “kode” lapar saat dia siap untuk makan. Sederhananya, bayi makan saat lapar dan berhenti setelah kenyang. Satu-satunya jam yang bayi pedulikan adalah jam biologis tubuhnya.

Hati-Hati!

Kalau setelah seminggu bayi Bunda masih terus-terusan tidur, bawa dia ke dokter atau bidan untuk memeriksa penyakit kuning.

Kalau bayi memiliki gejala berikut ini: makannya sedikit, kulitnya kuning, putih matanya menguning, urinnya merah bata atau gelap, atau kotorannya pucat, bayi Bunda bisa jadi membutuhkan cahaya bilirubin untuk terapinya.

Bayi pada seminggu pertama sering tidur, apalagi jika ada konsumsi obat selama proses melahirkan. Kalau bayi tidak bangun sendiri setiap 2-3 jam dalam seminggu pertama, Bunda perlu membangunkannya untuk menyusui.

Setelah seminggu pascamelahirkan, bayi bunda akan lebih sering bangun dan mulai menyesuaikan diri dengan ritme tubuhnya.

“Kode” Lapar dari Sang Bayi

Selama beberapa hari pertama, Bunda akan menyadari kalau tidak ada jadwal. Bayi memiliki ukuran gas internalnya sendiri. Tubuhnya akan memberi tahu kapan dia lapar dan akan bayi tunjukkan lewat kode lapar.

Bayi Bunda siap untuk makan saat menunjukkan perilaku ini:

  • Mendekatkan kepalan tangannya ke mulutnya
  • Mulai mengisap kepalan tangan atau jarinya
  • Menggerak-gerakkan kepalanya untuk mencari puting Bunda
  • Menunjukkan peningkatan aktivitas atau lebih banyak bergerak
  • Lebih banyak bersuara

Menangis adalah tanda kalau dia sudah sangat lapar. Kalau Bunda menunggu sampai bayi menangis, Bunda sudah menunggu terlalu lama. Mengidentifikasi kode awal-awal lapar adalah bagian penting dari belajar “membaca” kebiasaan bayi.

Antisipasi kalau bayi akan lapar saat dia terbangun,a tau saat dia menunjukkan kode-kode ini.

Seberapa Lamakah Sebaiknya Menyusui?

Berikan salah satu payudara dulu. Begitu bayi selesai, berikan payudara satunya lagi.

Ada yang menyarankan bayi disusui selama 10 menit untuk tiap payudara. Namun penelitian akhir-akhir ini menyarankan Aturan 10 Menit ini tidak begitu tepat.

Komposisi ASI berubah-ubah dalam tiap waktu menyusui. Sementara itu bayi membutuhkan ASI di yang pertama dan terakhir keluar dari payudara Bunda.

ASI yang lebih awal keluarnya lebih cepat, jumlahnya lebih banyak, kandungan proteinnya lebih tinggi, dan rendah lemak. Sementara itu ASI yang terakhir keluar itu kalori dan lemaknya lebih tinggi, namun jumlahnya lebih sedikit.

Ini seperti hidangan utama dan pencuci mulut. Bayi membutuhkan keduanya.

Ganti-ganti payudara yang mula-mula diberikan. Bayi Bunda bisa jadi lebih memilih salah satu payudara dibanding yang lainnya. Itu normal. Kesukaannya ini bisa jadi dipengaruhi oleh posisi Bunda memangkunya, aliran ASI, atau berbagai faktor lainnya.

Bunda juga bisa jadi lebih memilih salah satu payudara dibanding payudara lainnya. Namun Bunda masih tetap perlu mengganti urutan pemberian payudara untuk memastikan suplai ASI yang baik.

