Para Suami, Inilah Cara Paling Ampuh Mengatasi Kemarahan dan Tangisan Istri

Hal yang pasti terjadi dalam pernikahan adalah membuat pasangan marah. Bagi suami, istri yang marah bisa menjadi mengerikan. Mulai dari mengomel sampai mengeluarkan kata-kata bermakna tersirat. Video ini sangat menggambarkan ekspresi marah istri yang tersirat.

Bagi para suami, tidak perlu alat seperti manslater untuk bisa merespon marahnya istri dengan lebih baik. Kamu hanya perlu mempelajari 1 pertanyaan. Bagi para pria, setiap kali istrimu terlihat “gila,” marah, cemberut, atau kesal, ucapkanlah kalimat ajaib ini.

Kalimat apakah itu? Ini dia:

Maukah kamu membicarakan masalahmu?

Di dunia pria, saat seseorang sedang galau dan stres, kamu cukup menepuk pundak teman priamu dan berkata, “Ah, nanti juga beres kok. Gak usah khawatir.”

(Ngomong-ngomong, suami yang menjauh seperti di gambar di atas itu cara yang salah lho ya, yuk lanjut baca supaya tahu salahnya di mana)

Namun, jika kamu melakukannya pada istrimu, hal yang buruk akan terjadi. Niatmu memang untuk menghibur, tapi di dalam otak wanita muncul sinyal yang mengungkapkan, “Dasar, suamiku ini tidak sensitif. Dia cuma mau senangnya aja, dia tidak pernah mau aku mengganggunya dengan masalahku.”

Biarkan istrimu tahu kalau kamu ada untuknya. Bahkan saat ia bergumam, “Ngga, aku ngga mau membicarakannya.” Bertahanlah. Katakan lagi, “Ayolah, aku tahu kamu akan merasa lebih baik jika kamu membicarakannya. Aku benar-benar ingin kamu membagi perasaanmu denganku.”

Setelah itu bersiap-siaplah. Bendungan akan bocor dan banjir bah akan datang. Istrimu akan menghujanimu dengan banyak hal (bukan hanya banyak, seringkali bertele-tele, kesana kemari, dan bisa jadi dia akan mengungkit-ungkit sejarah kesalahanmu dari mulai pertama bertemu sampai kesalahanmu pagi tadi).

Tapi tidak perlu takut. Satu-satunya yang perlu kamu lakukan untuk jadi suami yang baik di matanya adalah ini: tutup mulutmu dan dengarkan.

Dengarkanlah dengan cara mendengarkan wanita. Bukan dengan caranya pria.

Bagi kebanyakan pria, mendengarkan berarti hanya memperhatikan sampai mereka sudah dapat cukup data lalu memberi solusi. Sementara, wanita mendengarkan satu sama lain sambil memahami kalau mereka sama-sama harus mengeluarkan semua (saya tekankan lagi, SEMUA) hal yang membebani otaknya.

Sampaikanlah pada istrimu, “Adinda, janganlah kamu berhenti berbicara.”

framepool.com
framepool.com

Salim A. Fillah mengungkapkan pentingnya mendengarkan ini.

Para suami, ingat satu hal! Keterampilan yang paling penting dipelajari sebelum Anda menikah adalah: keterampilan mendengarkan curhat. Karena sangat tidak banyak suami yang pandai mendengarkan curhat, apalagi curhat istrinya.

Kalau mendengarkan curhat teman sekantor, ada yang pintar. Tetapi saat mendengarkan curhatan istri, komentar yang ada di pikiran suami adalah, ‘Itu aja diceritain, pentingnya dimana?!’ ‘Itu peristiwa udah diceritain berapa kali, ini udah yang keempat,’

Setiap kali istri bercerita, anggaplah betapa pentingnya urusan itu karena yang dicurhatkan istri itu bisa menyebabkan perang dunia ketiga. Anggaplah ini sangat penting sampai ketika diulang 3 kali pun Anda merasa, ‘Ini pertama kalinya saya mendengarkan cerita ini. Masya Allah’

Inilah benteng terkuat dari persoalan-persoalan yang bisa mengancam keutuhan rumah tangga. Menjadi pendengar yang baik.

Ini latihannya berat. Sangat serius.

Banyak rumah tangga terjadi konflik bukan karena kurangnya cinta, tapi karena kurangnya ilmu tentang cinta. Salah satu ilmu tentang cinta adalah ilmu mendengarkan, ilmu menyimak tangis.

Hati-hati kalau Anda masih mengatakan, ‘Buat apa nangis?! Nangis itu ngga menyelesaikan masalah. Ini potensi konflik.

Karena lelaki yang dipuja wanita biasanya tidak menyuruh menghentikan tangis apalagi bertanya buat apa menangis. Lelaki yang dipuja wanita cirinya adalah menyediakan tempat yang paling nyaman untuk menangis sampai tuntas, di bahunya, di sandarannya.

Kalau Anda tidak menemani tangis itu, dia akan menangis pada lelaki lain.

Wanita itu selalu mencari telinga untuk mendengarkan curhatnya. Kalau Anda tidak sediakan telinga, dia akan cari telinga lain.

Maka ini keterampilan penting bagi para lelaki.

Lagu Menangis untuk Tersenyum ini menunjukkan juga pesan yang sama tentang hal ini.

“Menangislah, jika kau ingin menangis

Namun kembalilah untuk tersenyum

Kan kupinjamkan bahuku untukmu menangis

Kan kuhapus air mata yang basahi pipimu

Kan kugenggam erat tanganmu, takkan kulepaskan

Kan kupeluk dirimu, dengan segala rasa

Sayangku”

Saat istrimu mulai bisa mengendalikan perasaannya, barulah kamu bisa menawarkan saran untuk menunjukkan bahwa kamu peduli akan masalahnya. Namun kamu tidak perlu merasa harus mengatasi masalahnya.

Kamu tidak perlu merasa bertanggung jawab untuk hal itu. Jangan juga merasa kalau istrimu itu sedang menyalahkanmu (walau kamu akan merasa seperti itu, percayalah, itu hanya luapan emosi yang muncul karena istrimu sedang sangat kewalahan).

Cukup dengarkan.

Tinggalkan komentar