Sejarah Kerajaan Majapahit dan Masa Kejayaannya di Bumi Nusantara

SEJARAH KERAJAAN MAJAPAHIT – Majapahit adalah salah satu kerajaan terbesar dalam sejarah bangsa Indonesia. Kerajaan ini mempunyai wilayah kekuasaan yang terbentang dari ujung barat sampai timur nusantara dan juga negara tetangga.

Pada masa kejayaannya Majapahit memiliki keinginan yang sangat besar yakni menyatukan nusantara melalui sumpah dari Gajah Mada. Namun bagaimana sebenarnya sejarah dari Majapahit? Berikut ini adalah sejarahnya

Rekam Jejak Kerajaan Majapahit

maxresdefault
www.youtube.com

Kerajaan Majapahit merupakan salah satu kerajaan hindu-budha yang ada di Indonesia. Kerajaan Majapahit berdiri sekitar tahun 1293-1500 M dan pada masa awalnya dipimpin oleh Raden Wijaya pada 1293-1309. Setelah itu Majapahit dikuasai oleh Jayanegara yang jahat dan sempat berkuasa pada 1309-1328 M.

Setelah Jayanegara dibunuh maka kekuasaan Majapahit digantikan oleh Tribhuwana Tungga Dewi yang menyebabkan Majapahit kembali ke masa kejayaannya selama berkuasa pada tahun 1328-1350 M.

Masa Kejayaan Majapahit

Keraton_Kasepuhan3
id.wikipedia.org

Majapahit mencapai puncak kejayaan pada masa kekuasaan Hayam Wuruk. Saat Hayam Wuruk berkuasa pada tahun 1350-1389 M. Selama Hayam Wuruk memerintah, kerajaan Majapahit berhasil menguasai semenanjung Malaya, Borneo, Sumatra, Bali dan bahkan sampai Filipina.

Kerajaan Majapahit saat itu bahkan bisa dikatakan sebagai negara terbesar yang pernah ada dalam sejarah bangsa Indonesia. Bersama dengan patih Gajah Mada, kerajaan majapahit mempunyai misi besar yakni mempersatukan nusantara. Bahkan saking seriusnya Gajah Mada sampai mengucapkan sumpah palapa yakni tidak akan mundur dari jabatannya sebelum dapat mempersatukan nusantara.

Kemajuan Ekonomi Kerajaan Majapahit

driwancybermuseum.wordpress.com
driwancybermuseum.wordpress.com

Pada jamannya dahulu kerajaan Majapahit menggunakan sistem perekonomian yang sangat maju. Meski pun rata-rata penduduknya bermata pencaaharian sebgaia petani namun sebagian juga merupakan pedagang. Bahkan saking majunya perdagangan di Majapahit sampai-sampai digunakan sebagai pusat pertemuan dantransaksi para saudagar dari India dan Cina.

Majapahit mengekspor hasil bumi khas Jawa seperti lada, garam, kain serta rempah-rempah lainnya. Sementara itu mereka mengimpor perak, emas dan porselen. Bahkan pada saat itu Majapahit sudah mencetak uang logamnya dari campuran perak dan tembaga untuk bertransaksi.

Kebudayaan Majapahit

maxresdefault
www.youtube.com

Kebudayaan masyarakat Majapahit adalah kebudayaan hindu yang sudah masuk pada agama budha. Sehingga pada pusat pemerintahannya sering diadakan acara kebudayaan berupa pemujaan. Pemujaan yang dilakukan adalah pemujaan Siwa dan Waisnawa pada Dewa Wisnu.

Selain itu juga Raja yang memimpin kerajaan dianggap sebgaia titisan budha. Bisanya perayaan tersebut diadakan di Trowulan dan berlokasi di candi-candi di sana. Candi-candi tersebut diantaranya adalah Candi Tikus dan Candi Bajangratu trowulan, Mojokerto. Candi-candi tersebut sudah menggunakan konstruksi yang bagus dengan bahan bangunan berupa bata dan perekat gula dan getah pohon.

Struktur Pemerintahan dan Wilayah Kerajaan

2000px-Majapahit_Empire_id.svg
id.wikipedia.org

Majapahit diselenggarakan berdasarkan pemerintahan berstruktur kerajaan. Penyelenggaraan pemerintahan dibagikan pada pejabat-pejabat yang bertugas menyelenggarakan negara.

