Di Balik Orang Sukses Ada Perjuangan & Ketulusan Ibu yang Luar Biasa: Kisah Ibu Thomas Alva Edison

“My mother was the making of me. She was so true, so sure of me, and I felt I had something to live for, someone I must not disappoint.”

Thomas Alva Edison

Hampir semua orang mengenal Thomas Alva Edison, perintis industri bola lampu, namun siapakah Nancy Matthews Eliott? Jika membicarakan Nancy, Thomas selalu menggunakan intonasi yang penuh rasa hormat. Inilah kisah tentang seorang wanita yang paling dihormati oleh salah satu penemu terbesar yang pernah ada.

 

Nancy Elliott, seorang wanita yang mengabdikan hidupnya untuk membangun keluarganya

news.com.au
news.com.au

Nancy Matthews Elliott adalah sosok wanita yang menarik dan berpendidikan. Ia lahir di Chenango, New York, pada tanggal 4 Januari 1808, beberapa sumber lainnya menyebutkan 1810. Saat remaja, Nancy memiliki perawakan yang agak tembem dengan tinggi sedang, rambutnya cokelat halus. Matanya cokelat. Orangnya easygoing, memandang kehidupan dengan ringan.

Ayahnya bernama Thomas Elliott. Kakeknya seorang pejuang revolusi Amerika keturunan Skotlandia, Kapten Ebenezer Elliott. Kapten Elliott ikut dalam perang 7 tahun, di bawah pimpinan George Washington. Saat menetap di Stonington, Connecticut, Thomas Elliott bertemu dengan Mercy Peckham, yang akhirnya menjadi ibu dari Nancy.

Keluarga Elliott sangat menekankan pentingnya pendidikan, Nancy dapat mengenyam pendidikan yang layak pada zamannya. Saat masih kecil, Nancy mendapatkan pendidikan dasar terutama 3R (Reading, Writing, Arithmetic) dari sekolah beserta keterampilan-keterampilan yang diperlukan untuk menjadi ibu rumah tangga.

Setelah kepindahan keluarga ke Vienna, Kanada, Nancy memutuskan untuk menjadi guru. Akhirnya ia mengajar di sekolah lokal. Di kota itulah ia bertemu dengan Samuel Edison, pemuda yang serba bisa, temperamen, dan optimis. Keduanya saling menyukai dan akhirnya menikah pada 12 September 1828. Saat itu Samuel berusia 24 tahun.

Setelah pernikahan, Samuel memiliki berbagai pekerjaan, mulai dari membelah kayu, menjahit, hingga menjaga warung sementara Nancy tetap menjadi guru. Selama di Kanada, Nancy melahirkan 4 orang anak. Anak perempuan pertama Marion Wallace pada 15 September 1829, anak laki-laki William Pit pada 5 November 1831, Harriet Ann (“Tannie”) pada 23 Maret 1833, dan Carlile Snow pada 8 Januari 1836.

Nancy Eliott mengiringi jatuh bangun kehidupan suaminya dengan kesetiaan

http://michaelhyatt.com/
http://michaelhyatt.com/

Pada periode 1830-an akhir, Samuel terlibat pemberontakan terhadap pemerintahan Inggris, namun pemberontakan tersebut gagal. Kondisi ini memaksa Samuel harus pindah ke Amerika pada tahun 1839 karena orang-orang yang terlibat pemberontakan saat itu diburu dan dibuang ke Australia.

Tidak lama setelah keberangkatan suaminya, Nancy menyusul sambil membawa keempat anaknya. Anak tertuanya saat itu baru berumur 7 tahun. Ini bukanlah perjuangan yang mudah, dan Nancy tetap optimis bahwa mereka sekeluarga akan lebih baik di tempat barunya. Di Amerika, mereka sekeluarga menetap di Milan-Ohio.

Setelah pindah ke Milan, Nancy melahirkan anak ke-5, yakni Samuel O. pada 5 Maret 1840. Mungkin berbekal dari pengalaman menderitanya imigran Kanada yang tidak menguasai tanah, ia memutuskan membeli sepetak tanah pada tahun 1841. Samuel mendukung keputusan istrinya lalu membuatkan rumah yang ia desain sendiri di atas tanah itu.

Memiliki rumah sendiri bukan berarti kehidupan Nancy menjadi tenang, tugas seorang ibu rumah tangga sangatlah berat, apalagi Nancy dan Samuel akan mengalami tragedi-tragedi yang menyesakkan pada fase kehidupan berikutnya.

