Inilah Sejarah dan Penjelasan Singkat Tentang Masjid Istiqlal

MASJID ISTIQLAL – Masjid Istiqlal berada di pusat kota Jakarta dan merupakan masjid kebanggan bangsa Indonesia. Masjid ini merupakan masjid terbesar di Indonesia dan Asia Tenggara. Nah, pada kesempatan kali ini kita akan membahas mengenai sejarah dan penjelasan singkat tentang masjid Istiqlal. Untuk lebih lengkapnya, mari simak penjelasannya di bawah ini.

Nama Masjid

zaldym.wordpress.com
zaldym.wordpress.com

Masjid Istiqlal merupakan masjid yang berada di pusat ibu kota negara Indonesia, yakni di Jakarta. Masjid ini merupakan kebanggan seluruh masyarakat Indonesia.

Masjid ini didirikan sebagai ungkapan serta wujud dari rasa syukur bangsa Indonesia yang kebanyakan beragama Islam, karena atas berkat dan rahmat Allah SWT yang sudah memberikan nikmat kemerdekaan terbebas dari penjajahan. Berdasarkan hal tersebut, masjid ini diberi nama masjid “Istiqlal” yang berarti merdeka.

Sejarah

wikipedia.org
wikipedia.org

Setelah perang kemerdekaan Indonesia, para pejuang mulai mengembangkan sebuah ide besar untuk membangun sebuah masjid nasional. Ide pembangunan masjid terpikirkan setelah empat tahun proklamasi kemerdekaan.

Adapun ide pembangunan masjid kenegaraan ini sesuai dengan tradisi bangsa Indonesia yang sejak zaman kerajaan purba sudah mendirikan bangunan monumental keagamaan yang menandakan kejayaan negara.

Contohya pada zaman kerajaan Hindu-Buddha, bangsa Indonesia sudah berhasil membangun candi Prambanan dan Borodur. Oleh karena itu, pada masa kemerdekaan Indonesia munculah ide membangun masjid nasional kebanggan bangsa Indonesia.

Sejarah Perencanaan Masjid Istiqlal

Jakartgoodguide.wordpress.com
Jakartgoodguide.wordpress.com

Tepatnya pada tahun 1950 ketika Kh. Wahid Hasyim menjabat sebagai mentri keagamaan republik Indonesia dan H. Anwar Tjokroaminoto dari sebuah partai syarikat islam membuat acara pertemuan dengan sejumlah tokoh islam di daerah deca park jalan merdeka utara yang tidak jauh dari istana merdeka di sebuah gedung pertemuan.

Acara pertemuan tersebut membahas tentang rencana pembangunan masjid dan gedung pertemuna yang rencananya bersebelahan dengan gedung kemerdekaan yang kini tinggal sejarah karena deca dan beberapa gedungnya tergusur oleh proyek pembangunan monumen nasional. Pertemuan tersebut dipimpin oleh seorang Kh. Taufiqurrahman

Di dalam pertemuan di gedung Deca Park, para hadirin bermufakat dan sepakat bahwa H. Anwar Tjokroaminoto diangkat sebagai ketua di Yayasan Masjid Istiqlal pada saat itu. Dia juga langsung ditunjuk sebagai ketua panitia dalam pembangunan Masjid Istiqlal walaupun dia terlambat hadir dalam acara karena baru bisa kembali ke negara Indonesia setelah ditugaskan sebagai delegasi Indonesia di Jepang untuk membicarakan masalah masalah pampasan perang ketika itu.

