6 Alasan Mengapa Film 3 Alif Lam Mim Ditakuti Oleh Kalangan Tertentu

Film memang bagian dari entertainment dan ditujukan untuk hiburan masyarakat. Namun, disisi lain film juga menjadi media paling efektif untuk menyampaikan pesan moral serta inspirasi bagi banyak orang.

Bahkan film juga sering menjadi alat politik untuk membentuk opini masyarakat. Contohlah beberapa sejarah film di jaman Orde Baru seperti G 30 S PKI dan Serangan Umum 1 Maret.

Selain film sejarah yang menceritakan kisah masa lalu, ada juga film yang mengisahkan tentang proyeksi masa depan. Salah satu film yang bergenre seperti itu adalah Tiga: Alif Lam Mim yang dirilis pada tahun 2015 lalu.

Film garapan sutradara muda Anggy Umbara ini bahkan menjadi satu-satunya film yang indonesia yang begenre futuristik, yakni sebuah tatanan sosial politik Indonesia di tahun 2036.

Film ini mendapat sambutan luas sebelum penayangan perdananya. Namun ternyata masa tayang di bioskop hanya singkat, membuat banyak orang menaruh kecurigaan film 3 sengaja dihambat karena mengganggu agenda kelompok kepentingan.

Apalagi saat ditayangkan di televisi pertama kali oleh NET TV, banyak adegan penting yang dipotong setelah menjalani proses sensor. Terang saja lalu ini dikaitkan dengan kandungan film 3 yang menceritakan kondisi sosial politik di Indonesia pada 2036.

Sebetulnya apa saja yang ditakutkan oleh beberapa kalangan itu dari film Tiga: Alif Lam Mim ini, simak uraian berikut ini.

Bahaya Liberalisme Radikal

youtube.com

Ada tiga paham yang selalu menjadi bahan bakar dalam konstelasi politik di Indonesia, liberalisme, sosialime, dan agama (Islamisme). Semuanya mengaku yang paling nasionalis dan bakal memperbaiki Indonesia.

Sosialisme dianggap menjadi anti-tesis dan lawan dari liberalisme. Sedangkan agama lebih mengakomodir keduanya dalam batas yang proporsional. Indonesia bukanlah bentuk murni dari ketiganya, namun semacam hybrid.

Secara implisit dalam dasar negara pancasila, ketiga paham diakomodir. Film Tiga ALif Lam Mim ini menjadi suatu warning bagi masyarakat Indonesia, ketika satu paham dominan dan merusak keseimbangan, maka paham yang lain akan tersingkir.

Liberisme ekstrim akan memenggal paham-paham yang membahayakan eksistensinya, mungkin sosialisme juga akan begitu. Berbeda dengan agama, terkhusus Islam yang memuat unsur liberalisme dan sosialime sekaligus.

Pada film Tiga yang mengisahkan Indonesia menjadi negara liberal di tahun 2036, ditampakkan kebengisan penguasa tanpa moral yang menghalalkan segala cara untuk membentuk tatanan liberal dan perdamaian semu. Itulah saat dimana liberalisme menjadi sangat radikal dan “teroris”.

Sekulerisme Murni yang Meminggirkan Agama

youtube.com

Pengusung sekulerisme yang masih malu-malu seperti masih menyembunyikan hidden agenda. Bahkan mereka tidak segan mengaitkan sekulerisme yang dikatakan sebagai bagian dari ajaran agama. Padahal sejatinya, sekulerisme adalah musuh alami semua agama.

Jika tahap awal sekulerisme hanya melarang agama untuk ikut campur kedalam urusan publik, pada tahap akhir seperti yang dikisahkan film 3, sekulerisme akan terang-terangan melarang semua ritual dan atribut agama baik di kehidupan publik maupun privat.

Agama dipinggirkan, dideskriditkan, dicitrakan sebagai sesuatu yang kuno. Sehingga hampir semua orang Indonesia di tahun 2036 akan meninggalkan ajaran agama.

