Pidato Anies Baswedan tentang Pendidikan Indonesia di Kelas Akademi Berbagi

Dalam peringatan ulang tahun kedua Akademi Berbagi pada tanggal 1 September 2012 di Teater Bulungan, Anies Baswedan memberikan pidato tentang pendidikan.

Kelas Akademi Berbagi ini bertema Taman Pembelajaran untuk Perubahan, Anies Baswedan mendapat peran untuk berbincang tentang pendidikan. Saya hanya menuliskan ulang ceramah tersebut.

Pidato ini cukup panjang namun banyak sekali pelajaran yang bisa kita ambil. Berikut ini isi pidatonya.

Assalamu’alaykum warahmatullahi wabarakatuh. Selamat siang, salam sejahtera untuk kita semua.

……. Tugas saya siang hari ini bicara soal pendidikan. Sesuatu yang bisa dibilang semua orang peduli. Sulit rasanya menemukan orang yang mengatakan pendidikan tidak penting. Sulit sekali. Hampir semua mengatakan pendidikan itu penting.

Yang sering menjadi perdebatan adalah apakah perlu sekolah? Apakah tidak (perlu) sekolah? Apakah formal schooling? Apakah homeschooling? Atau pendekatan-pendekatan (lain).

Tapi education hampir selalu orang mengatakan “it’s very important.

Yang mau saya bahas di sini bukan soal pendidikannya.

Disclaimer dulu di awal. Saya tidak dilatih ilmu pendidikan. Bidang saya adalah ilmu ekonomi, public policy, political economy. Bukan pada pendidikan.

Tetapi, saya ingin bahas justru pendidikan dari aspek lain. Yang kadang-kadang malah, dalam pandangan kami, ini sering terlewatkan.

Pendidikan sebagai gerakan. Pendidikan bukan sebagai program. Education as movement, bukan education as program.

Saya ingin bahas di sini apa bedanya. Kalau kita bicara pendidikan, kebanyakan kita berdiskusi, kita mencoba mencari solusi, kita tentukan titik-titik mana yang harus diperbaiki, lalu kita berasumsi ada orang lain yang mengerjakan.

We don’t do it ourselves. Let other people do it.

Kita berikan rekomendasi. Kita berikan solusi.

Kami melihat pendidikan ini harus diubah perspektifnya. Pendidikan harus dipandang sebagai gerakan dan cara paling utama untuk memulai itu adalah dengan, “Let’s own the problem.”

Mari kita memiliki masalah itu. If we own the problem, then we want to sell our problem. Ownership to problem itu menjadi sangat penting.

Di sini, hadirin sekalian, kami mencoba  melihat dari perspektif yang agak lain. Apabila selama ini kita melihat pendidikan sebagai tanggung jawab negara untuk dibereskan. Benar. Memang secara konstitusional tanggung jawab negara. Tapi secara moral itu tanggung jawab kita semua, yang pernah dididik. Yang pernah dididik

Jadi, pertanyaannya bagaimana kita bisa mengajak semua orang untuk ikut turun tangan. Untuk mau terlibat dalam pendidikan.

Pendekatan yang coba ditawarkan untuk melihat pendidikan sebagai movement ini menjadi krusial karena dalam perjalanannya kita melihat pendidikan di Indonesia adalah supplier pada pertumbuhan kelas sejahtera di Indonesia. Kalau tidak enak menggunakan kelas, kelompok lah, kelompok yang sejahtera!

Saya cenderung menggunakan istilah pendidikan itu sebagai eskalator sosial ekonomi. Pendidikanlah yang membawa kita escalate, naik ke atas secara sosial ekonomi.

Karenanya, pendidikan ini aksesnya harus selalu merata pada siapa saja hingga berkualitas, agar semuanya bisa merasakan naik kelas. Tetapi penyediaannya harus melibatkan semua.

Mengapa ini penting pendidikan sebagai gerakan?

Hadirin sekalian, barangkali teman-teman menyadari Indonesia hari ini sering disebut sebagai satu masyarakat yang memiliki bonus demografi yang besar. Bonus populasi yang amat besar. Dari 2010 sampai dengan 2035. Bonusnya banyak. Anak mudanya banyak.