Penting! Banyak pakar yang bilang bahwa Bunda perlu memberi ASI selama 15 menit untuk tiap payudara. Namun yang perlu Bunda perhatikan itu bayi Bunda, bukan jam di dindiing. Jauh lebih penting bayi Bunda yang menentukan lamanya menyusui daripada mengikuti batasan waktu 15 menit tersebut.
Susui selama yang bayi inginkan. Biasanya rata-rata 15-30 menit pada beberapa minggu pertama. Kalau bayi Bunda menyusui sangat lama pada salah satu payudara, bisa jadi ini pertanda kalau mulutnya tidak menempel dengan baik atau ada masalah dengan suplai ASI Bunda.

Yang pasti, tiap bayi menyusui dengan caranya sendiri. mirip seperti makan es krim. Ada yang menjilatnya perlahan-lahan. Ada juga yang langsung gigit dan telan.

Biasanya butuh maksimal 20 menit untuk “mengosongkan” salah satu payudara. Beberapa bayi akan terus mengisap untuk menenangkan dirinya.

ASI sangat mudah dicerna. Itulah sebabnya bayi ASI eksklusif menyusui lebih sering daripada bayi yang diberi formula.

Dalam beberapa minggu pertama, bayi Bunda akan menyusui dalam jumlah sedikit, namun lebih sering. Kelak, bayi Bunda akan menyusui lebih banyak dalam satu waktu, sehingga frekuensi menyusui menjadi berkurang.

Percepatan pertumbuhan biasanya terjadi sekitar usia 3 minggu, 6 minggu, 3 bulan, dan 6 bulan. Percepatan pertumbuhan ini biasanya terjadi selama 7-10 hari. Pada waktu-waktu ini, Bunda akan mengamati kalau bayi menyusui lebih banyak dan lebih sering.

Sering-sering menyusui bukan hanya memuaskan bayi Bunda, namun juga memberi sinyal pada tubuh Bunda untuk membuat lebih banyak ASI untuk memenuhi kebutuhan pertumbuhan bayi.

Dasar-Dasar Memangku Bayi ke Payudara Bunda

Kelak, menyusui akan terjadi secara alami baik untuk Bunda maupun sang bayi. Sampai Bunda menguasai teknik-tekniknya, ikuti langkah sederhana berikut ini agar berhasil menyusui.

Bersedia

Ingat-ingat untuk selalu mencuci tangan sebelum menyusui. Kelenjar Montgomery akan menjaga supaya puting tetap bersih. Namun penting juga agar tangan Bunda tetap higienis saat menangani payudara dan bayi Bunda.

Jangan lupa siapkan air minum. Menyusui bisa membuat Bunda kehausan.

Cari tempat nyaman yang akan menjadi lokasi menyusui Bunda setiap harinya: sofa, kursi, atau ranjang. Gunakan bantal untuk menjadi sandaran siku, lengan, dan punggung Bunda.

Gunakan benda tebal seperti buku atau tumpukkan pakaian untuk jadi tempat bersandar kaki Bunda. Bunda perlu merasa nyaman selama menyusui.

Siap-Siap

Pangku agar bayi dekat denganmu, antara dada dan payudara. Gunakan posisi yang paling nyaman untuk Bunda dan sang bayi.

Tubuh bayi akan menghadap Bunda. Gunakan bantal untuk mengangkatnya ke payudara Bunda. Bantal menyusui, bantal tidur, selimut, atau selendang bayi bisa Bunda gunakan.

Selama bayi dekat dengan payudara, pastikan telinga, pundak, dan panggul bayi sejajar membentuk garis lurus.

Penting! Bawa bayi mendekati payudara, bukan payudara mendekat ke byi. Jangan menunduk untuk menawarkan payudara. Tetapi dengan stu tangan membuai kepala bayi, lengan bawah mengangkat punggung dan panggulnya. Tangan lainnya memegang payudara, menarik bayi mendekati Bunda.
Sokong payudara dengan jari-jari membentuk huruf C. Ini seperti saat memegang hamburger, hanya saja terbalik. Saat kita makan hamburger, kita menggunakan tangan kita untuk memegang sesuai bentuknya. Prinsip yang sama digunakan di sini.