Hak Asasi Manusia yang Paradoks

jaff-filmfest.org

Hak Asasi Manusia adalah barang dagangan orang-orang liberal. Sayangnya, lebih banyak orang liberal yang menggunakan HAM untuk menggebuk pihak lain. Mereka bicara HAM tentang Ahmadiyah, tapi bisu tentang penangkapan Densus 88 yang semena-mena.

Mereka lantang bicara HAM tentang penutupan gereja, namun diam seribu bahasa tentang masjid yang dibakar. Itulah paradoksnya liberal.

Dan film Tiga ini menjadi pembenaran atas penyakit munafik liberalisme. Dalam film itu dikisahkan Indonesia sebagai negara liberal yang berdasarkan Hak Asasi Manusia.

Namun anehnya, HAM tidak berlaku bagi orang berjubah dan bergamis, mereka dilarang makan di tempat umum. Pondok pesantren direkayasa agar dituduh teroris. Bom diledakkan di tempat keramaian hanya untuk membentuk opini masyarakat.

Terorisme Adalah Rekayasa Sosial

twitter.com

Ini bagian yang paling sensitif dari film ini. Sebuah pesan bahwa terorisme yang terjadi di belahan dunia termasuk Indonesia adalah hasil rekayasa sosial. Dalam film Alif Lam Mim, diceritakan gerakan terorisme yang mengatasnamakan agama adalah settingan dari aparat negara.

Lalu apakah cerita film itu juga merepresentasikan dunia nyata? Sangat mungkin benar, melihat fenomena yang terjadi saat ini. Namun siapa aktor dibaliknya itu yang sulit diungkap.

Busyro Muqqodas, mantan ketua KPK dan ahli hukum UII, dalam penelitiannya dia berani mengungkap bahwa ada indikasi terorisme di Indonesia adalah settingan dari intelijen negara. Namun tentu saja kebenarannya masih misterius bagi kita.

Liberal Pun Otoriter

print.kompas.com

Selama ini yang selalu diidentikkan dengan otoritarianisme adalah paham sosialisme dan Agama. Yakni, negara komunis dan negara teokrasi. Negara liberal selalu mencitrakan diri membuat penduduk lebih bebas.

Pada film Alif Lam Mim ini, ternyata negara yang sudah menganut liberalisme murni pun tak ubahnya seperti negara komunis dan fasis yang selalu ingin membuat rakyatnya tunduk pada kekuasaan.

Namun bedanya liberalisme tidak terang-terangan dan menjalankan misi pengaturan masyarakat itu dengan rahasia. Bahkan media masa juga dibungkam agar tidak sembarangan memberitakan kejanggalan pemerintah.

Moral Agama Selalu Bertahan Walau Banyak Distorsi

twitter.com

Satu inspirasi penting yang patut kita jadikan acuan, bahwa seperti apapun liberalisme mendistorsi agama, moral agama khususnya ajaran Islam akan terus bertahan.

Agama akan terus bertahan, karena itu kepastian dari Tuhan yang tertuang dalam kitab suci, melalui tangan-tangan manusia yang menjaga ajaran tersebut.

35 pemikiran pada “6 Alasan Mengapa Film 3 Alif Lam Mim Ditakuti Oleh Kalangan Tertentu”

  1. Like. Thank info ttg film 3nya. Penasaran pengen liat tp syang udh gak ada lagi. Kebenaran akan tetap ada meski didalam lubang cacing skalipun. Allahuakbar

  2. saya baru tahu ya ada film yang memang mengambarkan indonesia terutama masalah teroris dan masalah agama padahal islam terbanyak tapi gak ngaruh, saya jadi penasaran,,,

    • Film ini keren bgt. Alhamdulillah sempat nonton yg full. Sempat nonton jg yg di net tv. Di net byk bgt yg dicut. Skrg udh ada di youtube tp ga full,banyak yg kepotong jg

  3. Dimana saya bisa beli DVD nya ya? Kalau mmg benar film tsb ada, mnrt sy itu bakal jd indonesia best movie. Selama ini yg menjadi the best indonesian movie mnrt sy masih dipegang oleh film Cut Nya Dhien, karya Sutradara Eros Djarot dan dibintangi oleh Slamet Rahardjo dan Christine Hakim.

