Intip Bagaimana Sang Ayah Mendidik Musa agar Menjadi Hafidz Cilik 30 Juz Al-Qur’an

Semenjak dinobatkan menjadi juara satu dalam acara televisi Hafiz Indonesia tahun 2014, seketika itu nama Musa mulai naik daun. Meskipun usianya baru 5,5 tahun, akan tetapi Musa kini telah ramai menjadi perbincangan publik di Indonesia, bahkan hingga ke negara tetangga, seperti Malaysia dan Singapura.

Mengenai seberapa kuat Musa dalam menghafal, ia tidak hanya terbukti dalam ajang lomba hafal Al-Qur’an se-Indonesia saja. Namun juga sukses hingga ke mancanegara.

Musa sempat mewakili Indonesia dalam lomba hafal Al-Qur’an Internasional yang diselenggarakan di Jedah, Arab Saudi. Baru-baru ini Musa kembali mewakili Indonesia di Mesir dalam ajang lomba yang sama seperti diatas. Kabarnya, Musa memperoleh juara 3 dalam lomba tersebut.

Diakui bocah yang lahir pada tahun 2008 ini memiliki kekuatan menghafal Al-Qur’an yang istimewa. Tidak hanya hafal Al-Qur’an, Musa di usianya yang berumur 8 tahun kini mulai memperkaya dengan menghafal beragam bacaan kitab lain, seperti Arbain Nawawi, Arbain Hadits, Umdatul Ahkam dan Durusul Lughah.

Untuk saat ini Musa sedang fokus menghafal kumpulan hadits shohih dari Bulughul Maram. Yang unik adalah kemampuan Musa ini justru diperoleh dengan hanya belajar dari ayahnya saja.

Lantas, apa saja usaha ayahnya dalam mendidik anaknya agar menjadi hafidz Al-Qur’an 30 Juz? Berikut ini penjelasan dari Ustad Rahmanto Abu Al Laits selaku ayah Musa.

Rajin Mengulang Hafalan (Muraja’ah)

Musa Hafidz Cilik
indonesiapositif.com

Sebagaimana anak pada umumnya, Musa dahulu juga kesulitan menghafal Al-Qur’an. Bermodalkan ketekunan dari ayahnya, akhirnya Musa hafal juga.

Beliau mengungkapkan bahwasanya kunci dalam mengatasi kesulitan tersebut adalah mengulang-ulang hafalan Al-Qur’an.

Bahkan ayah Musa pun tidak hafal semua hafalan dari Musa hingga saat ini. Akan tetapi dengan kegigihannya, beliau telah berhasil mendidik Musa agar hafal dengan kuat.

Dijauhkan dari Televisi

Jauh dari Televisi
play2health.com

Televisi sudah menjadi salah satu elektronik yang dijauhkan dari musa. Ayahnya sangat menjaga Musa agar tidak terjerumus dengan tayangan-tayangan negatif televisi.

Hal ini terbukti ketika Musa dan ayahnya sedang mengobrol dengan salah seorang tamu di ruang tunggu. Kebetulan saat itu ada televisi di depan mereka. Seketika itu sang ayah langsung berpindah dan melanjutkan obrolan.

Disiplin dalam Melakukan Kegiatan Harian Rutin

Musa Hafidz Cilik (1)
sukarodadua.blogspot.com

Kata ayahnya, kegiatan rutin Musa yakni bangun pagi setengah jam sebelum adzan subuh, kemudian menjadi imam dalam sholat tahajud untuk adik-adiknya. Dilanjutkan dengan sholat subuh berjama’ah di masjid.

Seusai subuh, Musa memulai muraja’ahnya hingga jam 9 pagi. Bayangkan, dalam sehari Musa mampu murajaah 10 juz secara rutin!

Musa baru makan pagi setelah jam 9-10. Lalu ia mulai beristirahat dengan tidur siang. Bagi Musa sendiri, tidur siang ini hukumnya wajib. Setelah Dzuhur Musa menambah hafalan baru hingga Ashar tiba.

Seusai sholat Ashar, barulah Musa menghafal kumpulan hadits dalam Bulughul Maram. Setelah itu, ia memiliki kesempatan bermain dari jam 5 sampai Maghrib.

Seusai Maghrib dan Isya, Musa selalu diikutkan pengajian ayahnya. Sebelum ayahnya membawakan taklim kepada para jama’ah, biasanya Musa mengawali acara tersebut dengan membaca hafalannya.

Beberapa kali jama’ah juga diberi kesempatan untuk mengetes dan bertanya. Hampir setiap hari kegiatan rutin tersebut berjalan.

Batasi Pergaulan

Musa Hafidz Cilik (2)
kemenag.go.id

Kunci lain yang diaplikasikan oleh ayah Musa yakni membatasi dan menjaga pergaulan Musa. Bisa dibilang bahwa Musa masih kurang bergaul dengan anak usia sebayanya. Usut punya usut, ini memang bertujuan untuk menjaga hafalan Musa.

Membatasi pergaulan menjadi penting mengingat buruknya suasana pergaulan anak-anak sekitar. Fatal akibatnya jika salah dalam bergaul. Dikhawatirkan, berbagai permainan yang tidak sehat justru malah akan memperburuk tumbuh kembang Musa.

Menjaga Pola Makan

Musa Hafidz Cilik (3)
idntimes.com

Keluarga Musa selalu terbiasa mengkonsumsi madu, sari kurma dan propolis. Ayahnya selalu menyuplai berbagai makanan dan minuman thayib kepada Musa dan para adiknya. Hal ini dikarenakan menghafal pasti memerlukan banyak tenaga bagi otak.

Mengkonsumsi kurma dan madu merupakan salah satu kiat agar menghafal Al-Qur’an semakin kuat. Dalam beberapa kitab, salah satunya Ta’lim Muta’allim, madu termasuk dalam minuman yang direkomendasikan agar menghafal Al-Qur’an menjadi lancar dan baik.

Tinggalkan komentar