Sekarang saya ingin tunjukkan. Satu tahun, per tahun kita menerima anak masuk SD kelas satu itu jumlahnya sekitar 4,7 juta anak. Masuk SD kelas satu. Lulus SMA itu jumlahnya sekitar 2,3 juta.

4,7 masuk, keluar 2,3. Yang hilang di jalan itu jumlahnya kira-kira 2,4 juta.

Bayangkan bila ini dibiarkan berjalan 10 tahun maka 24 juta anak kita hilang di jalan.

Saya bayangkan ini surplus demografis kita, surplus yang mulai dipuji dimana-mana, bila tidak dibereskan itulah yang akan menjadi beban.

Bukan menjadi modal tetapi justru menjadi beban.

Kenapa? Karena mereka tidak ikut sekolah sementara kita cenderung untuk memperhatikan mereka-mereka yang sekolah saja. Yang sudah berada di pendidikan.

Perhatikan kalau ada reportase mengenai pendidikan hampir selalu yang sudah sekolah. Sementara yang drop dari sekolah jumlahnya lebih banyak daripada mereka yang berada di dalam sekolah.

Distribusinya juga seperti itu, dari dropnya itu betul-betul luar biasa luasnya. Karenanya kita sudah harus melihat ini sebagai our problem. Bukan sekadar tantangan milik negara saja, tapi our challenges.

How do we do it? Bagaimana kita terlibat?

Di sini teman-teman, saya bersimpati sekali terhadap apa yang dikerjakan oleh Akademi Berbagi karena spiritnya sama. Spiritnya adalah bagaimana membuat agar setiap kita punya akses belajar. Setiap kita punya akses untuk berbagi pengetahuan, pengalaman, dengan melalui media-media pendidikan.

Nah, ini teman-teman, kita kemarin mencoba dengan pola Indonesia Mengajar di mana kita merekrut anak-anak untuk menjadi guru. Tetapi yang ingin kita garis bawahi di sini adalah pendekatannya sebagai gerakan. Bukan pendekatan sebagai program.

Apa bedanya?

Kalau itu didekatkan sebagai program maka kegiatan ini dikelola oleh pengelola program. Dirancang oleh pengelola program. Kemudian masyarakat menjadi penerima hasil program itu. Lalu dibuatkan indikator-indikator keberhasilan programnya. Dari sana diukur keberhasilan program.

Ada jarak antara masyarakat dan pengelola program.

Ini yang saya rasa terjadi di masyarakat Indonesia selama beberapa dekade terakhir ini. Pembangunan ekonomi, pembangunan pertanian, pembangunan pendidikan. Semua itu didekati dengan pendekatan programatik.

Rakyat, masyarakat, tidak terlibat dalam prosesnya. Masyarakat sebagai penerima.

Efeknya apa? Efeknya, ya, tidak ada ownership kepada seluruh itu.

Makanya saya selalu kagum kepada pendiri republik ini karena pendiri republik ini memiliki insting. Untuk menggandakan semua idenya dengan spirit movement, dengan spirit gerakan.

Dan itu yang membuat apa yang mereka kerjakan bisa merangsang semua orang mau turun tangan.

Saya pernah membayangkan. Kira-kira kalau upaya mempertahankan kemerdekaan itu didekati sebagai program.

Tahun 45 ada program namanya “Mempertahankan Kemerdekaan.” Kira-kira. Misalnya.

Lalu tentara sekutu datang. Lalu rakyat juga, “Silahkan itu programnya departemen pertahanan. Monggo dihadapi, kalau menang kita syukuri. Kalau kalah nanti kita kritik rame-rame.

“Silahkan Anda perang, karena ini kan program departemen Anda.”

Tidak. Kenapa? Karena rakyat itu engagementnya luar biasa. Ada kepercayaan yang barangkali total kepada leadership bahwa ini semua kita lakukan bukan untuk kepentingan satu dua orang tapi untuk semua.

Saya membayangkan pendidikan kita didekati dengan pendekatan itu, di mana semua dari kita bisa terlibat, turun tangan, dengan segala macam avenue yang ada. Karena cara terlibatnya luar biasa, banyak jalurnya. Dengan cara seperti itu maka makin banyak dari kita yang bisa terselamatkan lewat pendidikan ini.