Nancy Eliott itu seorang ibu yang tangguh, menghadapi banyak kesedihan di awal-awal kehidupan rumah tangganya

townnews.com
townnews.com

Saat rumah tangga Samuel dan Nancy mulai cukup mapan di kediaman barunya, kemalangan datang berkali-kali. Pada tahun 1842, anak ke-4 keluarga Edison, Carlile, meninggal saat berusia 6 tahun. Samuel O. meninggal satu tahun kemudian, saat berusia 3 tahun. Satu kebahagiaan muncul, pada tahun 1844, Nancy melahirkan putri berikutnya, Eliza.

Walau begitu, Nancy cukup tertekan ketika masa-masa hamil anak lelaki terakhirnya. Ditambah lagi saat itu ia sudah berusia 38 tahun. Untuk mengurangi ketegangannya, Nancy merajut baju untuk calon bayinya selama 3 jam sehari. Untunglah Nancy berhasil melahirkan anak terakhirnya pada 11 Februari 1847, yang diberi nama Thomas Alva. Namun dokter mengamati ukuran kepala sang bayi terlalu besar dan badannya demam. Dokter khawatir otaknya menjadi terganggu. Untungnya kekhawatiran dokter ini tidak terjadi, tapi membuat Samuel sedikit ragu akan kecerdasan anaknya.

Tahun 1847 kehidupan Nancy sudah cukup tenang. Ia baru saja melahirkan anak terakhirnya. Marion sudah berusia 17 tahun dan akan segera menikah. William Pitt berumur 16 tahun dan sudah siap untuk mencari pekerjaan di kota. Sementara Tannie masih ingin tinggal bersama ibunya selama beberapa bulan ke depan. Namun akhir tahun tersebut Nancy kehilangan anaknya yang baru berumur 3 tahun, Eliza.

Lima tahun sudah Nancy mengalami masa-masa penuh kesedihan. Ia kehilangan 3 anaknya yang masih kecil. Hal ini menimbulkan ketakutan yang cukup besar dalam diri Nancy, ia tidak ingin kehilangan bayinya, Al. Saat balita, Al sering sakit dan tubuhnya selalu lebih kecil daripada anak seumurannya. Nancy mencurahkan seluruh perhatiannya untuk merawat Al, seringkali ia berdoa sangat lama untuk kesehatan bayinya.

Kesedihan Nancy dan Samuel terganti dengan pernikahan salah satu putri mereka. Marion menikah dengan Homer Page—petani yang cukup sukses di Milan—pada tanggal 19 Desember 1849 di rumah Edison. Kelak ketika keluarga Edison pindah ke Michigan, Marion dan suaminya tetap tinggal di Milan mengurus bisnis pertanian yang semakin berkembang.

Karena kehilangan itulah, Nancy Eliott sangat tulus menyayangi dan mendidik anak yang kelak akan jadi penemu besar, Thomas Alva Edison

seeyourinterest.com
seeyourinterest.com

Setelah pernikahan Marion, ketabahan Nancy diuji lagi karena Al yang sudah lewat 2 tahun belum bisa juga berkata-kata. Walaupun tidak menyadari bakat luar biasa seperti apa yang dimiliki Al, Nancy sangat percaya bahwa anaknya sangat cerdas. Pengalamannya sebagai guru dan intuisinya sebagai ibu mengatakan demikian.

Oleh karena itu ia bisa bersabar mengasuh dan mendidik anak yang sangat disayanginya itu. Setelah berusia 4 tahunlah Nancy merasa bahagia akhirnya anaknya bisa berbicara. Namun Al masih butuh banyak perhatian karena sering sakit, walau begitu Nancy memperhatikan rasa ingin tahu anaknya ini lebih besar daripada anak-anaknya yang lain.

Nancy mengerti tentang pendidikan yang baik bagi anak, ia tahu bahwa anak yang penuh rasa ingin tahu perlu dibimbing agar mampu tumbuh dan belajar dengan baik. Nancy senang sekali menjelaskan hal-hal yang ingin diketahui anaknya ini. Suatu ketika Al melihat seekor itik sedang mengerami telur-telurnya, Al bertanya mengapa ibu itik mengerami telur-telurnya. Dengan sabar ibunya menjawab bahwa dengan begitu, telur-telur itik dapat tumbuh dengan baik dan menetas menjadi itik yang sehat. Rasa ingin tahu sang anak pun menjadi sedikit terpenuhi, hingga akhirnya Samuel menemukan Al mencoba mengerami telur-telur itu sendiri.

Nancy semakin yakin bahwa anaknya sangat cerdas bukan hanya dari rasa ingin tahu Al. Sebelum berusia 5 tahun, Al sudah mampu menghapalkan dan menyanyikan seluruh lagu anak-anak yang ada di Milan. Dibutuhkan kemampuan memori yang sangat baik untuk dapat mengingat cukup banyak lagu, terutama sebelum menginjak bangku sekolah.

