Mengenal Rimpu, Cadar Unik Khas Suku Bima

Indonesia adalah negara yang kaya akan keberagaman suku dan budaya. Hampir setiap daerah atau suku di Indonesia memiliki ciri khas tersendiri, mulai dari cara mereka menjalani kehidupan sehari-hari, cara mereka makan, cara mereka menyambut tamu, bahkan hingga cara mereka berpakaian.

Diantara suku yang mempunyai keunikan tersendiri dalam cara mereka berpakaian adalah suku Bima.
Suku Bima adalah salah satu suku tertua yang ada di Indonesia. konon Suku ini telah ada sejak zaman kerajaan Majapahit, atau berarti jauh sebelum Indonesia merdeka.

Suku Bima atau dikenal juga dengan sebutan Dou Mbojo, merupakan salah satu suku di Indonesia yang kebanyakan masyarakatnya beragama Islam.

Suku Bima memiliki keunikan dalam cara mereka berpakaian, dimana kamu perempuan suku Bima biasa menggunakan rimpu sebagai penutup aurat mereka.

Perempuan-perempuan suku Bima biasa menutup aurat mereka dengan sesuatu yang disebut rimpu.
Rimpu adalah pakaian adat perempuan Bima yang digunakan untuk menutup aurat bagian kepala. Rimpu ini berasal dari 2 buah sarung yang dililitkan hingga menutupi bagian aurat mereka.

Jika dilihat lebih jelas rimpu ini mirip dengan cadar, yakni sesuatu yang digunakan sebagai penutup aurat oleh para perempuan Arab yang beragama Islam.

Cadar Wanita Arab| Pict by. www.wanitaindonesiabercadar.com
Cadar Wanita Arab| Pict by. www.wanitaindonesiabercadar.com

Demikianlah pemaparan singkat penulis mengenai rimpu. Sesuatu yang menyerupai cadar namun ini khas dari suku Bima.
Kalau kamu punya referensi keunikan lainnya dari suku Bima, silahkan untuk berkomentar pada kolom di bawah.

Satu pemikiran pada “Mengenal Rimpu, Cadar Unik Khas Suku Bima”

  1. cukup menggugah, cerita versi lain dari seorang papuk bahri buyut dari wali mukmin lantan lombok tengah, pewaris kerajaan sasak kuno yang tahun 2016 ini bermukim di sesela lombok barat mengatakan bahwa orang yang mengislamkan bima adalah kakak kandung dari seorang keturunan bani tamim, utusan langsung dari makkah. adiknya bermaqam di batu layar senggigi. mereka bertolak dengan perahu dari arab, keturunan ibnu tamin ini sebagian besar pelayarannya mampir di andalas negeri cikal seperti kerajaan andalusia di sumatera, albarni negeri penuh pohon besar di sumatera, aljawi negeri pemakan biji rumput (padi) di jawa, albahlu negeri orang gila penyembah pohon dan batu di bali, assasaki negeri penuh semak duri di lombok, assamawi negeri bergunung pencakar langit di sumbawa (athambur/tambora), almaliki negeri seribu raja di maluku, melalui pusat perintah (bimaa/mengarah kepada) di negeri yang memiliki pulau penuh bintang (santoro) karena menguasai wilayah daulah di semua pulau di timurnya, sampai pun utusan terakhir dari arab berasal dari bani tamin ini sempat berdakwah di sebuah negeri yang dipenuhi orang telanjang (al huriayan) di pegunungan dan lembah papua. SEMUA RIWAYAT INI MENJADI HILANG OLEH KISAH HINDU PEWAYANGAN, DIKUBUR LAGI OLEH URUGAN KISAH FIKTIF MAJAPAHITISME, KEJAWEN DOMINASI JAWA ATAS NUSANTARA, TRANSISI KERAJAAN SUKU BANGSA., KESULTANAN ERA SEJARAH, KESULTANAN ERA KOLONIAL, ORDE LAMA, ORDE BARU, dan seterusnya, sama seperti umpama kenyataan kecil yang luput dari keabsyahan bukti bahwa sebenarnya majapahit pun tunduk dibawah kekuasaan keturunan ke 14 dari bani tamin, tengok di google search “koin kalimat tauhid era majapahit”. sama seperti cerita bo di bima yang bo-hong dengan tidak menulis keturunan para ncuhi tiap sera, demi menganulir eksistensi suku asli orang bima, menutupinya dengan takhyul, dengan dominasi keturunan campuran jawi dan silsila washiy dari bugis hasil perkawinan siri dengan perempuan negeri jawi (emBOJO) atau dengan manusia perahu (daEng Masiri

Tinggalkan komentar