Kalau kita lihat di negara-negara timur, Asia Timur. Jepang, Korea Selatan, Taiwan, Hongkong, China. Semuanya mengalami proses transformasi kesejahteraan yang luar biasa karena ada perhatian yang total pada pendidikan, kualitas manusia, saya garis bawahi, bukan sumber daya manusia. Kualitas manusia yang menjadi perhatian mereka memberi efek pada perjalanan ke depan.

Singapura juga begitu. Malaysia juga begitu.

Ini saya rasa kita perlu berikan porsi yang cukup di Indonesia.

Ada catatan, teman-teman, mengenai pendidikan kita. Begitu sampai pada content, apa sih yang paling penting?

Dalam pandangan kami pendidikan adalah interaksi antarmanusia. Pendidikan adalah tentang manusia. Interaksi antarmanusia.

Bisa diletakkan di rumah. Bisa diletakkan di sekolah. Bisa diletakkan di lingkungan. Intinya, interaksi antarmanusia.

Karenanya fokus untuk mengembangkan pendidikan itu harus pada manusianya. Pendidiknya. Dan di kita, di Indonesia, kita harus berikan perhatian yang luar biasa besar kepada pendidiknya.

Saya khawatir kita ngga berikan cukup perhatian kepada pendidiknya. Kita lebih pusing tentang kurikulumnya. Kita lebih pusing tentang apa yang mau diberikannya daripada yang mau memberikannya. Yang mau mendidiknya.

Padahal kuncinya pada pendidiknya. Begitu pendidiknya baik maka muatan apapun yang dititipkan pada dia akan memiliki efek ganda yang luar biasa.

Tapi sehebat apapun kurikulum yang dibuat. Materi yang disiapkan. Bila yang deliver di ujung itu lemah maka kita akan mengalami masalah.

Di Indonesia, dalam skala 0 sampai 11, kualitas guru kita, ini data PMPTK Diknas, rata-rata nasional 4,7. Empat koma tujuh. Not even half.

Not even half and that’s a reality. Meskipun dengan catatan merekalah yang mendidik kita. Jadi kita adalah produk dari mereka. Jadi melihat itu dengan formal. “Yah kita ada masalah tapi yah kita adalah pendidik.”

Dan ini teman-teman, fokus pada guru ini menurut saya kunci di Indonesia. Mari kita berikan perhatian yang besar kepada para pendidik. Cara kita menghargai pendidik mencerminkan cara kita menghargai masa depan. Karena pada para pendidiklah kita titipkan persiapan masa depan republik ini. Kita titipkan pada mereka.

Cara menghargai itu dilihat bukan dari gaji saja, tapi dari bagaimana kita mengapresiasi profesinya, pekerjaannya, sampai kita memberikan jaminan pada mereka.

Ini, pendidik ini, menurut saya kunci yang sekarang tidak mendapat perhatian besar. Kita lebih sering bercerita ganti menteri ganti kurikulum daripada, ganti menteri, bagaimana kualitas gurunya. Padahal kalau kita bicara tentang kualitas pendidikan, at the end of the day, mereka yang di depan kelaslah yang punya efek.

Saya mengalami, di Indonesia Mengajar, guru-guru yang datang ke sana materinya sama persis. Kurikulumnya sama. Seluruh materi yang diberikan sama persis. Hanya yang datangnya berbeda. Efeknya di kelas, di sekolah, berbeda sekali. It matters. It matters a lot.

Guru yang menginspirasi akan menghasilkan anak-anak yang luar biasa. Orang tua yang menginspirasi juga akan memiliki efek yang dahsyat.

Di sini, peran pendidik ini kurang mendapatkan banyak perhatian. Pendidik bukan hanya guru, yang perlu digarisbawahi, orang tua adalah the most important educator and the least prepared educator. Orang tua adalah pendidik terpenting tapi orang tua adalah pendidik paling tak tersiapkan.

Guru masih mending, harus sekolah. Orang tua, where is that school?  Tidak ada. Tapi harus dipersiapkan. Kita kalau menyiapkan pendidikan di Indonesia jangan hanya membayangkan sekolah tradisional. Tapi harus membayangkan ini sebagai sebuah gerakan yang masif, semua bisa terlibat, fokus pada pendidik. Yakni guru dan orang tua.

Di antara kita ada bukti konkret, Iwan Setiawan. Iwan ini bukti. Anak dari Batu. Orang tua yang amat sederhana secara sosial ekonomi namun memiliki visi. Dan apa yang terjadi? Lompatan yang luar biasa tinggi.

