Chomsky Tidak Percaya Suara Media Massa Besar, Terlalu Pro-Pemerintah AS Katanya, Bagaimana dengan Kamu?

Percayakah kamu dengan apa yang kamu lihat dan dengar dari media?

Media yang membuat demokrasi menjadi demokratis itu perlu memenuhi 2 fungsi ini:

  1. Media harus melaporkan berita secara apa adanya, lengkap, dan tidak memihak
  2. Media harus berfungsi sebagai pembela masyarakat melawan penguasa yang menyalahgunakan kekuasaannya

Noam Chomsky mengutarakan bahwa media tidak memenuhi satu pun dari dua hal tersebut (dan ya, termasuk situs yang sedang Anda baca ini). Chomsky memandang media massa besar tidak lebih dari industri penyambung lidah orang kaya dan penguasa.

Media lebih cenderung menjual kepada publik daripada memberi publik informasi. Dengan mendalami poin ini, kita bisa mendapat gambaran yang lebih akurat tentang cara kerja media. Tapi, apa sebenarnya yang media coba jual pada kita?

Tapi sebelum lebih lanjut membicarakan teori Chomsky tentang media massa. Ada satu hal yang perlu kita bahas. Apakah kamu tahu siapa itu Chomsky?

Siapa itu Chomsky?

socialactive.wordpress.com
socialactive.wordpress.com

Avram Noam Chomsky adalah salah satu penulis yang paling banyak dikutip. Bahkan Chicago Tribune memberi gelar pada Chomsky sebagai “penulis yang masih hidup yang namanya paling sering disebut.” New York Times menyebutnya “intelektual paling berpengaruh yang masih hidup.”

Jumlah kutipannya berada di peringkat 8, tepat di bawah Plato dan Sigmund Freud. Nama Plato dan Freud pasti sering kamu dengar. Tapi Chomsky? Siapa itu Chomsky? Kalau dia memang terkenal, mengapa Chomsky jarang kita dengar.

Kalau kamu tidak tahu Chomsky, wajar sekali. Dalam buku Chomsky for Beginner, David Cogswell mengutarakan bahwa penyebabnya adalah tuan-tuan yang memiliki jaringan media massa utama tidak ingin kamu tahu tentang seorang pria bernama Noam Chomsky.

Makin penasaran tidak dengan pria yang satu ini?

Chomsky media massaProfesor santun yang mengajarkan ilmu linguistik di Massachusetts Institutes of Technology ini dianggap memiliki pemikiran yang “berbahaya”, apalagi jika terlalu banyak orang yang menerima pemikiran Chomsky tentang korporasi besar yang menyetir negara (terutama Amerika Serikat), dunia, partai politik, dan media utama. Jika hal ini sampai terjadi, fantasi manis yang dicekokan pada kita tentang Amerika mungkin hilang tertiup angin.

Uniknya, Chomsky ini tidak seperti intelektual lain. Umumnya filsuf membuat kita sebagai orang awam merasa semakin bodoh saat mendengar gagasannya. Tapi Chomsky ini bisa membuat kita merasa pintar.

Mengapa? Karena secara intuitif kita bisa memahami prinsip-prinsip dasar yang melandasi pandangan-pandangan Chomsky, namun kita tidak bisa menjelaskannya. Kita mungkin tidak memahami secara utuh sistem yang mengontrol hidup kita, namun banyak dari kita yang menyadari kebenaran penting walau sulit mengartikulasikannya. Berikut ini gagasan Chomsky tentang media massa.

Ilmu propaganda, ilusi yang dibutuhkan

Dalam buku Necessary Illusions: Thought Control in Democratic Societies, Chomsky mengumpulkan sejarah propaganda, hubungan masyarakat, dan berbagai strategi yang digunakan oleh orang-orang yang beranggapan bahwa mereka berhak mengontrol pemikiran dan opini masyarakat tanpa masyarakat sadari.

Chomsky mewanti-wanti walau TV dan koran sering menggunakan kalimat luhur seperti  “demokrasi,” “kapitalisme,” “kebebasan berbicara,” dan “persamaan derajat,” kita jarang mendengar apa sebenarnya makna yang media maksud saat menuliskan kata itu dan juga peranannya dalam hidup kita.