Pejabat tersebut diantaranya adalah: Rakryan Mahamantri Katrini biasa dijabat putra-putra raja. Rakryan Mantri Ri Pakira-kiran dewan menteri yg melaksanakan pemerintahan. Dharmmadhyaksa para pejabat hukum keagamaan. Dharmma-upapatti para pejabat keagamaan.

Para pejabat itu mengepalai beberapa wilayah kerajaan majapahit seperti: Kelinggapura, Kembang Jenar, Matahun, Pajang, Singhapura, Tanjungpura, Tumapel, Wengker, Daha, Jagaraga, Kabalan, Kahuripan dan Keling.

Raja-raja yang Pernah Berkuasa

Museum_für_Indische_Kunst_Dahlem_Berlin_Mai_2006_042
id.wikipedia.org

Raja-raja Majapahit yang berkuasa sejak mulai berdiri sampai runtuhnya adalah: Raden Wijaya (Kertarajasa Jayawardhana) pada tahun 1293-1309 M. Kalagamet (Sri Jayanagara) pada tahun 1309-1328 M. Sri Gitarja (Tribhuwana Wijayatunggadewi) pada tahun 1328-1350 M. Hayam Wuruk (Sri Rajasanagara) pada tahun 1350-1389 M. Wikramawardhana pada tahun 1389-1429 M. Suhita pada tahun 1429-1447 M. Kertawijaya (Brawijaya I) pada tahun 1447-1451 M. Rajasawardhana (Brawijaya II) pada tahun 1451-1453 M. Purwawisesa/Girishawardhana (Brawijaya III) pada tahun 1456-1466 M. Pandanalas/Suraprabhawa (Brawijaya IV) pada tahun 1466-1468 M. Kertabumi (Brawijaya V) pada tahun 1468-1478 M. Girindrawardhana (Brawijaya VI) pada tahun 1478-1498 M. Hudhara (Brawijaya VII) pada tahun 1498-1518 M.

Keruntuhan Majapahit

Runtuhnya kerajaan majapahit
hindubicara.blogspot.com

Majapahit merupakan salah satu kerajaan yang berbasis di Jawa Timur mulai dari tahun 1293 hingga sekitar tahun 1500-an.

Penguasa terbesar di kerajaan Majapahit bernama Hayam Wuruk, yang mana Hayam Wuruk ini telah memerintah kerajaan Majapahit dari tahun 1350 sampai 1389 yang ditandai sebagai puncak kejayaan kerajaan, Saat itu Majapahit telah mendominasi kerajaan lain yang berada di selatan Semenanjung Melayu, Kalimantan, kemudian Sumatera, Bali, bahkan Kalimantan dan Indonesia Timur, serta Filipina.

Kerajaan Majapahit merupakan kerajaan yang terakhir dari kerajaan-kerajaan Hindu utama dari kepulauan Melayu dan juga dianggap sebagai salah satu negara terbesar di dalam sejarah Indonesia. Masyarakat Majapahit telah mengembangkan kecanggihan tingkat tinggi baik itu di dalam kegiatan komersial maupun artistik.

Modal yang telah dimiliki oleh penduduk kosmopolitan saat itu di antaranya adalah sastra dan seni yang sangat berkembang dengan pesat. Bahkan sistem perekonomian tunai sudah mulai berkembang disana, berdasarkan dari budidaya padi serta perdagangan, yang juga didukung dengan berbagai macam industri dan profesi. Pada tahun 1527-an kerajaan Majapahit yang merupakan kerajaan tersebsar ini menyerah pada Kesultanan Demak.

Setelah itu Majapahit menjadi sebuah simbol kebesaran indonesia dimasa lalu, selain menjadi simbol, kerajaan Majapahit ini telah memunculkan banyak sekali entitas politik, termasuk kesultanan Islam Demak, kemudian Pajang, serta Mataram, dan berbagai dinasti yang berada di Jawa Tengah.

Kemunduran Kerajaan Majapahit

Setelah kematiannya Hayam Wuruk di tahun 1389, kekuasaan Kerajaan Majapahit memasuki masa kemunduran dikarenakan adanya konflik suksesi. Hayam Wuruk kemudian digantikan oleh putri mahkota Kusumawardhani, yang saat itu menikah dengan seorang kerabatnya, yaitu Pangeran Wikramawardhana. Hayam Wuruk juga mempunyai seorang putra dari pernikahan sebelumnya, yaitu Pangeran Wirabhumi, yang juga ikut mengklaim takhta.