  4. Kalau menurut saya filem ini mebawa dampak yg negatif bagi negara jika salah memahami makna dari filem ini sesungguhnya, Alur cerita filem dengan dalih bahwa di balik radikalisme dan teorisme adalah misi rahasia dari negara indonesia ini untuk menyeimbangkan suatu perdamaian, walaupun dengan menghalalkan segala cara “cerita filem ini”, Secara otomatis rakyat akan TERDOKTRIN akan cerita filem ini, karena suatu paham akan menyingkirkan paham yg lain.
    sampai di suatu ketika akan terjadi perdamain yg sesungguhnya baik mayoritas dan minoritas sejajar di mata pemerintah”duduk sama rendah berdiri sama tinggi”,di karenakan kini semakin tahun pemimpin2 indonesia semakin baik, dengan sudut padang lurus bukan dari salah satu agama,.

    Ketakutan Pemirintah disini adalah ketika negara menjadi damai mungkin radikalisme dan terorisme muncul dengan dalih agama, yg bisa menfitnah negara yg di balik layar tersebut, dengan begitu pemerintah bisa di gulingkan,baik dari kaum mayoritas atau minoritas yg mempunyai tujuan tertentu yg di sebut revolusi baik itu kearah liberal,sosialisme,dll.
    TentuNYa setiap revolusi membutuhkan PENGORBANAN yg tidak sedikit,masih ingatkan revolusi G30-PKI berapa banyak korban yg jatuh disana karena fitnah??? saya pribadi sebagai warga negara indonesia tidak menginginkan hal itu terjadi, karena masih gampang sekali proses doktrin terjadi di indonesia, Ingat indonesia paling gampang di adu domba oleh pihak luar baik dari segi agama karena sistem agama kita sangat kental sampai mengaganggap agama lain itu salah, beda dengan pola pikir kita dengan orang barat tentang agama, disini kita bisa melihat sebagai keunggulan atau bahkan kelemahan kita sebagai warga negara indonesia.

    INGAT!!!
    Mengapa kita di sebut negara berkembang, karena jika ada jentik2 orang pintar YG jujur dan adil yg membawa perubahan indonesia kearah yg lebih baik, makan akan terjadi revolusi sistem adu domba maka indonesia kembali lagi ke angka 0. Coba cermati negara ini dari jaman soekarno-sampai sekarang, berapa kekayaan indonesia di ambil oleh pihak luar, TIDAK KASIHANKAH ADA TERHADAP IDONESIA, biarkan negara ini damai secara otomatis SDM indonesia akan bisa mengikuti orang2 barat menuju kemajuan negara ini.
    sumua ini hanya pemikiran saya belaka jika salah mohon di maafkan

    • mohon maaf,

      saya kurang sepaham dengan kesimpulan anda.
      Di mana konflik film ini berakar dari kepentingan pemerintah.
      yang selanjutnya berkembang menjadi opini panjang dari pemahaman anda sendiri.

      Entah sampai akhir atau tidak anda menonton,
      Di akhir film terungkap bahwa ini bukan “Kepentingan Pemerintah”.
      Melainkan ambisi beberapa oknum Petinggi Negara dengan menggunakan fasilitas serta jabatan yang dia punya.
      Hal seperti ini bukanlah hal yang tabu, sejarah sudah menjelaskan semua meski beberapa hanya samar dan tidak di ungkap secara gamblang karena menyangkut harkat dan martabat bangsa kita sendiri.