Seringkali rasa ingin tahu dapat membahayakan anak kecil, Nancy tahu hal ini. Namun ada saja waktu di saat Nancy lengah mengawasi anaknya. Al hampir saja membuat kebakaran di gudang jerami keluarga.

Penduduk desa heboh. Setelah api berhasil dipadamkan dan Al diselamatkan, Samuel merasa malu akan kelakuan anaknya. Ia memukul pantat Al di hadapan orang banyak. Untunglah Nancy, dengan jiwa keibuannya, mampu menenangkan kemarahan suaminya.

Walaupun keras, suami Nancy ini perhatian sekali terhadap anak bungsunya. Bentuknya saja yang berbeda dengan Nancy. Samuel menjadi pelindung bagi Al ketika rasa ingin tahu anaknya itu membahayakan diri Al.

Suatu ketika Al ingin tahu dari mana gandum berasal. Ia pun memanjat naik ke atas penyimpan gandum. Al tergelincir lalu jatuh ke dalam tumpukan gandum dan tenggelam. Untunglah Samuel sempat menengok anaknya. Ia berhasil menyelamatkan Al sebelum mati kehabisan nafas.

Pendidikan anak adalah prioritas utama dalam hidup Nancy Eliott, Thomas Edison harus mendapat pendidikan terbaik yang bisa ia berikan

kkiwarsi.wordpress.com
kkiwarsi.wordpress.com

Amerika Serikat terus berkembang, termasuk kota-kota di sekitar rumah keluarga Edison. Rel-rel kereta api dipasang dimana-mana sehingga mempermudah perjalanan. Semakin sedikit orang yang berpergian melalui Milan, penghasilan keluarga Edison pun semakin sedikit hingga akhirnya Samuel Edison memutuskan untuk pindah ke kota yang lebih hidup. Mereka pindah ke Port Huron, Michigan pada tahun 1854.

Namun Al sakit sehingga Nancy harus merawatnya dulu hingga sembuh. Kondisi tubuh Al yang kurang sehat ini juga yang menyebabkan Nancy dan Samuel memutuskan agar anaknya tidak masuk sekolah lebih awal seperti kakak-kakaknya, selain karena kondisi ekonomi keluarga saat itu yang memang tidak baik.

Setelah Al mulai sehat, Nancy membawa serta anaknya yang berusia 7 tahun itu ke Port Huron. Di sana keluarga Edison memasukkan Al belajar di sekolah lokal, Family School for Boys and Girls. Al berada satu kelas dengan 38 anak lainnya, di bawah bimbingan Mr. Crawford.

Ketika seorang anak sudah menginjak bangku sekolah, bukan berarti ibu dan ayah dapat melepas tanggung jawab mendidik anak begitu saja. Nancy sangat menyadari bahwa tugasnyalah membimbing Al agar menjadi cerdas, dewasa, dan bermoral; sekolah hanya membantu. Namun jiwa keibuan Nancy akan ditantang, ternyata sekolah tidak mampu mengenali potensi besar Al.

Memutuskan untuk Mengajar Al oleh Dirinya Sendiri

www.huffingtonpost.co.uk
www.huffingtonpost.co.uk

Di rumah, Al biasa bertanya banyak hal kepada ibunya setiap saat dan kebiasaan ini Al bawa ke sekolah. Namun kondisi sekolah yang Al masuki berbeda jauh dengan rumahnya. Pendiri sekolahnya, Reverend George Engel, menjalankan sekolah dengan disiplin yang kaku. Setiap anak harus memerhatikan dan duduk diam sementara gurunya, Mr. Crawford, menerangkan. Setiap anak harus bisa mengingat dan mengulangi kata-kata guru.

Rasa ingin tahu dan sifat kreatif Al membuatnya tidak merasa nyaman dengan lingkungan kelas seperti ini. Al seringkali menanyakan hal-hal yang timbul di benaknya secara tiba-tiba. Hal ini mengganggu cara mengajar gurunya yang kaku.

Di lain pihak, Al seringkali kehilangan minat jika pelajaran diberikan terlalu lambat atau kelasnya membosankan. Gaya mengajar Mr. Crawford yang monoton seringkali membuat Al tidak fokus. Al terkadang melamun, mencoret-coret papan belajarnya. Atau menatap ke luar jendela, mengamati kapal feri yang melintasi Sungai St. Claire.