Sokong payudara dengan ibu jari di belakang areola dan beban payudara disandarkan ke tangan. Setelah beberapa lama, Bunda tidak akan perlu terus memegang selama proses menyusui. Namun kalau payudara Bunda besar atau berat, sokongan tangan ini akan sangat membantu.

Kalau tangan Bunda terasa canggung, tempatkan handuk yang digulung di bawah payudara Bunda.

Mulai Menyusui

Buat agar bayi membuka mulutnya selebar mungkin, layaknya dia sedang menguap. Bunda bisa menggelitiki pipi atau bawah bibirnya untuk merangsang refleksnya kalau dibutuhkan.

Dalam satu ayunan, tarik bayi ke arah Bunda untuk meletakkannya di payudara. Pusatkan puting di lidah bayi. Arahkan puting ke langit-langit mulutnya. Sentuhkan daguna ke payudara.

Menempelkan mulut bayi dengan tepat adalah aspek terpenting yang menentukan keberhasilan menyusui. Ini membutuhkan cukup banyak latihan.

Bayi perlu memasukkan seluruh puting dan sebagian besar areola ke dalam mulutnya. Kalau Bunda memiliki areola yang besar, pastikan kalau bukan hanya puting saja, tapi sekitar 2,5 cm areola masuk ke dalam mulutnya.

Menempelkan itu tidak simetris. Biasanya areola akan terlihat di bagian atas payudara daripada bagian bawahnya. Perhatikan di mana bibir bagian bawahnya yang tersentuh.

Rahang bagian bawahlah yang mengisap ASI selama dia menekan sinus ASI. Puting seharusnya ada di lidahnya. Kalau terasa aneh atau sakit, tarik bibir bagian bawah untuk melihat apakah posisi lidahnya tepat sejajar gusi bagian bawah bayi.

Kalau Bunda tidak bisa melihatnya, atau Bunda mendengar bunyi klik selama dia menyusui, bisa jadi bayi bayi mengisap lidahnya juga selain payudara. Lepaskan sesaat dan posisikan ulang.

Bayi akan mengisap pyting ke belakang tenggorokannya. Saat bayi menggerakkan rahang bawahnya untuk mengisap sinus ASI, ASI akan menetes ke belakang tenggorokannya. Ini mirip seperti saat kita mengisap jempol.

Ceklis Menempel Saat Menyusui

bayi menempel di payudara dengan tepat
bayi menempel di payudara dengan tepat
  • Apakah bayi memasukkan seluruh bagian puting dan sekitar 2,5 cm areola ke dalam mulutnya?
  • Setelah ASI keluar, apakah Bunda bisa mendengar bayi menelan?
  • Apakah bayi mengikuti pola “isap, isap, isap, telan”?
  • Apakah Bunda mendengar bunyi klik yang menandakan menempel tidak secara tepat?
  • Apakah Bunda mengamati pergerakan di rahang sampai ke telinganya (telinga bergoyang)?
  • Apakah daerah pelipisnya (ujung kiri kanan dahi) bergerak?
  • Apakah bibirnya terbalik di sekitar puting?

Kalau Bunda merasa sakit (selain merasa kesemutan), lepaskan dan posisikan ulang. Jika bayi hanya memasukkan putingnya saja, lepaskan dan posisikan ulang. Kalau ada yang terasa aneh, lepaskan dan posisikan ulang.

Hati-Hati! Bayi mengunyah puting disebabkan karena menempel mulut dengan tidak tepat. Mengunyah puting ini menjadi penyebab utama lecet pada puting. Lepaskan isapan, sendawakan bayi, ganti popoknya, baru susui lagi.
Menyusui harusnya tidak terasa sakit. Kalau bayi Bunda berada tepat pada areola, Bunda seharusnya hanya merasakan tarikan sebentar. Rasa nyeri seringkali terjadi akibat mengunyah puting. Kalau ini terjadi terus-menerus, bisa mengakibatkan lecet pada puting.