Adanya perang sipil ini, yang kemudian disebut dengan Paregreg, diperkirakan sudah terjadi pada tahun 1405-1406, yang kemudian memunculkan Wikramawardhana sebagai pemenangnya dan Wirabhumi ditangkap kemudian dipenggal. Wikramawardhana memerintah Kerajaan Majapahit hingga tahun 1426 kemudian digantikan oleh putrinya yang bernama Suhita, yang mana Suhita ini  memerintah dari tahun 1426 hingga 1447. Dia merupakan anak kedua dari Wikramawarddhana dengan seorang selir yang bernama putri Wirabhumi.

Berikut ini merupakan faktor penyebab kemunduran Majapahit:

  1.   Kerajaan Majapahit tidak lagi memiliki tokoh di pusat pemerintahan yang mampu untuk mempertahankan kesatuan dii wilayahnya setelah Gajah Mada beserta Hayam Wuruk meninggal.
  2.   Kemudian struktur dari pemerintahan Majapahit yang mempunyai kesamaan dengan sistem negara serikat di masa modern serta banyaknya kebebasan yang diberikan pemerintahan saat itu kepada daerah memudahkan wilayah-wilayah yang merupakan jajahan untuk melepaskan diri begitu saja setelah mengetahui jika di pusat pemerintahan sedang terjadi kekosongan kekuasaan.
  3.   Faktor kemunduran yang selanjutnya adalah terjadinya perang saudara, ini merupakan yang menjadi masalah terbesar dari kerajaan ini. Perang saudara yang paling terkenal adalah Perang Paregreg (pada tahun 1401 – 1406) yang pada sat itu dilakukan oleh Bhre Wirabhumi melawan pimpinan pusat Kerajaan Majapahit. Kemudian Bhre Wirabhumi pun diberikan kekuasaan yang berada di wilayah Blambangan
  4.   Yang terakhir ini adalah masuknya agama Islam sejak zaman Kerajaan yang berada di Kediri Jawa Timur yang kemudian menimbulkan kekuatan baru yang menentang Majapahit. Ini merupakan kondisi terburuk Kerajaan Majapahit. Kerajaan ini benar-benar dalam ambang kehancuran setelah Kerajaan-kerajaan Islam bersatu.

 

Candi-Candi Peninggalan majapahit

Kerajaan Majapahit adalah sebuah kerajaan yang sangat besar di Indonesia. Tak mengherankan jika ia meninggalkan banyak peninggalan candi- candi bersejarah  seperti yang berikut ini.

  • Candi Sukuh
candi sukuh
Kasmtour.com

Candi Sukuh merupakan sebuah kompleks candi agama Hindu yang berada di wilayah Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah. Candi sukuh dikategorikan sebagai candi Hindu karena telah ditemukannya obyek pujaan lingga dan yoni. Candi ini digolongkan sebagai candi yang kontroversial karena bentuknya yang tidak biasa dan karena banyaknya obyek-obyek lingga dan yoni yang menampakan  seksualitas. Candi Sukuh telah lama diusulkan ke UNESCO untuk menjadi salah satu Situs Warisan Dunia sejak tahun 1995.

  • Candi Cetho
Candi Cetho
cecilliaadrianto.com

Candi Cetho adalah sebuah candi yang diperuntukan bagi yang beragama Hindu peninggalan masa akhir pemerintahan Majapahit (abad ke-15). Laporan ilmiah pertama mengenai candi Cheto dibuat oleh Van de Vlies pada 1842. A.J. Bernet Kempers juga melakukan sebuah penelitian mengenainya. Ekskavasi (penggalian) untuk sebuah kepentingan rekonstruksi dilakukan untuk pertama kalinya pada tahun 1928 yang diprakarsai oleh Dinas Purbakala Hindia Belanda. Berdasarkan keadaannya ketika reruntuhan candi tersebut mulai diteliti, candi ini memiliki usia yang tidak jauh berbeda dengan Candi Sukuh. Lokasi candi terdapat di Dusun Ceto, Desa Gumeng,Kec. Jenawi, Kab. Karanganyar, yang terletak pada ketinggian 1400m di atas permukaan laut.