Kemudian pada tahun 1953, Panita Pembangunan Masjid Istiqlal, membicarakan rencana pembangunan masjid istiqlal kepada bapak Soekarno yang saat itu menjabat sebagai presiden. bapak soekarno menyambut baik rencana tersebut, bahkan akan membantu secara penuh di dalam proses pembangunan Masjid Istiqlal. setelah itu Yayasan Masjid Istiqlal disahkan di depan masyarakat dan notaris Elisa Pondag saat tanggal 7 Desember 1954.

bapak Presiden Soekarno baru aktif didalam proyek pembangunan Masjid Istiqlal sejak bapak presiden ditunjuk menjadi Ketua Dewan Juri didalam Sayembara maket Masjid Istiqlal yang ketika itu diumumkan melalui surat kabar dan media lainnya ketika tanggal 22 Februari 1955. setelah pengumuman tersebut, semua ahli arsitek baik kelembagaan maupun perorangan diundang untuk membantu dan turut serta didalam sayembara tersebut.

Banyak perbedaan pendapat tentang rencana lokasi yang digunakan untuk pembangunan Masjid Istiqlal. Ir. H. Mohammad Hatta yang saat itu menjadi Wakil Presiden RI mengeluarkan pendapat, bahwa lokasi yang sangat tepat untuk membangun Masjid Istiqlal ada di daerah Jl. Moh. Husni Thamrin yang sekarang menjadi lokasi Hotel Indonesia. Dengan beberapa pertimbangan lokasi tersebut ada di lingkungan masyarakat Muslim dan ketika itu belum ada satupun bangunan di atasnya.

Di lain sisi, presiden republik indonesia saat itu Ir. Soekarno mengusulkan supaya lokasi pembangunan Masjid Istiqlal ini di bangun di daerah Taman Wilhelmina, yang di dalamnya ada reruntuhan benteng Belanda yang dikelilingi oleh bangunan-bangunan pemerintah serta pusat perdagangan dan juga dekat dengan sekali dengan Istana Merdeka.

Hal ini sangat berkaitan dengan simbol kekuasaan di daerah kraton Jawa dan daerah daerah lain di Indonesia bahwa masjid harus dibangun di tempat yang dekatan dengan kraton atau dekat dengan alun-alun,dan Taman Medan Merdeka saat itu dianggap sebagai alun-alun Ibu Kota Jakarta. Selain itu Soekarno juga menghendaki masjid negara Indonesia ini berdampingan dengan Gereja Katedral Jakarta untuk melambangkan semangat persaudaraan, persatuan dan toleransi beragama sesuai Pancasila.

Pendapat H. Moh. Hatta tersebut akan lebih hemat karena tidak akan mengeluarkan biaya untuk penggusuran bangunan-bangunan yang ada di atas dan di sekitar lokasi. Namun, setelah dilakukan musyawarah, akhirnya ditetapkan lokasi pembangunan Masjid Istiqlal di Taman Wilhelmina. Untuk memberi tempat bagi masjid ini, bekas benteng Belanda yaitu benteng Prins Frederick yang dibangun pada tahun 1837 dibongkar.

Arsitektur

wikipedia.org
wikipedia.org

Sebagai masjid yang menjadi kebanggan bangsa Indonesia, masjid Istiqlal diharapkan bisa menampung jamaah dalam jumlah yang banyak. Oleh Karena itu, sang arsitektur menerapkan prinsip minimalis dalam desainnya dengan mempertimbangkan posisi masjid yang berada di kawasan beriklim tropis.

Masjid dirancang agar jemaah terbebas dari panas matahari dan hujan serta udara bisa bebas bersirkulasi sehingga ruangan tetap sejuk.

Selain itu, ruangan shalat yang berada di lantai utama yang sekelilingnya diapit oleh pelataran terbuka di kanan-kiri bangunan utama dengan tiang-tiang. Hal ini dimaksudkan untuk memudahkan penerangan yang alami serta sirkulasi udara.

Tokoh di Balik Arsitek Masjid istiqlal

Ars. Frederich Silaban  ( lahir di Bonandolok, Sumatera Utara, 16 Desember 1912 -Wafat di Jakarta, 14 Mei 1984 Ketika umur 71 tahun) Merupakan seorang opzichter/arsitek generasi awal di negeri Indonesia. Dia merupakan seorang arsitek otodidak/sejak lahir.