Melepaskan Isapan Bayi

melepaskan isapan bayi
melepaskan isapan bayi

Melepaskan isapan dilakukan dengan memasukkan jari Bunda ke dalam mulut bayi, tepatnya di pipi bagian dalam. Kaitkan puting dengan jari dan keluarkan saat Bunda menjauhkan payudara dari mulut bayi.

Bisa jadi bayi mencoba untuk menempel kembali, namun dia tidak akan bisa kalau jari Bunda menutupi puting. Kalau Bunda membiarkan bayi menggeser-geser puting saat masih mengisap, puting bisa lecet.

Melepaskan isapan akan terjadi dengan mulus setelah Bunda mencobanya beberapa kali.

Isap, Isap, Isap, Telan

Bayi menyusui dengan ritme tertentu. Mulanya bayi mengisap dengan stabil dan agak agresif untuk menstimulus refleks pengeluaran ASI. Begitu rahang bergerak naik turun mengisap sinus payudara untuk mengeluarkan ASI, Bunda akan mengamati pola menyusui bayi Bunda.

Bisa jadi dia akan mengisap sekitar 4-10 kali, berhenti selama sekitar 5-10 detik, lalu melanjutkan pola ini selama 3-5 menit.

Pola ini menstimulasi pelepasan ASI bagian paling belakang. Begitu ini terjadi, Bunda akan mendengar bayi menelan.

Ritmenya berubah menjadi isap, isap, isap, telan, berhenti, isap, isap, isap, telan, berhenti. Begitu proses menyusui berjalan, ASI keluar lebih cepat.

Aliran keluarnya ASI terkadang di luar kendali bayi. Bunda bisa jadi melihat ASI menetes keluar dari mulutnya atau bayi batuk dan bernapas terengah-engah.

Kalau bayi kesulitan,lepaskan bayi danjauhkan agar mudah baginya untuk menelan. Baru lanjutkan menyusui lagi. Selepas beberapa menit, Bunda akan mengamati bayi mengisap lebih pelan dan berhenti lebih lama di jeda antar isapan.

Begitu bayi lelah dan mulai mengantuk, akan ada beberapa jeda yang sangat lama. Begitu Bunda mencoba melepaskan bayi dari menyusui atau menstimulasi pipinya, dia hampir selalu akan mulai mengisap lagi.

Nyeri

Mulanya, Bunda akan merasakan nyeri yang disebabkan oleh kontraksi rahim saat mulai menyusui bayi. Bunda bisa jadi merasakan semburan darah di pembalut pada saat yang bersamaan.

Dengan stimulasi puting, rahim melepaskan darah berlebih. Kontraksi ini juga mengembalikan ukuran rahim menjadi kembali seperti sebelum kehamilan.

Kalau sekarang ini bayi kedua atau ketiga Bunda, kontraksi yang Bunda rasakan bisa terasa lebih kuat dari sebelumnya. Gunakan pola pernapasan yang Bunda latih saat kelas edukasi melahirkan. Kontraksi ini akan mereda setelah beberapa minggu.

Mengakhiri Menyusui

Saat bayi sudah selesai menyusui dari salah satu payudara, buat dia sendawa, ganti popoknya jika dibutuhkan, baru tawarkan payudara kedua.

Bisa jadi bayi tidur sebelum menyelesaikan ppayudara kedua. Jadi ingatlah untuk memulai dari payudara yang satu ini pada saat sesi menyusui berikutnya.

Untuk membantu mengingat sisi kiri atau kanan yang terakhir dipakai untuk menyusui, Bunda bisa mengenakan cincin di sisi yang belum selesai. Bunda juga bisa menempelkan pin yang aman ke bra.

Posisi Menyusui

Seiring berjalannya waktu, Bunda dan bayi akan mendapatkan teknik yang sesuai bagi Bunda. Bunda juga akan menemukan posisi yang lebih disukai setelah beberapa kali latihan.