      Saya sangat setuju dengan pemikiran anda tentang pluralisme hingga ke tokoh2 pemimpin2 negara, yang sayang nya anda selipkan dengan kata2 “Sudut Pandang Lurus Bukan dari Salah Satu Agama”.
      Apapun yang kita sampaikan selalu ada tendensi di dalamnya,
      Entah ucapan kebaikan yang di balut kebencian,
      Atau sebaliknya,
      Kesantunan tutur kata yang berisi kebencian.
      Sudah Sangat Jelas,
      Sudut pandang kita bukanlah SALAH SATU AGAMA.
      PANCASILA & UUD45 lah yang menjadi dasar negara kita.

      BARAT yang anda banggakan, juga ADAT TIMUR yang kita jalani.
      Masing2 punya nilai positif dan minus nya sendiri2.
      Saya pribadi lebih bangga menjalani kehidupan dengan ADAT TIMUR yang penuh dengan kearifan lokal dan aneka keragamanya tapi sarat toleransi dalam keseharian kita.
      Radikalisme atau apalah sebutannya,
      Saya percaya ada namun tak seperti yang kita takutkan, tapi hal ini terlihat lebih besar justru karena pemberitaan berlebihan dari media.
      Kenapa saya tidak takut,
      Karena di sekitar kita jelas terbukti tidak ada yang benar2 memberikan pemahaman radikal, yang ada hanyalah lingkungan penuh toleransi tanpa memandang latar belakang sosial dan agama.
      Justru dari brainwash media lah kita mendapat pemahaman konflik yang pelik di negri ini.
      Selain itu, saya sangat percaya aparat kita mampu bekerja dengan profesional. Meski tidak menutup kemungkinan hal2 seperti di film ini dapat terjadi.

  5. daku setuju dgn gede.s, ehm maaf cara pandang film ini, masih terkesan pemaksaan secara halus ttg kebenaran absolut dari satu agama tertentu, bukan berarti itu salah namun kebenaran di dunia nyata itu tidak absolute bin mutlak..
    tapi dari segi pandang sinematografi filem ini ciamik buanget

  6. Baru nonton di HOOQ. Mantab jiwa. Merinding pas adegan-adegan tertentu yg sepertinya menggambarkan keadaan kekinian. “Pantas mereka takut”

  7. terima kasih ya gan atas ulasannya yang gamblang…tidak kenal takut…hebat..salut…Semoga Allah mebalas dengan berlimpah..Aamiin

  8. contoh negara liberal adalah amerika , soal agama amerika sangat 0 besar . contohnya negara paling banyak penjahat nya yah amerika ini . di kota kota besar nan sibuk tampak tidak ada nya kehadiran agama sdikit pun . seks bebas juga bebas banget disana . semua serba bebas sampe orang bisa bisa bunuh pake senjata api yg dia punya .

    tapi indonesia tidak cocok untuk dijadikan sperti amerika . karena indonesia butuh agama . butuh adat istiadat , butuh kearifan lokal , itu ajah sih intinya .

    jangan buat indonesia kaya amerika .
    indonesia negara yg beragama .

  9. Ini baru film yang mendidik, secara ajaran Islam dan syari’at. Negara Kesatuan Republik Indonesia memiliki banyak ragam, khas dan nasionalisme. Tidak terlepas dari agama, Segala sesuatunya sudah diatur oleh syari’at Islam…, Dimana Aturan itu sudah ada sejak ribuan tahun lalu,melewati utusan Allah SWT.dan Kitab suci Al-Qur’anul Karim…, Semoga dimasa depan. Islam tetap menjadi acuan dan pedoman setiap masyarakat seluruh dunia. Kerena usia Dunia sudah tua dan mulai bertebaran fitnah-fitnah keras yang mana merugikan semua kalangan. maka tiada kata yang pantas untuk dilakukan dan segera dilaksanakan oleh semua umat Islam di seluruh dunia. Yaitu adalah, “rapatkan shaf dan jaga barisan tidak ada boleh yang kosong” Aamiin…,

Tinggalkan komentar