Escalator seperti ini hanya bisa terjadi bila ada dedicated parents yang mendidik dengan baik lalu anak itu akan dengan sendirinya. Saya selalu suka (kiasan) Kahlil Gibran tentang ini, “anak itu dibayangkan sebagai sebuah anak panah dan orang tua sebagai busurnya.” That’s it. Tarik lepaskan.

Ini teman-teman, saya rasa fondasi di situ luar biasa penting.

Terakhir adalah bagaimana kita merombak pandangan kita tentang konsep kekayaan bangsa Indonesia. Menurut saya ini sangat fundamental, perlu digandakan. Saya kalau di kelas atau (ketika) diskusi sering ditanya, “Apa sih kekayaan terbesar kita?”  Sering kali kita menjawabnya, “Minyak, tambang, emas.” Jarang yang menjawab kekayaan terbesar Indonesia adalah manusia Indonesia.

Kekayaan terbesar kita adalah manusia Indonesia.

Kalau kita lihat, cara kita memuji bangsa. Semua dipuji tanahnya, airnya, indahnya. Where is the people in that praise? Mana pujian itu pada orangnya? Saya ingat waktu masih kecil semua lagu yang dihapal, semua memuji alam. Kecuali Ibu Kita Kartini, yang kita puji ibunya. Tapi itu, semua yang kita puji alam. We praise our land. We praise our natural resources.  Tapi do we praise the value of human?

Selama kita masih menganggap manusia Indonesia bukan sebagai aset utama, aset terpenting, maka yang kita pikirkan selalu, selalu, selalu sumber daya alam. Efeknya apa, kita lebih tahu jumlah ton tambang yang dikeruk daripada jumlah guru di Indonesia. Kita lebih tahu ekspor impor minyak daripada tentang jumlah sekolah di Indonesia. Kita lebih tahu tentang kualitas tambang daripada kualitas guru.

What does that say? Ini menunjukkan bahwa lisan kita mengatakan pendidikan penting tapi sebenarnya, in our mind,  kita masih merasa natural resources hal paling penting.

Beberapa waktu yang lalu saya mengecek data organisasi OKI. OKI itu Organisasi Konferensi Islam yang Indonesia menjadi anggotanya. Ada 57 negara. Lima puluh tujuh negara itu kalau kekayaannya ditotal menjadi satu—57 negara yang kaya-kaya minyak, gas, tambang—kekayaannya hanya 79% satu negara, Jepang.

57 jadi 1 is only seventy nine percent of one single nation that has no natural resources.

Apa yang dimiliki Jepang? Human capital.

Ini artinya adalah kalau kita bicara, mindset ini, harus mewarnai Indonesia. Saya merasa rindu, satu saat, paling ngga pemimpin-pemimpin kita ini memikirkan soal pendidikan. Berkelahi luar biasa kencang debatnya kalau itu menyangkut alam, tapi begitu menyangkut manusia, apalagi soal pendidikan, forgotten, ignore. Ini menurut saya fakta yang harus kita perbaiki.

Satu catatan saja teman-teman, untuk memberikan ilustrasi. Pada saat republik ini merdeka jumlah SMA ada 92, jumlah SMP ada 332. Ya memang agak sedikit dibandingkan jumlah penduduk 70 juta. Itu artinya the colonial power lebih memikirkan soal natural resources daripada memikirkan human capital. Sangat minim.

Kita seringkali meneruskan tradisi kolonial itu, kita meneruskan tradisi kolonial untuk lebih memikirkan natural resources. Anda lihat peta jalan di pulau Jawa, peta rel kereta api di pulau Jawa, atau Sumatera, menggambarkan peta natural resources masa itu. Kalau di Sawahlunto tidak ada tambang, tidak muncul rel kereta api di sana. That is not to transport individuals or people but to transport resources.

Hari ini kita masih dalam mindset itu. ini harus diubah. Catatan buat kita, mengubah mindset itu bukan tugas satu dua orang, it is a duty for everyone. Kalau kita melihat human capital sebagai biggest asset then we build something on it. Kita mencoba untuk melakukan itu.

….. Terima kasih. Wassalamu’alaykum warahmatullahi wabarakatuh.

Tinggalkan komentar