Ada yang menggunakan posisi yang berbeda untuk sisi payudara yang berbeda. Yang terpenting adalah Bunda merasa paling nyaman. Berikut ini beberapa posisi yang bisa Bunda gunakan.

Posisi Buaian

Posisi buaian adalah posisi yang paling umum digunakan di beberapa minggu setelah melahirkan. Kebanyakan ibu baru biasanya sangat hati-hati saat memangku anaknya. Ibu-ibu baru ini memilih posisi yang membuatnya punya lebih banyak kontrol.

Dalam posisi buaian, seperti di semua posisi menyusui lainnya, telinga, bahu, dan panggul bayi perlu membentuk garis lurus. Dada bayi juga perlu menyentuh payudara.

Dada menyentuh payudara berarti Bunda mengarahkan bayi ke dalam sehingga dada bayi rata dengan payudara (terkadang kakinya akan ada di ketiak Bunda kalau bayi sangat aktif).

Gunakan bantal untuk menyamankan bayi di pangkuan Bunda. Kepala dan mulut bayi perlu berada di tinggi yang sama dengan puting.

Posisi menyusui buaian (kiri) dan buaian menyilang (kanan)
Posisi menyusui buaian (kiri) dan buaian menyilang (kanan)

Posisi Buaian Menyilang

Ini adalah cara bagus lainnya yang paling sering digunakan saat mempelajari seni menyusui. Buaian menyilang memberi Bunda kendali yang maksimal sat memegang bayi dan mendekatkannya ke payudara.

Kalau Bunda menyusui di sebelah kanan, letakkan tangan kiri di belakang kepala bayi menggunakan ibu jari dan telunjuk di belakang telinga. Leher bayi bersandar di antara ibu jari, telunjuk dan telaapak tngan Bunda.

Telapak tangan Bunda diposisikan di antara tulang belikat di bahu bayi. Sementara itu tangan kanan menyokong payudara membentuk huruf C.

Gunakan bantal untuk menjadi sandaran bayi dan lengan Bunda. Begitu menempel, pastikan mulut bayi dekat dan sejajar dengan puting. Saat bayi membuka mulut, dekatkan dia dengan puting menggunkn telapak tangan yang berada di antara tulang belikat bayi.

Posisi Memegang Bola

Posisi ini cocok bagi yang melahirkan dengan operasi cesa, berpayudara besar, atau bayinya prematur. Kebanyakan bayi yang baru lahir juga meras nyaman dalam posisi ini.

Posisikan dada dan perut bayi di daerah tulang rusuk Bunda. Bunda akan menyandarkan kepala bayi dengan tangan dan punggung bayi di sepanjang lengan, seperti saat melakukan posisi buaian menyilng. Namun kali ini bayi berada di samping Bunda dn kakinya diselipkan ke bawah lengan Bunda.

Tetap sokong payudara dengan tangan satunya lagi membentuk huruf C .

Posisi memegang bola
Posisi memegang bola

Posisi Berbaring

Banyak ibu menggunakan posisi berbaring untuk menyusui bayinya di malam hari atau saat harus bed rest karena alasan kesehatan. Di posisi ini, Bunda bisa membawa bayi ke kasur bersama Bunda dna menyusuinya sambil berbaring.

Baik Bunda maupun bayi berbaring saling berhadapan, dada ke payudara. Bayi dipangku dengan lengan Bunda, kepalanya ada di lekukan siku Bunda. Punggung bayi disandarkan dengan lengan yang Bunda gunakan untuk menyusui.

Panggul, bahu, dan telinga bayi membentuk garis lurus. Gunakan bantal untuk sandaran kepala, punggung, dan kaki Bunda selama proses menyusui.

