Homoseksual Tidak Harus Menjadi Gay

Homoseksual dan gay, dua kata ini memiliki makna yang berbeda. Namun di masyarakat sering disamakan. Seolah-olah homoseksual itu pasti gay dan sebaliknya.

Padahal homoseksual itu masalah ketertarikan pada sesama jenis, laki-laki tertarik secara seksual pada laki-laki atau wanita tertarik secara seksual pada wanita. Oleh karena itu homoseksual sering disebut juga Same Sex Attraction (SSA). Sementara gay adalah gaya hidup bagi orang-orang yang memilih untuk berhubungan intim dengan sesama jenis. Jelas 2 hal ini sangat berbeda.

Dalam buku Reparative Therapy of Male Homosexuality: A New Clinical Approach, psikolog Joseph Nicolosi, Ph.D. mengutarakan tentang pentingnya bagi masyarakat untuk menerima orang-orang same sex attraction yang tidak ingin menjalani hidup gay.

Dalam dunia gay, ada istilah coming out atau coming out of the closet. Umumnya, orang-orang bergaya hidup gay mengartikan coming out sebagai tanda keberanian terbuka mengenai gaya hidup gay terhadap orang lain. Coming out mereka jadikan sebagai momen menuju kebebasan diri.

Namun, ada sekelompok pria homoseksual yang tidak mencari kebebasan dengan menjadi gay dan coming out. Nicolosi menyebutnya homoseksual non-gay.

Homoseksual non-gay

tomvansaghi.com
tomvansaghi.com

Homoseksual non-gay adalah pria yang mengalami perbedaan antara nilai yang ia anut dan orientasi seksualnya. Dalam hidupnya, homoseksual non-gay menjalani gaya hidup heteroseksual. Homoseksual non gay merasa perkembangan dirinya sangat terhambat oleh ketertarikannya pada sesama jenis.

Sebelum adanya tuntutan kesetaraan LGBT, literatur-literatur memandang homoseksual hanya dari satu sudut pandang yakni kondisi medisnya. Sekarang pergerakan LGBT telah mendorong banyak penelitian baru, seringkali dilakukan oleh para peneliti gay, untuk melihat permasalahan gay dari sisi masalah personal dan masalah hubungan dengan orang-orang di sekitarnya.

Dengan adanya hasil-hasil riset ini, sekarang banyak pria bisa memutuskan apakah mereka ingin memilih gaya hidup gay atau mengambil jalan untuk tumbuh dan terbebas dari homeseksualitas.*

Ada remaja pria 16 tahun yang datang ke kantor Nicolosi. Remaja ini khawatir dirinya mungkin menjadi homoseksual. Nicolosi mengatakan, “Kalau ternyata kamu memang homoseksual, kamu bisa memilih terapi afirmatif gay. Atau kamu juga bisa memilih untuk tumbuh keluar dari homoseksualitas.”

Setelah itu, Nicolosi menceritakan tentang pria-pria yang menjalani terapi dengannya. Mulanya, remaja ini tampak bingung. Setelah itu ia merespon, “Oh, maksudmu mereka ‘belum’ coming out of the closet?

Remaja ini telah dibingungkan oleh anggapan populer bahwa jika seseorang itu homoseksual, satu-satunya jalan untuknya adalah menjalani identitas gay. Karena mempercayai hal ini, ia sangat terkejut mendengar informasi bahwa ada pria-pria, setelah memikirkan dengan sangat matang, yang memilih jalan lainnya yang juga sulit. Nicolosi membantu homoseksual dengan metode terapi reparatif.

Homoseksual non-gay menjalani terapi reparatif dengan tidak menyalahkan stigma masyarakat atas ketidakbahagiaan mereka. Sebagian dari mereka ada yang pernah menjalani gaya hidup gay namun merasa  gaya hidup gay itu menipu diri mereka sendiri. akhirnya mereka mendefinisikan  dirinya dengan gaya hidup heteroseksual.

Kisah orang-orang homoseksual non gay

pria homoseksual bukan gay
huffingtonpost.com

Homoseksual non-gay tidak menentang gaya hidup yang sesuai fitrah. Homoseksual non-gay memilih mengatasi masalah di dalam batinnya. Berikut ini paparan beberapa klien Nicolosi.

“Gue udah lama memiliki perasaan dan hasrat semacam ini (SSA), tapi ide menjadi seorang gay itu konyol… gay itu gaya hidup yang aneh, di pinggiran masyarakat…. Gue ga akan pernah memilih untuk menjadi bagian dari gay.”

“Saya tidak pernah percaya kalau saya punya kecenderungan homoseksual karena saya terlahir homoseks. Anggapan seperti itu adalah hinaan bagi harga diri saya. Anggapan semacam ini juga menghalangi perjalanan saya untuk tumbuh. (Anggapan homoseksual itu bawaan lahir) itu sama saja mengatakan bahwa saya tidak punya harapan untuk berubah.”

