Cerita Soulmate #1: Mencari Cinta di Tempat yang Salah

“Kalau ga tau harus ngejawab apa, bilang aja cinta. Karena cinta ga pernah salah.”

Ungkapan seperti itu sering diungkapkan sebagai lelucon satir (yang bilangnya tampaknya menyenandungkan “sakitnya tuh di sini juga”). Begitu mempercayai konsep takdir, salah satu konsekuensinya adalah ada cinta sejati bagi setiap orang.

Cinta sejati yang sudah ditakdirkan itu tidak pernah salah, karena memang sudah Sang Pencipta gariskan. Masalahnya ada pada pelaku cinta itu, apakah ia sudah jujur dengan perasaannya dengan pasangan jiwanya?

Melanjutkan artikel Soulmate, kali ini akan saya ceritakan ulang kisah Carolyn Godschild Miller dalam mencari pasangan jiwanya. Cerita ini saya buat jadi sedikit fiksi karena mengubah detail-detail tertentu yang terlalu bertentangan dengan nilai-nilai saya. Namun, esensi ceritanya saya usahakan tetap tersampaikan apa adanya. Untuk itu, nama tokoh-tokohnya sedikit saya ubah.

Kisah Karolin dalam pencarian pasangan jiwanya

firstcover.com
firstcover.com

Seperti banyak orang yang tumbuh di keluarga yang disfungsi, aku selalu memandang kalau hubungan intim itu rumit dan membuat frustrasi. Di awal usia 40-an, aku sudah berusaha sekeras mungkin saat hubungan percintaan menyakitkan tanpa pernah menemukan pasangan jiwa yang kuimpi-impikan.

Setiap hubungan dimulai dengan harapan yang tinggi, namun hanya untuk berakhir dengan kekecewaan dan patah hati. Pria yang kucintai, ternyata tidak mencintaiku. Atau setidaknya, aku merasa dia tidak cukup mencintaiku. Sementara itu pria yang mencintaiku, aku tidak mencintainya. Atau setidaknya lagi-lagi, aku tidak cukup mencintainya.

Waktu itu tidak ada tanda-tanda kalau nasibku akan berubah. Hubunganku dan pacarku waktu itu, Bren, juga menjadi kurang lebih sama. Aku sudah bersama pria mengagumkan ini selama setahun. Kami benar-benar mesra dan dia bilang kalau dia cinta padaku.

Namun walau masa-masa menakjubkan yang kami berdua bagi bersama, kebanyakan waktu Bren habis oleh pekerjaannya. Kami juga tidak bersama sesering yang aku inginkan.

Bulan demi bulan berlalu, hubungan kami tak juga membaik. Saya harus menghadapi fakta kalau saya bukanlah prioritas utama dalam hidup Bren.

Aku sangat terobsesi akan hubungan kami. Aku selalu mencoba mencari cara untuk membuat Bren melihat betapa sempurna kami berdua saat bersama. Sangat konyol dan absurd sebenarnya, bagaimana bisa pria sukses, sensitif, dan spiritual ini tidak menyadari kalau ia telah salah mementingkan kariernya daripada hubungan kami? Bagaimana bisa dia tidak mengerti kalau hidup itu esensinya untuk berbagi cinta, bukan mencari uang?

Kemungkinan kalau aku bukanlah yang Bren cari dalam diri seorang wanita adalah salah satu hal yang tidak siap untuk saya pikirkan matang-matang.

Bukan, ini pasti tentang Bren yang salah memilih prioritas hidup! Ini bukan salahku!

Semuanya aka jadi sempurna begitu aku bisa “memperbaiki” pemahaman Bren. Tak ayal lagi, saat itu aku bukan mencoba untuk langsung mengubah pikiran pacarku ini. Kusadari kalau aku tak perlu bertanya pada Bren akan syarat yang ia minta. Kalau ia mau, pasti ia sudah beri tahu aku.

Kupikir strategi terbaik adalah membuat Bren merasa kalau ia membutuhkanku. Pada saat yang bersamaan, kucoba kuyakinkan dia kalau ia salah karena sudah ragu-ragu untuk berkomitmen.

Di sisi lain, dia juga dapat melihat betapa menyenangkannya waktu berlalu saat kita. Bukan hanya itu, dia juga akan melihat kalau aku ini adalah calon istri ideal yang tidak banyak menuntut—tidak demanding. Sementara itu, saya akan cari cara halus untuk menunjukkan padanya betapa aku merasa terluka oleh pengabaian yang ia lakukan.

Kupikir akan ada banyak waktu untuk menanyakan Bren apa yang ia pikirkan begitu aku yakin akan apa yang mau kudengar darinya. Saat ini, aku coba lanjutkan memberi kesan kalau aku tidak peduli kalau hubungan kami memang tidak akan pernah ke mana-mana.

Bagaimana kelanjutan hubungan kisah Karolin dan Bren? Simak di artikel berikut ini.

Tinggalkan komentar