Pendidikan formalnya hanya sampai STM (Sekolah Teknik Menengah) namun ketekunannya membuahkan beberapa kemenangan sayembara perancangan arsitektur, sehingga dunia International mengakuinya sebagai arsitek. Dan seiring perjalanan waktu, ia terkenal dengan berbagai karya besarnya di dunia arsitektur dan rancang bangun di mana beberapa hasil karyanya menjadi simbol kebanggaan bagi daerah tersebut.

Frederich Silaban telah menerima anugerah Tanda Kehormatan Bintang Jasa Sipil berupa Bintang Jasa Utama dari pemerintah atas prestasinya dalam merancang pembangunan Mesjid Istiqlal.

Frederich Silaban juga merupakan salah satu penandatangan Konsepsi Kebudayaan yang dimuat di Lentera dan lembaran kebudayaan harian Bintang Timur mulai tanggal 16 Maret 1962 yakni sebuah konsepsi kebudayaan untuk mendukung upaya pemerintah untuk memajukan kebudayaan nasional termasuk musik yang diprakarsai oleh Lekra (Lembaga Kebudajaan Rakjat, onderbouw Partai Komunis Indonesia) dan didukung oleh Lembaga Kebudayaan Nasional (onderbouw Partai Nasional Indonesia) dan Lembaga Seni Budaya Indonesia (Lesbi) milik Pesindo.

Selain itu, Frederich Silaban juga berperan besar dalam pembentukan Ikatan Arsitek Indonesia (IAI). Pada April 1959, Ir. Soehartono Soesilo yang mewakili biro arsitektur PT Budaya dan Ars. F. Silaban merasa tidak puas atas hasil yang dicapai pada Konperensi Nasional di Jakarta, yakni pembentukan Gabungan Perusahaan Perencanaan dan Pelaksanaan Nasional (GAPERNAS) di mana keduanya berpendapat bahwa kedudukan “perencana dan perancangan” tidaklah sama dan tidak juga setara dengan “pelaksana”.

Mereka berpendapat pekerjaan perencanaan-perancangan berada di dalam lingkup kegiatan profesional (konsultan), yang mencakupi tanggung jawab moral dan kehormatan perorangan yang terlibat, karena itu tidak semata-mata berorientasi sebagai usaha yang mengejar laba (profit oriented).

Sebaliknya pekerjaan pelaksanaan (kontraktor) cenderung bersifat bisnis komersial, yang keberhasilannya diukur dengan besarnya laba dan tanggung jawabnya secara yuridis/formal bersifat kelembagaan atau badan hukum, bukan perorangan serta terbatas pada sisi finansial. Akhir kerja keras dua pelopor ini bermuara pada pertemuan besar pertama para arsitek dua generasi di Bandung pada tanggal 16 dan 17 September 1959.

pertemuan ini dihadiri 21 orang, tiga orang arsitek senior, yaitu: Ars. Frederich Silaban, Ars. Mohammad Soesilo, Ars. Liem Bwan Tjie dan 18 orang arsitek muda lulusan pertama Jurusan Arsitektur Institut Teknologi Bandungtahun 1958 dan 1959.

Dalam pertemuan tersebut dirumuskan tujuan, cita-cita, konsep Anggaran Dasar dan dasar-dasar pendirian persatuan arsitek murni, sebagai yang tertuang dalam dokumen pendiriannya, “Menuju dunia Arsitektur Indonesia yang sehat”. Pada malam yang bersejarah itu resmi berdiri satu-satunya lembaga tertinggi dalam dunia arsitektur profesional Indonesia dengan nama Ikatan Arsitek Indonesia disingkat IAI.

Proses Pembangunan

staticflickr.com
staticflickr.com

Pada tahun 1950, situasi dan kondisi kawasan Taman Wilhelmina yang berada di depan Lapangan Banteng merupakan tempat yang kotor, gelap, sepi dan tak terurus. Di taman ini terdapat reruntuhan tembok bekas bangunan Benteng Prins Frederick yang dipenuhi dengan lumut serta dimana-mana ditumbuhi ilalang.