“Buat gue, memilih gaya hidup homoseksual itu seperti hidup dalam kebohongan. Saat gue mengalaminya, gue merasa sakit, bingung, dan menghancurkan hidup gue. Hanya sejak gue mulai melihat hal-hal yang tersembunyi di balik perasaan homoseksual inilah, gue mulai mendapatkan ketenangan dan penerimaan diri yang sebenarnya.”

Nicolosi menekankan pentingnya masyarakat dan dunia psikologi perlu memahami homoseksual non-gay. Masyarakat mencemooh orientasi seksual mereka. Sementara dunia psikologi menganggap mereka membenci diri sendiri dan tidak terarahkan. Identitas mereka tersesat di antara retakan pemahaman populer. Dunia yang straight mencaci-maki mereka dan dunia gay mengabaikan mereka.

Solusi bagi homoseksual non-gay

joseph nicolosi menyembuhkan gayNicolosi menganggap profesi kesehatan jiwalah yang paling bertanggung jawab atas terabaikannya homoseksual non-gay. Dengan mendukung LGBT, dunia psikologi telah menindas homoseksual non-gay. Dengan menghapus homoseksualitas sebagai masalah seksual, dunia psikologi telah membuat homoseksual non-gay merasa sangat kebingungan, tidak tahu harus berkonsultasi ke mana.

Sebenarnya homoseksual non-gay juga ikut berperan atas pengabaian masyarakat ini. Homoseksual non-gay umumnya tidak mengumumkan identitasnya di depan umum. Mereka memilih mengatasi konflik dirinya secara rahasia.

Namun pilihan apa lagi yang mereka punya? Jika mereka mengumumkan identitasnya, kemungkinan besar masyarakat, apalagi di Indonesia, tidak bisa menerima. Untungnya ada orang-orang yang mau secara sembunyi-sembunyi membantu homoseksual non-gay.

Dunia gay menganggap homoseksual non-gay merasa takut untuk coming out. Dunia gay juga menganggap homoseksual non-gay ini denial terhadap orientasinya. Akhirnya dunia gay menyimpulkan  bahwa homoseksual butuh waktu dan edukasi untuk “membebaskan dirinya.”

Padahal sebenarnya memilih tidak menjadi gay juga keputusan sadar yang bisa diambil oleh seseorang. Baginya, tidak coming out bisa menjadi tempat yang baik untuk tumbuh dan lebih memahami diri. Baginya, closet adalah tempat untuk memilih, menantang diri, mempererat hubungan, kepercayaan, dan juga berkembang. Baginya, closet adalah tempat yang membuat dirinya merasa benar-benar berharga sebagaimana adanya, tanpa perlu menjadi orang lain.

Orang-orang homoseksual non-gay memiliki pilihan filosofis yang valid. Pilihan mereka tidak diambil karena rasa bersalah, intimidasi, ataupun rasa takut. Mereka adalah orang-orang yang dengan penuh kesadaran mencari jalan bukan untuk merangkul kehomoseksualitasannya. Mereka berusaha untuk melampaui kecenderungan homoseksualnya. Mereka menyadari bahwa diri mereka lebih berharga dari itu.

Ada banyak orang homoseksual non-gay di luar sana, yang mereka butuhkan bukanlah cibiran dan hinaan dari masyarakat. Yang mereka butuhkan adalah tangan yang terbuka, yang menerima mereka, yang menunjukkan pada mereka bahwa mereka punya harapan untuk berubah dan menjalani kehidupan yang lebih baik. Seperti Joseph Nicolosi, mereka butuh sambutan hangat yang berkata, “If gay doesn’t define you, you don’t have to be gay.”

 

*) Sekarang LGBT sudah dihapuskan dari daftar gangguan jiwa atau DSM, padahal sebenarnya tidak ada penelitian baru yang mendukung hal ini. Pionir psikologi Barat seperti Freud, Jung, dan Alfred, menilai LGBT sebagai gangguan jiwa. Lalu mengapa sekarang sudah tidak dianggap gangguan mental? Bayer (1981) menuliskan bahwa ini bukan merupakan kesimpulan dari kebenaran ilmiah, namun tindakan yang diambil berdasarkan tuntutan zaman.

**) Di Indonesia, Peduli Sahabat yang didirikan Sinyo Egie melakukan terapi yang serupa dengan jenis terapi Nicolosi. Peduli Sahabat membantu orang-orang same sex attraction untuk dapat menjalani hidup bersama lawan jenis dan terbebas dari kecenderungan homoseksualnya.

Literatur: Nicolosi, Joseph. Reparative Therapy of Male Homosexuality: A New Clinical Approach

Tinggalkan komentar