Chomsky bukan hanya membuka tabir propaganda, dia juga membantu kita melihat kecacatan dalam gaya berpikir kita. Dengan begitu, kita bisa menemukan kebenaran di balik apa yang kita amati.

Buku Necessary Illusions ini mempunyai subjudul yang kontradiktif sebenarnya. Thought Control in Democratic Societies. Bukankah di masyarakat demokratis, semua orang memiliki hak suara yang sama? Lalu mengapa ada thought control alias kontrol pikiran? Apalagi di negara tempat tinggal Chomsky, Amerika Serikat, yang sangat mengagung-agungkan jargon “demokrasi.”

Thought control itu wajar jika ada di negara totaliter seperti Uni Soviet dulu, Jerman zaman Nazi, Korea Selatan, atau Kuba. Tapi di negara yang mengaku demokrasi seperti Amerika Serikat?

Kita bebas untuk berpikir apa yang kita mau, membaca apa yang kita mau, dan mendengar apa yang kita mau, tentu setelah sadar memahami konsekuensi dari “kemauan” kita itu. Apalagi di negara demokrasi. Itulah sebabnya istilah “kontrol pikiran” menjadi sangat aneh jika dihubungkan dengan negara yang mengaku demokratis.

zoneofthefree.blogspot.com
zoneofthefree.blogspot.com

Chomsky tidak menerima begitu saja kata-kata media massa. Ia mengajukan beberapa pertanyaan tentang media massa:

  1. Apa fungsi dari media komunikasi dalam masyarakat demokratis?
  2. Demokrasi seperti apa yang kita inginkan?
  3. Apa arti demokrasi?

Apa arti demokrasi menurut media massa?

http://izquotes.com/
http://izquotes.com/

Chomsky menjawab pertanyaan ini dengan mereferensikan perkataan pendiri Amerika Serikat. Ada 2 pandangan berbeda di Amerika tentang arti demokrasi dan kebebasan pers.

Hakim Mahkamah Agung Amerika serikat, William Powell, mengungkapkan peranan media dalam demokrasi: demokrasi mensyaratkan kebebasan untuk mendapatkan informasi.

Powell mengutarakan, “Tidak satu pun individu yang dapat memperoleh sendiri informasi yang dibutuhkan untuk melaksanakan tanggung jawab politiknya… Dengan memampukan publik untuk menjalankan kontrol penting atas proses politik, pers memainkan fungsi krusial dalam memengaruhi tujuan sosial…”

Merujuk ke pendapat Powell, setiap warga negara seharusnya mempunyai kesempatan untuk mendapat kan informasi bagi dirinya sendiri. Bukan hanya itu, tiap warga negara berhak mendapat kesempatan penyelidikan, diskusi, dan formasi kebijakan, serta mengajukan program-program mereka melalui aksi politik.

Amerika Serikat menganggap hal ini sudah menjadi keyakinan umum. Chomsky mengungkapkan ternyata tidak seperti itu.

James Mill mengungkapkan pandangan alternatif mengenai tujuan media. Ia mengungkapkan peran media adalah untuk “melatih pemikiran orang-orang atas kasih mulia pemerintah mereka.” Kalimat ini menjadi sangat kejam jika pemerintahnya tidak begitu memikirkan rakyatnya sendiri. Chomsky menambahkan argumen Mill, peran media ini yaitu untuk menata ketertiban sosial, ekonomi, dan politik secara umum.

Jika pandangan Mill ini benar, maka apa yang media utarakan itu memang akan sesuai yang menguasainya. Tidak heran jika demokrasi menjadi hanya untuk kalangan elit. Media pun menjadi bertugas untuk melatih pemikiran orang-orang agar percaya pada kebajikan para bandit elit yang memimpin mereka.

chomsky media mengatur opini publikApakah ini buruk? Belum tentu juga, ini tergantung bagaimana para “bandit elit” ini menjalankan negara. Dalam beberapa kasus kontrol pikiran justru berakibat baik. Namun begitu negara pro-bandit elit ini masih menyebut dirinya demokrasi, patut dipertanyakan niatnya.