Pada tanggal 21 Mei 1961, dalam rangka peringatan Hari Kebangkitan Nasional di tempat tersebut, sekitar 40.000 orang dari berbagai kalangan bekerja bakti membersihkan Taman Wilhelmina yang sudah tidak terurus itu. Kerja bakti ini dilakukan sebagai persiapan untuk lokasi pembangunan masjid yang diawali dengan pidato Menteri Jaksa Agung.

Beberapa bulan kemudian setelah kerja bakti bersama, tepatnya pada tanggal 24 Agustus 1961 menjadi tanggal yang paling bersejarah bagi kaum Islam di Indonesia khususnya di Jakarta, untuk pertama kalinya di bekas taman tersebut, kota Jakarta akan mempunyai sebuah masjid besar yang indah dan megah.

Maka dengan mengucap Basmalah. Presiden pertama RI Ir. Soekarno meresmikan permulaan pembangunan Masjid Istiqlal yang berdiri diatas area seluas 9.32 Ha.

Peresmian ini ditandai dengan pemasangan tiang pancang yang disaksikan oleh ribuan ummat Islam. Masjid ini menjadi simbol kemerdekaan bangsa Indonesia dan merupakan kebanggan milik semua kaum Islam di Indonesia.

Sarana dan Fasilitas

triptrus.com
triptrus.com

Masjid Istiqlal memiliki ruang shalat utama yang luasnya sekitar satu hektare dan bisa menampung jamaah lebih dari 16.000 orang. Ruangan ini semakin terlihat luas karena memiliki balkon 4 tingkat dan sayap disebelah timur, utara dan selatan sehingga luas seluruhnya hampir 4 hektare atau sekitar 36.980 m². Total jamaah yang bisa ditampung sekitar 61.000 orang.

Di sebelah barat ruang shalat utama terdapat mimbar yang dihimpit sebelah kanan dan kirinya oleh tembok berlapiskan marmer di mana terpajang kaligrafi Arab berbunyi: “Allah” (sebelah utara), “Muhammad” (sebelah selatan) dan “Laa Ilaha Illa Allah, Muhammad ar Rasulullah” (tengah).

Karpet Masjid Istiqlal

Semua bagian lantai utama Masjid Istqlal ditutupi dengan karpet merah sumbangan dari seorang dermawan Arab Saudi yang bernama Sheikh Esmail Abu Daud dan diserah terimahkan pada tanggal 3 Juni 2005 silam. Karpet berwarna merah sebanyak 103 gulung ini terbuat dari bahan dasar wol.

Sebanyak 18 lembar karpet digunakan untuk menutupi lantai utama. Setiap lembarnya berukuran: panjang 25 M dan lebar 4 M serta berat kurang lebih 250 kg. Untuk perawatan karpet sendiri, dilakukan secara manual, dibersihkan setiap hari dengan menggunakan alat vacum cleaner.

Rak Al Quran Masjid Istiqlal

Masjid Istiqlal juga telah menyediakan mushaf Al-Qur’an untuk digunkan/dibaca oleh para jama’ah yang ditempatkan pada rak melingkar di 12 tiang yang terdapat pada lantai utama, setiap rak tersebut berbentuk setengah lingkaran yang terdiri dari dua tingkat.

Setiap rak bisa menampung kurang lebih 100 sampai 150 mushaf yang disediakan oleh BPPMI serta waqaf dari para jamaah. Rak tempat Al Qur’an terbuat dari bahan stainless steel.

Sketsel (Pembatas Jamaah Laki-laki dan Perempuan) Masjid Istiqlal

Sebagai pembatas antara tempat sholat bagi jamaah laki-laki dan perempuan serta batas area sholat rawatib. Pada lantai utama Masjid Istiqlal juga tersedia sketsel yang terbuat dari bahan stainless steel sebanyak 20 modul dan 20 modul dari bahan kayu dengan ukuran masing-masing 200 CM x 80 CM. Sketsel tersebut bersifat knock down atau dapat digunakan/dipasang sesuai dengan kebutuhan.

