Pria Sejati Selalu Berjalan di Depan Wanita

Seorang pria yang mengagumkan, taat beribadah, kuat, baik hati, dan suka menolong. Itulah ciri pria sejati yang diidamkan wanita. Sejak Sekolah Dasar bahkan mulai dari Play Group, masyarakat Indonesia sudah diajarkan dengan kekeliruan dan kesalahan. Anak-anak diperintahkan guru berbaris, perempuan di depan sedangkan laki-laki di belakang. Mungkin guru berpikiran lebih mudah memberi pertolongan bila ada anak perempuan yang pingsan dalam barisan.

Kekeliruan itu mulai disadari dengan semakin meluasnya dampak buruk di masyarakat. Banyak kecelakaan dan kesemrawutan bila wanita ada di depan pria, karena sesungguhnya pria sejati selalu ada di depan wanita. Teori pria sejati yang sudah berumur berabad-abad ini, sering digunakan sebagai senjata untuk menghancurkan sebuah negeri. Penduduk negeri mulai sadar ketikan negerinya mulai diambang kehancuran.

Contoh seorang pria sejati adalah Nabi Musa ‘alaihissalam. Kisahnya begitu masyhur dan diabadikan dalam Al-Qur’an surat Al-Qashas. Mengutip kisahmuslim, inilah sekelumit kisah Nabi Musa ‘alaihissalam saat bertemu dengan dua orang wanita.

Ketika Musa sampai di negeri Madyan, beliau duduk di bawah pohon dekat sumur dimana para orang mengambil air dari sumur tersebut. Terlihatlah oleh beliau dua orang wanita penggembala kambing, berdiri di kejauhan menunggu orang-orang selesai mengambil air di sumur.

Musa mendekati mereka dan bertanya kenapa mereka berdiri di kejauhan. Mereka mengaku orang tuanya sudah tua dan tidak sanggup menggembala kambing lagi. Mereka menunggu sampai semua orang tidak ada yang mengambil air lagi. Sumur itu tertutup batu yang besar sehingga orang yang mengambil air harus antri.

Kemudian beliau mengangkat batu yang menutup sumur itu sendiri, padahal batu itu baru bisa bergeser ketika diangkap oleh 10 orang dewasa. Setelah itu beliau memberi minum kambing-kambing wanita tersebut, lalu kembali berteduh di bawah pohon.

Singkat cerita, kedua wanita itu pulang dan menceritakan peristiwa yang mereka alami kepada ayahnya, selanjutnya mengundang Nabi untuk menemuinya. Salah seorang dari wanita itu dengan malu-malu mendatangi Musa perihal undangan ayahnya, beliau pun menyanggupi. Tatkala Musa hendak ke rumah orang tua para wanita, beliau meminta mereka untuk berjalan di belakangnya. Ketika harus belok, beliau meminta mereka untuk melemparkan kerikil ke arah jalan yang dituju.

Ternyata ayah kedua wanita tersebut adalah seorang nabi (Nabi Syua’ib), beliau bertanya jati diri dan keperluan Musa. Beliau pun menenangkan Musa atas apa yang dialami selama dalam perjalanan.

Salah seorang putri Nabi Syua’ib usul agar Musa diberi pekerjaan karena beliau kuat dan amanah. Nabi Syua’ib malah memberi tawaran lebih, Musa dipersilahkan menikahi salah satu anaknya dengan mahar bekerja selama 8 atau 10 tahun. Musa pun setuju dengan tawaran tersebut.

Pelajaran yang dapat diambil adalah pria sejati selalu berjalan di depan wanita untuk menjaga pandangan. Karena menjaga pandangan, rizki tak terduga akan mendatangi. Ditawari menikah tanpa bayar mahar! Ingin menjadi pria sejati, tirulah akhlak Nabi Musa ‘alaihissalam.

Tinggalkan komentar