Kalau Bunda merasa gugup mencoba posisi ini di malam hari, latih berkali-kali saat siang hari sampai Bunda merasa nyaman. Gulung handuk atau selimut untuk menjadi tempat sandaran bayi.

posisi berbaring
posisi berbaring

Posisi Di Atas Bahu Dan Tengkurap

Kalau payudara Bunda besar atau berat, posisi ini dapat mempermudah menyusui. Dalam posisi tengkurap, Bunda terbaring dengan punggung berada di atas alas atau kasur. Bayi diposisikan perut ketemu perut, kepala bayi di payudara, jari kakinya ada pada arah yang sama dengan jari kaki Bunda.

Posisi ini membuat bayi lebih mudah menempel ke payudara. Posisi ini bisa sangat membantu bagi bayi yang mengalami kesulitan menempel atau bagi ibu yang ASI-nya keluar dengan sangat cepat. Posisi ini juga membantu meningkatkan kemampuan refleks bayi.

Posisi di atas bahu juga membuat bisa menempel dengan baik. Berbaring datar dengan punggung Bunda di atas alas atau kasur. Bayi diposisikan di atas bahu sehingga perut bayi sejajar dengan bahu Bunda.

Bayi diposisikan dengan muka berpaling ke bawah di depan puting. Kalau Bunda memiliki payudara yang besar dan meragukan kemampuan untuk melakukan aktivitas ini, bicaralah dengan konsultan laktasi. Dia akan membimbing Bunda menyesuaikan posisi yang bisa menyukseskan proses menyusui.

Dengan menggunakan berbagai posisi, Bunda akan mendapat posisi yang tepat dan bisa mengosongkan ASI dengan lebih efisien. Ini bisa mengurangi risiko pembuluh yang tersumbat.

Seiring berjalannya waktu, Bunda dan bayi akan mendapat pola menyusui yang paling tepat untuk Bunda. Ingat bahwa posisi yang tepat untuk satu sisi payudara bisa jadi tidak ideal bagi sisi yang lainnya.

Sendawa Setelah Menyusui

Bayi yang menyusui biasanya mengisap lebih sedikit udara dibanding yang minum formula. Namun semua bayi perlu dibantu sendawa. Jika tidak, bayi akan menangis saat udara menumpuk di perutnya.

Berikut ini beberapa cara yang umum digunakan saat membantu bayi sendawa.

  • Sendawa di atas bahu: pegang bayi yang disandarkan ke dada Bunda dengan kepalanya di atas bahu Bunda. Pijat atau tepuk-tepuk punggung bayi dengan lembut sampai keluar sendawa.
  • Sendawa duduk tegak: dudukkan bayi di lutut dan bantu dia bersandar dengan membuka telapak tangan Bunda di dadanya. Gunakan sela-sela ibu jari dan telunjuk untuk menyokong dagunya. Tangan satunya lagi menyokong punggung bayi sembari menepuk-nepuk punggungnya dengan lembut agar bayi sendawa.
  • Sendawa di atas pangkuan: bayi berbaring di atas perutnya dan di pangkuan Bunda. Tepuk-tepuk atau pijat-pijat punggungnya sampai bayi sendawa. Hati-hati jangan sampai kaki Bunda bergerak-gerak karena akan menggoyangkan perut bayi.

Sendawa seharusnya berjalan perlahan dan lembut. Menepuk dan memijat perlahan akan menghasilkan sendawa yang baik dalam waktu beberapa menit.

Posisi sendawa: di atas bahu (kiri), duduk tegak (tengah), di atas pangkuan (kanan)
Posisi sendawa: di atas bahu (kiri), duduk tegak (tengah), di atas pangkuan (kanan)

Bayi Meludah

Walau bayi yang mendapat ASI lebih jarang meludah dariyang mendapat susu formula, bayi terkadang masih akan mengeluarkan ASI kembali.

Jangan kaget kalau terkadang bayi memuntahkan lagi ASI. Kelihatannya memang dia memuntahkan semua ASI yang dia ambil tapi seringkali tidak sebanyak yang tampak. Bunda perlu melaporkan tiap muntahan yang terjadi ke dokter.

Itulah panduan cara menyusui dari kami, selamat menyusui dengan benar.

Tinggalkan komentar