Fasilitas Air, Ruang Wudhu, Kamar Mandi, WC Masjid Istiqlal

Kebutuhan air untuk bersuci di Masjid Istiqlal pada awalnya disediakan dari Perusahaan Air Minum (PAM). Sebagai cadangan untuk mengantisipasi apabila ada kekurangan atau kerusakan maka dibuatlah 6 sumur artesis dengan kedalaman 100 M. Sumur tersebut dibuat menggunakan mesin berkekuatan 3 PK dan 3 fase berkapasitas 600 liter permenit dan didistribusikan ke tempat-tempat wudhu.

Sedangkan kebutuhan air di tempat pembuangan air kecil menggunakan delapan buah mesin Hydrofour, ditambah lagi empat tangki Hydrofour berkapasitas 1400 liter. Mesin-mesin Hydrofour tersebut mengkonsumsi tenaga listrik sebanyak 15 PK.

Tempat wudhu yang terdapat di beberapa lokasi di lantai dasar yakni di sebelah selatan, timur maupun utara gedung utama. Pada setiap lokasi terdapat 100 unit tempat wudhu dengan kran air yang terbuat dari bahan stainless steel. Setiap unit tempat wudhu terdiri atas 6 buah kran sehingga jumlah kran seluruhnya sebanyak 600 buah.

Untuk toilet yang terdapat di lantai dasar sebelah selatan, barat dan timur di bawah teras raksasa. Toilet ini sengaja dibuat terpisah dari tempat wudhu. Perihal ini dimaksudkan supaya tempat yang bersih dan suci tidak berdekatan dengan tempat yang kotor. Pada sisi sebelah timur, dibawah emper masjid tersedia dua lokasi urinior yang berkapasitas 80 ruang.

Selain itu juga tersedia 52 kamar mandi dan WC dengan rincian: 12 tempat dibawah emper barat, 12 tempat dibawah emper selatan dekat menara dan 28 tempat dibawah emper sebelah timur. Setiap harinya kebutuhan air untuk wudhu, kamar mandi dan toilet ini dipasok air dari PAM yang berkapasitas 600 liter per menit.

Perpustakaan Islam Masjid Istiqlal

Perpustakaan Islam Masjid Istiqlal meskipun belum dapat mewakili jumlah besarnya, tersedia koleksi buku seperti perpustakaan-perpustakaan Islam yang besar lainnya. Di dalam perpustakaan Islam Masjid Istiqlal ini mewakili fungsinya sebagai pusat keilmuan Islam. Sedangkan untuk perpustakaan Islam sendiri sudah mulai berkembang di Indonesia dan hampir di setiap masjid-masjid besar di Ibukota, sudah dilengkapi dengan sarana perpustakaan.

Sarana Olahraga di Masjid Istiqlal

ini-hidupqu.blogspot.com
ini-hidupqu.blogspot.com

 

Berlandaskan pada semboyan “Di dalam tubuh yang sehat terdapat jiwa yang kuat.” Masjid Istiqlal menyediakan tempat olahraga tersendiri bagi para jamaahnya atau siapa saja.

Menjaga kesehatan dengan melakukan olahraga secara rutin selalu dilakukan oleh Remaja Masjid dan siswa – siswa Madrasah di Masjid Istiqlal.

BPPMI sangat mendukung sekali hal ini, sehingga untuk berbagai macam program yang ada di Masjid Istiqlal, BPPMI menyediakan fasilitas – fasilitas pendukung seperti misalnya, sarana untuk berolah raga yang representatif berstandar nasional bahkan internasional.

Semua sarana itu dibangun di pojok kiri sebelah timur Masjid Istiqlal.

Sarana olah raga yang representative itu berbentuk lapangan terbuka yang terdiri dari lapangan Badminton, Futsal, Basket, dan Bola Volly. Lapangan tersebut diresmikan pada tanggal 17 Januari 2009 M / 20 Muharram 1430 H oleh Ibu Menteri Agama RI; Lapangan tersebut mempunyai luas 420 meter persegi.