John Jay mengungkapkan bahwa “mereka yang memiliki negara seharusnya menjalankannya.” Menanggapi hal ini, Chomsky berujar, “ungkapan John Jay pada kenyataannya merupakan prinsip  yang melandasi pendirian dan pengelolaan republik.” Ia juga mengungkapkan, “pada hakikatnya, demokrasi kapitalis tidak jauh dari pola ini.”

Chomsky mengutarakan pinsip ini berakibat politik menjadi suatu interaksi antarkelompok investor yang bersaing untuk mengontrol negara.

Pakar humas Edward Bernays mengatakan bahwa rayuan adalah inti dari proses demokrasi. Bernays mengungkapkan, “Seorang pemimpin seringkali tidak perlu menunggu sampai rakyat mengerti… Para pemimpin yang demokratis harus memainkan peran mereka dalam… merekayasa… persetujuan untuk meraih tujuan-tujuan sosial yang membangun.” Apa maksudnya merekayasa persetujuan?

Jurnalis Walter Lippamn menuliskan bahwa “pembuatan persetujuan” menghasilkan “suatu revolusi dalam praktik demokrasi” dan menjadi “organ sekuler dan seni kesadaran diri dari pemerintah populer.”

Lipman mengungkapkan, “Kepentingan umum akan meminggirkan opini publik sepenuhnya, dan dapat diatur oleh kelas  tetentu yang kepentingan pribadinya menjangkau melampaui lokalitas.”

Harold Laswell meminta kita untuk berhati-hati pada keyakinan “dogmatisme demokrasi bahwa manusia merupakan penilai terbaik atas kepentingannya sendiri.” Kaum elit yang menganggap diri sebagai penguasa harus berada dalam kondisi yang bisa memaksakan kehendak dan jika kondisi sosial tidak memungkinkan digunakannya kekuatan, maka “semua teknik baru untuk mengontrol, teurtama melalui propaganda,” diperlukan untuk memastikan kepatuhan karena “kebodohan dan takhayul (dari) massa.”

Reinhold Niebuhr, inspirator presiden Amerika Serikat Jimmi Carter, menjadi sumber kutipan yang Chomsky pilih untuk menjadi judul bukunya. “Masyarakat pada umumnya mudah dibodohi” sehingga mereka harus dicekoki “ilusi seperlunya” dan “penyederhanaan yang menggugah emosi,” bukannya kebenaran.

Sejarahwan Amerika Serikat, Thomas Bailey, mengatakan “karena rakyat biasanya berpandangan sempit dan umumnya tidak akan menyadari bahaya kalau tidak di dekat leher sendiri, pemimpin kita terpaksa memperdayai mereka agar menyadari kepentingannya dalam jangka panjang. Penipuan terhadap rakyat mungkin memang kian diperlukan, kecuali kita rela memberikan kekuasaan penuh kepada para pemimpin kita di Washington.”

Ringkasan pandangan Chomsky tentang demokrasi, politik, dan media

dw.com
dw.com

Demokrasi

  • Para pemimpin kita menganggap kita terlalu dungu untuk menjadi penilai dari kepentingan terbaik kita sendiri
  • Mereka percaya bahwa demokrasi hanya untuk kaum elit, yakni yang kaya dan berkuasa
  • Mereka percaya bahwa “siapa yang memiliki negara seharusnya yang mengaturnya”

Politik

  • Politik itu bukan mengenai pemilihan atau demokrasi
  • Politik adalah suatu interaksi antarkelompok investor yang bersaing untuk mengendalikan negara

Media

  • Media massa tidak lebih dari industri humas bagi orang kaya dan berkuasa
  • Tugas media adalah “melatih pikiran orang” untuk mempercayai kebijaksanaan para bandit penguasa yang mengatur mereka

Tentu konteks Chomsky tentang pemimpin, politik, dan media adalah di Amerika Serikat. Bagaimana dengan Indonesia? Chomsky menyarankan agar kita jangan langsung percaya pendapat media. Ia juga menyarankan agar kita tidak langsung mempercayai pendapat Chomsky juga. Jangan juga langsung percaya tulisan ini, yang ditulis oleh media juga, walau bukan media besar.

Jadilah media yang kritis, yang aktif mempertanyakan ulang pesan-pesan yang kita terima sehari-hari.

Tinggalkan komentar