Apakah Kamu Seorang Muslim yang Tidak Shalat?

Kamu sebenarnya ingin sholat tapi kamu merasa tidak bisa.

Mungkin kamu selalu ingin menjadi orang yang benar-benar rajin shalat. Kamu merasa sangat mudah bagi orang lain untuk shalat. Mereka tinggal bangun dan melakukannya.

Mungkin juga dulu kamu termasuk orang yang rajin shalat, tapi sekarang, tidak begitu lagi.

Di dalam dirimu, ada yang terasa rusak. Namun, sebenarnya itu tidak rusak. Lebih mirip terasa ada yang hampa di dalamnya. Ada yang hilang. Kamu merasa kosong.

Kalau kamu merasa seperti ini, terasa sulit untuk shalat. Masalah dari kebanyakan nasihat shalat adalah memandangnya dari sudut reaktif, bukannya sudut pandang proaktif.

Tidak shalat? Langsung mulai saja. Atau, lakukan satu shalat  dan terus tingkatkan sampai kamu mencapai shalat 5 waktu. Saran yang bagus, bukan?

Ternyata tidak. Hal itu bukanlah apa yang membuat seseorang menjadi lebih dekat dengan shalat.

Untuk orang yang merasa kosong, “shalat saja” tidaklah menggerakkan jiwanya. Tidak mengisi kekosongan yang ada. Bahkan bisa memperbesar kehampaan yang kamu rasakan.

Yang perlu kamu lakukan justru mulai dari tempat lain. Kamu perlu mengisi dirimu sendiri sampai akhirnya tindakanmu mengikuti.

Kita shalat karena satu alasan sederhana: kita mencintai Allah. Mencintai Allah-lah yang membuat shalat terasa mudah. Mencintai Allah yang membuatmu berdiri walau kmau kelelahan. Tanpa kepingan puzzle yang satu ini, tak ada yang bisa membuatmu rajin shalat.

Jika kita membaca sejarah Muslim generasi sahabat, yakni saat Islam pertama kali turun, apakah ada banyak perintah? Tidak. Ayat-ayat yang pertama turun berisi pelajaran tentang Allah, malaikat-malaikat-Nya, nabi-nabi-Nya, kitab-kitab-Nya. Aturan dan perintah datang belakangan, setelah fondasi ini selesai dibangun.

Jadi dalam hidup kita, mengapa kita fokus pada aturan dan perintah tanpa memperhatikan fondasinya terlebih dahulu?

Kalau kita ingin termasuk golongan yang rajin shalat, orang-orang yang rutin shalat dengan mudah, yang langsung melangkah saat waktu shalat datang, kita perlu mulai membangun rasa cinta pada Allah. Untuk itu, kita perlu mengenal-Nya.

Satu cara yang bisa dilakukan adalah memulainya dengan berzikir. Ucapkah SubhanAllah 100 kali sehari. Saat melakukannya, bayangkanlah betapa lemahnya dirimu, dan betapa Allah itu Mahakuasa. Bayangkan bahwa hanya dengan pertolongan Allah kita bisa melakukan apa pun. Saat kamu melakukannya, kamu memulai kebiasaan BERPIKIR tentang Allah. Kamu sedang mengingat-Nya.

Apa yang terjadi saat kamu mengingat Allah? Hatimu yang mati mulai melembut. Kamu mulai merasakan lebih banyak kedamaian. Dan yang terpenting, Allah Mengingatmu.

Ibnu Qayyim menyebutkan, “Di dalam hati ada kebekuan yang hanya bisa dilembutkan dengan mengingat Allah. Maka seorang hamba harus memperlakukan kebekuan hatinya  dengan cara mengingat Allah.”

Dari Abu Hurairah –radhiyallahu ‘anhu-, ia berkata bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Allah Ta’ala berfirman: Aku sesuai persangkaan hamba-Ku. Aku bersamanya ketika ia mengingat-Ku. Jika ia mengingat-Ku saat bersendirian, Aku akan mengingatnya dalam diri-Ku. Jika ia mengingat-Ku di suatu kumpulan, Aku akan mengingatnya di kumpulan yang lebih baik daripada pada itu (kumpulan malaikat). (HR. Bukhari no. 6970 dan Muslim no. 2675).

“Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenang” (Qur’an, 13:28)

INGATLAH hal ini setiap kali kamu berzikir. Rasakanlah kalau kamu sedang berjalan mendekat pada Allah, seperti lanjutan hadits di atas.

Jika ia mendekat kepada-Ku sejengkal, Aku mendekat kepadanya sehasta. Jika ia mendekat kepada-Ku sehasta, Aku mendekat kepadanya sedepa. Jika ia datang kepada-Ku dengan berjalan (biasa), maka Aku mendatanginya dengan berjalan cepat.” (HR. Bukhari no. 6970 dan Muslim no. 2675).

Kamu (belum) mulai shalat, tapi ingatlah kalau kamu sedang mendekat. Izinkan dirimu dalam kondisi dimana kamu tahu kalau kamu tidak melakukan hal yang wajib kamu lakukan, namun kamu sedang melangkah ke sana.

Salah satu strategi setan adalah membuatmu percaya kalau lakukan atau tidak sama sekali. Baik kamu shalat, atau kamu tidak dan berdosa. Maka saat kita tidak shalat, ada rasa bersalah yang menyelimuti diri kita, menenggelamkan kita dalam kegelapan, tak bisa melangkah ke depan.