Lift untuk Para Penyandang Cacat

Indonesiakaya.com
Indonesiakaya.com

Masjid, sebagai sarana umum dan beribadah, tentunya dikunjungi oleh berbagai macam orang. Dari orang yang ‘sempurna’ secara fisik maupun para penyandang cacat dan lanjut usia. Oleh sebab itu, untuk penyandang cacat yang mau ke lantai dua, tiga, empat, atau yang lainnya tersedia lift yang terletak di bagian selatan Masjid; tepatnya di lokasi pintu Ar-Rahman dan dapat diakses melalui pintu gerbang depan kantor pusat pertamina.

Hal tersebut (penyediaan lift bagi penyandang cacat) adalah sebagai upaya dalam rangka meningkatkan pelayanan kepada para jamaah khususnya penyandang cacat dan lanjut usia.

Lift untuk penyandang cacat tersebut berkapasitas 6 orang; tidak bisa dioprasikan bebas, namun dioprasikan di waktu – waktu tertentu saja sesuai kebutuhan.

Poliklinik

Nationalgeographic.co.id
Nationalgeographic.co.id

Pada tahun 1968, ketika Bapak Sumarno menjabat sebagai Gubernur Daerah Khusus Ibukota Jakarta (DKI Jakarta), di mana Masjid Istiqlal masih dalam proses pembangunan … untuk membantu karyawan yang bekerja saat itu, khususnya dalam bidang kesehatan, Gubernur Sumarno meminta bantuan pada pihak RS Gatot Soebroto untuk ikut serta membantu dalam bidang pelayanan kesehatan karyawan dan pekerja proyek pembangunan Masjid Istiqlal.

Pada saat itu, pihak RS menyetujui dengan langkah awal mengirimkan empat orang tenaga mantri secara bergiliran. Empat orang mantri itu adalah H. Abd. Hamid Ipang, H. M. Sukiran, Suster Yuyun Rahayu, dan Suster Rosda. Tetapi setelah proyek itu diserahkan kepada Sekretaris Negara pada tahun 1984, tenaga pelayana kesehatan sisa dua orang. Orang itu adalah H. Abd. Hamid Ipang dan H. M. Sukiran.

Dimulai dari sana sampai hari ini, Masjid Istiqlal masih menyediakan pelayanan kesehatan berupa poliklinik umum di bawah tanggung jawab dr. Khulushinnisak, MARS yang juga sebagai seorang PNS Departemen Agama.

Di poliklinik ini, jamaah Masjid Istiqlal bisa mendapatkan pelayanan kesehatan dengan mudah. Letak poliklinik ini ada di lantai dasar Masjid Istiqlal.

Beberapa pelayanan kesehatan yang disediakan di Poliklinik Istiqlal di antaranya konsultasi dokter umum, pemeriksaan, dan obat – obatan generik. Untuk karyawan dan jamaah, biasanya dibuat bebas biaya alias gratis dengan syarat harus membawa kartu berobat (atau kartu indentitas; KTP / SIM jika belum memiliki kartu berobat).

Jadwal pelayanannya sendiri dimulai dari senin sampai jumat dari pukul 8 pagi sampai jam 4 sore hari. Sabtu dan ahad tutup, terkecuali bila di Masjid Istiqlal sedang ada kegiatan Islam atau acara-acara penting lainnya.

Pintu masuk

www.beritajakarta.com
www.beritajakarta.com

Masjid Istiqlal memiliki tujuh pintu gerbang bagi Jama’ah atau masyarakat yang ingin masuk ke dalam masjid tersebut, masing-masing pintu tersebut memiliki nama yang berbeda yang diambil berdasarkan Asmaul Husna: dari ketujuh pintu ini tiga diantaranya difungsikan sebagai pintu utama, diantaranya adalah pintu Al Fattah, pintu As Salam dan juga pintu Ar Rozzaq.