  • Candi Pari
candi pari porong
Ragnesia.blogspot.com

Candi Pari adalah sebuah monument peninggalan Masa Klasik Indonesia yang terletak di Desa Candi Pari, Kecamatan Porong, Kabupaten Sidoarjo, Propinsi Jawa Timur. Lokasi tersebut berada di sekitar 2 km ke arah barat laut pusat dari semburan lumpur PT Lapindo Brantas.

Dahulu, di atas gerbang ada sebuah batu dengan angka menampilkan angka tahun 1293 Saka = 1371 Masehi. Dan merupakan peninggalan kerajaan zaman Majapahit pada masa pemerintahan Prabu Hayam Wuruk 1350-1389 M.

  • Candi Jabung
candi jabung
http://muzamzamahfarir.blogspot.co.id

Candi hindu ini terletak di Desa Jabung, Kecamatan Paiton,Kabupaten Probolinggo, Jawa Timur. Struktur bangunan candi yang hanya terbuat dari bata merah ini kuat bertahan hingga ratusan tahun. Menurut keagamaan, Agama Budha dalam kitab Nagarakertagama Candi Jabung di sebutkan dengan nama Bajrajinaparamitapura. Dalam kitab Nagarakertagama candi Jabung telah dikunjungi oleh Raja Hayam Wuruk pada lawatannya ketika keliling Jawa Timur pada tahun 1359 Masehi. Pada kitab Pararaton disebut Sajabung yaitu sebuah tempat pemakaman Bhre Gundal salah seorang keluarga raja.

Arsitektur bangunan candi ini hampir menyerupai dengan Candi Bahal yang ada di Bahal, Sumatera Utara.

  • Gapura Waringin Lawang
 Gapura Waringin Lawang
flickr.com

Dalam bahasa Jawa, Wringin Lawang berarti ‘Pintu Beringin’. Gapura agung ini terbuat dari bahan bata merah dengan luas dasar 13 x 11 meter dan tinggi 15,5 meter. Diperkirakan dibangun pada abad ke-14. Gerbang ini lazim disebut bergaya candi bentar atau dengan tipe gerbang terbelah. Gaya arsitektur seperti ini diduga muncul pada era Majapahit dan kini banyak ditemukan dalam arsitektur Bali.

  • Candi Brahu
Candi Brahu
Villadedesa.com

Candi ini diperkirakan dibangun sekitar abad ke-14 dan merupakan salah satu gapura besar pada zaman keemasan Kerajaan Majapahit. Menurut beberapa catatan Badan Pelestarian Peninggalan Purbakala Mojokerto, candi / gapura ini difungsikan sebagai pintu masuk bagi bangunan suci untuk memperingati meninggalnya Raja Jayanegara yang dalam Negara kertagama biasa disebut “kembali ke dunia Wisnu” tahun 1250 Saka (sekitar tahun 1328 M).

Namun sebenarnya sebelum meninggalnya Jayanegara candi ini dipergunakan sebagai senuah pintu belakang kerajaan. Dugaan ini didukung oleh adanya sebuah relief “Sri Tanjung” dan sayap gapura yang menjadi lambang penglepasan dan sampai sekarang di daerah Trowulan sudah menjadi suatu kebudayaan yang biasa dilakukan ketika  melayat orang meninggal.

Karya  Sastra Zaman Majapahit

Karya Sastra Zaman Majapahit
pixabay.com

Taukah kamu? Bahwa Di zaman Majapahit bidang sastra berkembang dengan sangat pesat. Berbagai karya berhasil ditorehkan dan Hasil sastranya bisa dibagi menjadi zaman Majapahit Awal dan zaman Majapahit Akhir.

1. Sastra yang dihasilkan Zaman Majapahit Awal :

  •  Kitab Negara Kertagama

Sebuah kitab karangan Empu Prapanca. Kitab ini berisi tentang keadaan kota Majapahit, perjalanan dan daerah-daerah jajahan Hayam Wuruk mengelilingi daerah-daearah kekuasaannya.