Mr. Crawford kerpkali mempermalukan Al di depan kelas atau membuatnya duduk di pojokan sebagai hukuman atas tidak memperhatikan. Hingga akhirnya Mr. Crawford yang tidak melihat perubahan pada diri Al tidak tahan lagi, mencapnya bukan hanya anak nakal, tapi addled, frase untuk telur yang membusuk, menandakan anak yang tidak mampu bepikir.

Bisa dibayangkan seorang anak kecil yang terlambat masuk sekolah karena sakit, sangat bersemangat untuk pergi ke sekolah karena di rumah Nancy memberi tahu sekolah adalah tempat yang bagus untuk bertanya dan belajar. Namun saat di sekolah ia dipermalukan di depan kelas sebagai orang yang bodoh. Al pulang ke rumah sambil menangis, sambil sesunggukan menceritakan kepada Nancy bahwa gurunya menganggap Al tidak akan mampu untuk belajar.

Tentang masa-masa sekolah itu, setelah dewasa Al pernah berkata, “Saya… hampir saja menganggap diri saya sebagai orang yang benar-benar bodoh.” Al benar-benar terpukul. Untung saja Nancy mengambil langkah yang tepat.

Nancy sangat marah. Nancy menenangkan Al dengan mengatakan bahwa Al adalah anak yang sangat cerdas, dan memintanya untuk tidak terlalu memikirkan perkataan gurunya.

Nancy melabrak gurunya, menekankan bahwa anaknya lebih cerdas dari semua guru yang ada di sekolah itu. Gurunya tidak merespon dengan baik, Nancy pun mengeluarkan Al dari sekolah, mengajari anaknya sendiri. Al hanya bersekolah formal selama 3 bulan.

Nancy sangat percaya bahwa perkataan gurunya sangatlah salah Ia juga percaya, dengan pengalamannya sebagai guru dan nalurinya sebagai seorang ibu, ia akan mampu mengajari Al cara belajar yang baik. Samuel mengizinkan istrinya untuk secara pribadi mengajarkan Al, namun Sam masih belum yakin bahwa anak bungsunya dapat belajar.

Nancy Edison memutuskan untuk membimbing anaknya sendiri ketika tidak ada komunitas ataupun program pemerintah untuk membantunya. Dokter keluarga mengira masalah Al di sekolah disebabkan kerusakan otak semasa kecil dan menganggap tak ada yang bisa dilakukan untuk menyembuhkannya. Pada masa itu, ilmu kedokteran dan psikologi Barat memang belum mampu mendiagnosis dan merawat anak-anak yang terkena ADHD atau disleksia.

Sekolah lokal tidak ingin membantu Nancy mengajarkan Al. Sang ibu sendiri juga mungkin tidak menginginkan bantuan dari orang-orang yang menganggap anaknya tidak dapat belajar. Bahkan sangat mungkin sekolah berharap bahwa Nancy akan frustrasi dan setuju akan pendapat Mr. Crawford bahwa Al addled.

Nancy Eliott bukan hanya mengajarkan pelajaran sekolah di rumahnya, tapi ia mendidik anaknya ini untuk menjadi manusia seutuhnya

huffpost.com
huffpost.com

Nancy mengajarkan pelajaran-pelajaran dasar yang diberikan di sekolah, seperti membaca, menulis, dan menghitung. Nancy tidak hanya memberikan pelajaran, sang ibu memberikan 2 hal terpenting yang bisa diperoleh Al dalam hidup. Hal pertama adalah rasa percaya diri, ketika dunia menganggap Al bodoh, Nancy mengangkat kepercayaan diri anaknya. Hal kedua adalah belajar cara yang benar untuk belajar itu sendiri.

Nancy tidak membatasi pelajaran hanya pada mata pelajaran tertentu. Nancy mengajarkan ilmu pengetahuan alam dari buku R.G. Parker’s School of Natural Philosophy dan Cooper Union. Dari sinilah ketertarikan Al yang dalam terhadap ilmu kimia timbul.

Nancy mengajarkan sejarah dengan mengenalkan buku-buku seperti Kejatuhan Emporium Romawi karya Gibbon dan Sejarah Inggris karya Hume. Dari buku-buku ini Al mengetahui perkembangan peradaban dari zaman ke zaman, serta kemajuan teknologi yang terjadi. Nancy mengenalkan Al pada dunia sastra seperti karya-karya Shakespeare dan Dickens. Pemahaman Al akan masyarakat menjadi terbentuk, imajinasinya berkembang.