Al Fattah (Gerbang Pembuka): pintu utama ini terletak di sebelah sisi timur laut Masjid dan berhadapan langsung dengan gereja katedral. Pintu tersebut merupakan pintu yang dapat digunakan oleh masyarakat umum dan senantiasa terbuka, pintu ini juga terletak di bangunan pendampung yang memiliki kubah berukuran kecil diatasnya.

Al Quddus (Gerbang Kesucian): pintu ini terletak disebelah sisi timur laut dan ada di sudut bangunan utama dari masjid.

As Salam (Gerbang Kedamaian): Pintu ini juga merupakan salah satu pintu utama dan terdapat di ujung sebelah utara di sudut bangunan utama. Pintu tersebut langsung barisan shaf salat terdepan. Pintu tersebut biasanya digunakan untuk tamu atau pengunjung penting VIP seperti duta besar dari negara Muslim, Ulama dan tamu-tamu lainnya dalam acara penting keagamaan.

Al Malik (Gerbang Raja): ini juga merupakan pintu VVIP dan terletak di sisi barat sudut bangunan utama Masjid Istiqlal, seperti pintu As Salam, pintu Al Malik juga langsung menuju ke barisan shaf terdepan dan digunakan untuk menyambut tamu negara yang datang ke Masjid, seperti Presiden ataupun Wakil Presiden.

Al Ghaffar (Gerbang Ampunan): pintu ini ada di ujung bagian selatan bangunan selasar pelataran dan tepat dibawah menara Masjid Istiqlal. Pintu ini merupakan pintu yang paling dekat dengan gerbang tenggara dan juga merupakan pintu terjauh dari Mihrab Masjid.

Ar Rozzaq (Gerbang Rezeki): pintu ini juga merupakan salah satu pintu utama dan terletak di tengah sisi selatan selasar pelataran dari Masjid Istiqlal. Dari pintu ini ada koridor yang lurus yang kemudian menghubungkannya dengan pintu lain, yaitu Al Fatah di sisi timur laut.

Ar Rahman (Gerbang Pengasih): yang terakhir adalah pintu Ar Rahman yang letaknya di sudut barat daya bangunan selasar Masjid Istiqlal dan berdekatan dengan pintu Al-Malik.

Bedug Masjid Istiqlal

jakartawalkingtour.com
jakartawalkingtour.com

Dijaman dahulu Masjid-masjid di Indonesia biasanya dilengkapi bedug yang memiliki fungsi sebagai pertanda masuk waktu shalat, bedug dipukul beberapa kali kemudian diikuti dengan kumandang Adzan. Bedug sendiri di jaman dahulu digunakan sebagai alat komunikasi tradisional baik dalam hal keagamaan politik dan lain sebagainya.

Masjid Istiqlal juga memiliki bedug dan masih dilestarikan keberadaanya sebagai warisan budaya Indonesia. Sekarang ini suara bedug direkam dan kemudian diperdengarkan dari pengeras suara.

Bedug tersebut mempunyai ukuran yang besar dan kemudian ditempatkan di atas penyangga setinggi 3,80m, panjangnya 3,45m, dan lebarnya 3,40m. Semuanya diambil dan dibuat dari kayu jati dari hutan Randu Blatung di Jawa Tengah.

Bedug Masjid Istiqlal memiliki panjang 3 meter, dengan berat 2,30 ton, bagian depan bedug tersebut berdiameter 2 meter sedangkan bagian belakangnya 1,71 meter dan terbuat dari kayu meranti merah dari pohon berumur sekitar 300 tahun yang diambil dari hutan di Kaltim kemudian diawetkan dengan bahan pengawet superwolman salt D (fluoride, arsenate dan clirome)

Selain itu, masjid Istiqlal juga mempunyai sarana dan fasilitas berupa karpet, rak Al-Quran, perpustakaan, lift bagi penyandang cacat dan masih banyak yang lainnya.

Demikian penjelasan singkat tentang masjid Istiqlal. Semoga bermanfaat ya. Sekian dan terima kasih.

Tinggalkan komentar