Tahukah kamu cerita seorang pria yang membunuh 99 orang?

Dari Abu Said, yaitu Sa’ad Ibn Sinan al-Khudri ra. bahwa Nabiullah saw. bersabda:

Ada seorang lelaki dari golongan ummat yang sebelummu telah membunuh sembilan puluh sembilan orang, kemudian ia menanyakan tentang orang yang teralim dari penduduk bumi, ialu ia ditunjukkan pada seorang pendeta. lapun mendatanginya dan selanjutnya berkata bahwa sesungguhnya ia telah membunuh sembilan puluh sembilan orang, apakah masih diterima untuk bertaubat.  Pendeta itu menjawab: Tidak dapat. Kemudian pendeta itu dibunuhnya dan dengan demikian ia telah menyempurnakan jumlah seratus dengan ditambah seorang lagi itu. Lalu ia bertanya lagi tentang orang yang teralim dari penduduk bumi, kemudian ditunjukkan pada seorang yang alim, selanjutnya ia mengatakan bahwa sesungguhnya ia telah membunuh seratus manusia, apakah masih diterima taubatnya.

Orang alim itu menjawab: Ya, masih dapat. Siapa yang dapat menghalang-halangi antara dirinya dengan taubat itu. Pergilah engkau ke tanah begini-begini, sebab di situ ada kaum yang menyembah Allah Ta’ala, maka menyembahlah engkau kepada Allah itu bersama mereka dan janganlah engkau kembali ke tanahmu sendiri, sebab tanahmu adalah negeri yang buruk. Orang itu terus pergi sehingga di waktu ia telah sampai separuh perjalanan, tiba-tiba ia didatangi oleh kematian. Kemudian bertengkarlah untuk mempersoalkan diri orang tadi malaikat rahmat dan malaikat azab, malaikat rahmat berkata: Orang ini telah datang untuk bertaubat sambil menghadapkan hatinya kepada Allah Ta’ala. Malaikat azab berkata: Bahwa orang ini sama sekali belum pernah melakukan kebaikan sedikitpun. Selanjutnya ada seorang malaikat yang mendatangi mereka dalam bentuk seorang manusia, lalu ia dijadikan sebagai pemisah antara malaikat-malaikat yang berselisih tadi, untuk menetapkan mana yang benar.

Ia berkata: Ukurlah olehmu semua antara dua tempat di bumi itu, ke mana ia lebih dekat letaknya, maka orang ini adalah untuknya. Malaikat-malaikat itu mengukur, kemudian didapatinya bahwa orang tersebut adalah lebih dekat kepada bumi yang dikehendaki -yakni yang dituju untuk melaksanakan taubatnya. Oleh sebab itu maka ia dijemputlah oleh malaikat rahmat.

(Muttafaq ‘alaih)

Dalam versi lainnya: “Pria ini ditemukan lebih dekat sejengkal dengan negeri yang buruk dan akhirnya termasuk ke dalam golongan mereka.”

Ada versi lain juga yang menyebutkan: “Allah memerintahkan (negeri yang ingin pria ini tinggalkan) untuk menjauh dan memerintahkan negeri lainnya (tujuannya) untuk mendekat lalu Dia berkata: ‘Seakrangan ukurlah jarak di antara mereka.’ Ternyata lelaki ini lebih dekat sejangkauan tangan dan oleh karena itu diampuni.”

Hal yang mengagumkan dari cerita ini adalah pria ini belum mengubah tindakannya secara dramatis. Ia hanya BERJALAN menuju perubahan. Dan itu sudah cukup bagi Allah. Allah Mahasabar sampai-sampai Dia memperhatikan kita melanggar perintah-Nya. Lalu Dia menunggu.  Menunggu sampai kita kembali pada-Nya. Subhanallah!

Jadi mulailah dengan melangkah mendekati-Nya. Dan sadari bahwa saat kamu berzikir, kamu sedang melangkah.

Cara lainnya adalah dengan mempelajari nama-nama  Allah. Saat kamu MENGENAL Allah, benar-benar mengenali-Nya, kamu tak akan rela sedetik pun hatimu tidak terikat dengan-Nya.mengenal nama-nama Allah akan mendekatkan hatimu dengan-Nya. Dan akhirnya, kamu akan lebih sering mengingat-Nya.

Seiring dengan berjalannya waktu, keinginan-Mu untuk memenuhi perintah-Nya dan kembali pada-Nya akan meningkat. Dan inilah yang akan mengisi ruang kosong di hatimu.  Inilah yang akan  menghilangkan kehampaan. Inilah yang membuat shalat terasa mudah. Inilah yang membuat saran“cobalah langsung shalat” menjadi bermanfaat.

Begitu kamu mencapainya, tidak akan menjadi sulit untuk berdiri melakukan satu shalat. Perlahan, satu akan menjadi dua. Dan seterusnya.

Namun sebelum mulai bangun shalat, gunakan waktumu untuk membangun fondasi, sama seperti yang generasi muslim pertama lakukan. Mulailah dengan langkah kecil, seperti berzikir atau mempelajari nama-Nya.

Terjemahan bebas dari artikel Confessions of A Muslim Mommaholic

Tinggalkan komentar