Semakin seringnya interaksi ibu dan anak ini, Nancy dan Al menjadi semakin saling mengagumi satu sama lain. Nancy memberikan pelajaran dengan metode yang mampu menarik perhatian Al. Nancy mengamati bahwa anaknya ini kurang menyukai pelajaran matematika. Ia pun hanya mengajarkan dasar-dasarnya saja, tidak memaksanya untuk terus mendalaminya.

Al pun sangat senang dengan gaya mengajar ibunya. Belajar menjadi menyenangkan dan tidak menjadi beban. Gaya mengajar ibunya ini menjadi bekal yang berarti bagi Al, setelah dewasa ia tidak pernah merasa bosan dengan pekerjaannya.

Melihat kemajuan anaknya, Samuel mulai percaya bahwa anaknya cerdas dan mampu belajar. Samuel membantu Nancy mengajarkan Al dengan memberikan upah 10 sen untuk setiap buku yang berhasil Al selesaikan, dengan syarat buku itu harus nonfiksi.

Samuel juga mengenalkan Al kepada dunia filosofi, hingga anaknya ini menggemari karya-karya Thomas Paine. Dengan terbatasnya buku yang dimiliki keluarga Edison, Samuel dan Nancy mengajak Al ke perpustakaan. Tempat yang kelak selalu Al datangi setiap kali datang ke suatu kota.


Nancy menyadari bahwa Al sangat menyukai melakukan percobaan, ia pun mengajak Al untuk membuat laboratorium kecil-kecilan di rumah. Saat melihat peralatan yang Al bawa ke laboratorium, Nancy sangat khawatir kalau-kalau anaknya bisa meledakkan rumahnya.

Menginjak umur 12 tahun, Nancy dan Samuel melihat tidak ada ilmu lagi yang bisa mereka ajarkan kepada anaknya. Pada saat itu pula Al ingin bekerja. Ayahnya yang melihat adanya inisiatif dari anaknya segera menjemput bola. Samuel pun mencarikan pekerjaan yang bisa dilakukan oleh anaknya ini, dan dia mendapatkannya.

Nancy tidak setuju tentang bekerjanya Al ini. Al masih terlalu kecil, belum perlu bekerja. Al tidak berhenti, setiap hari ia membujuk Nancy agar membolehkannya bekerja. Setelah beberapa minggu, akhirnya Nancy membolehkan dengan syarat Al tetap mengutamakan pelajarannya. Anaknya ini memenuhi janjinya, sembari menunggu kereta membawanya kembali ke rumah Al membaca buku selama 4 jam.

Kini jarang yang mengenal Nancy Eliott, kita tak mengenal namanya, namun jasanya mendidik Thomas Edison menjadi bukti bahwa kasih ibu tak terhingga sepanjang masa

http://thenilsum.com/
http://thenilsum.com/

Dengan pendidikan intens dari sang ibu, Al menjadi lebih cepat dewasa untuk anak seumurannya. Al pamit untuk mengejar passionnya sebagai penemu sekaligus pengusaha.

Tidak banyak sumber yang menceritakan kisah hidup Nancy setelah Al pergi. Nancy Matthews Edison meninggal pada tahun 1871. Ada yang menyebutkan penyebabnya adalah gangguan jiwa, tapi tidak ada yang menjelaskan gangguan jiwa yang terjadi seperti apa.

Walaupun begitu prestasi Nancy sangatlah besar, tidak hanya bagi anak-anaknya namun juga bagi dunia saat ini. Warisannya berupa anak-anaknya yang terus berperan kepada masyarakat.Al menjadi salah satu penemu terbesar sepanjang masa, yang membuat industri bola lampu, industri rekaman, dan industri film. Tannie Edison menjadi penulis namun meninggal saat berusia 30 tahun. William Pitt Edison sangat ahli dalam melukis hingga ia sekolah di Paris, kelak ia menjadi manajer kereta api di Port Huron—pekerjaan yang sangat ia sukai. Bisnis pertanian Marion dan suaminya terus berkembang dan masih ada hingga kini.

Pencapaian anak-anaknya tak akan dapat dicapai tanpa kasih sayang, kebulatan tekad, dan kemampuan Nancy dalam membesarkan dan mendidik anak-anaknya. Nancy Matthew Edison telah menjadi wanita yang sangat berperan dalam masyarakat hingga saat ini, warisannya tetap ada.

“My mother cast over me an influence that has lasted all my life. I was always
a careless boy, and with a mother of different mental caliber I should have
turned out badly. But her firmness, her sweetness, her goodness; they were
potent powers to keep me on the right path. She was the making of me. She
was so true, so sure of me. I felt I had someone to live for, someone I must not
disappoint.”

Al, ketika berbicara tentang Nancy Matthews Elliott

Tinggalkan komentar