Bukan hanya itu, disebutkan juga adanya upacara Sradda untuk putri Gayatri, mengenai kehidupan keagamaan dan pemerintahan di zaman Majapahait. Kitab Negara Kertagama  ini sebenarnya lebih bernilai sebagai sumber sejarah budaya-budaya daripada sumber sejarah politik. Sebab, mengenai para raja yang berkuasa pada waktu itu hanya disebutkan secara singkat, terutama raja-raja di Majapahit dan Singasari lengkap dengan tahun.

  • Kitab Sotasoma

sebuah kitab karangan Empu Tantular. Kitab Ini berisi tentang riwayat Sotasoma, seorang anak raja yang menjadi pendeta Buddha di waktu itu. Ia bersedia untuk mengorbankan dirinya demi kepentingan semua umat manusia yang berada di dalam kesulitan. Maka dari itu, banyak orang-orang yang tertolong karena jasanya tersebut. Di dalam Kitab ini juga terdapat sebuah ungkapan yang berbunyi; “Bhinneka Tunggal Ika, Tan Hana Dharma Mangrawa”, yang kemudian dipakai sebagai motto Negara Indonesia saat ini.

  • Kitab Arjunawijaya

sebuah kita karangan Empu Tantular. Kitab ini berisi tentang raksasa yang berhasil dikalahkan oleh Arjuna Sasrabahu.

Kitab Kunjarakarna, sebuah kita yang sampai saat ini tidak diketahui siapa pengarangnya. Kitab ini berisi menceritakan tentang seorang raksasa Kunjarakarna yang ingin menjadi manusia. Kemudian ia menghadap Wairocana dan diizinkan melihat neraka. Karena ia taat kepada ajaran yang diajarkan agama Buddha, pada akhirnya apa yang diinginkannya terkabul.

  • Kitab Parthayajna

sebuah kita yang juga tidak diketahui pengarangnya sampai saat ini. Kita ini berisi tentang keadaan Pandawa setelah kalah bermain dadu, yang pada akhirnya mereka mengembara di hutan.

2) Sastra Pada Zaman Majapahit Akhir

Karya Sastra Zaman Majapahit
pixabay.com

Hasil karya sastra pada zaman Majapahit Akhir, ditulis disebuah buku dengan menggunkan bahasa Jawa Tengah. Diantara banyak karya yang dihasilkan dizaman ini di antaranya ditulis dalam bentuk tembang (kidung), dan ada pula karya yang berbentuk gancaran (prosa).

  • Kitab Pararaton

kitab ini berisi sebagian besar kisah-kisah mitos atau dongeng yang menceritakan raja-raja Singasari dan raja-raja Majapahit. Selain itu, di kitab parathon juga diceritakan tentang pemberontakan Ranggalawe dan Sora, Jayanegara, serta peristiwa Bubat.

  • Kitab Sudayana

kitab ini berisi tentang Peristiwa Bubat, yakni sebuah rencana perkawinan yang lalu berubah menjadi sebuah pertempuran antara kerajaan Pajajaran dan kerajaan Majapahit di bawah pimpinan seorang raja bernama Gajah Mada. Dalam pertempuran itu raja yang berasal dari Sunda (Sri Baduga Maharaja) dengan para pembesarnya terbunuh, sedangkan Dyah Pitaloka sendiri lalu meninggal dengan cara bunuh diri. Kitab Sudayanai ditulis dalam bentuk kidung.

  • Kitab Sorandakan

sebuah kita yang ditulis dalam bentuk kidung, kitab ini mengisahkan tentang pemberontakan Sora terhadap Raja Jayanegara yang berada Lumajang.

  • Kitab Ranggalawe

mungkin telinga anda tidak asing mendengar kitab ini. Kitab Ranggalawe ditulis dalam bentuk kidung dan mengisahkan tentang pemberontakan Ranggalawe dari Tuban terhadap Jayanegara.

  • Kitab Panjiwijayakrama

kitab ini ditulis juga dalam bentuk kidung dan isinya menceritakan tentang sebuah riwayat Raden Wijaya hingga menjadi raja Majapahit.

  • Kitab Usana Jawa

kitab ini menceritakan tentang penaklukan Bali oleh Gajah Mada dan Aryadamar.

  • Tantu Panggelaran

sebuah kita yang menceritakan tentang pemindahan gunung Mahameru ke Pulau Jawa oleh Dewa Brahma, Dewa Wisnu, dan Dewa Siwa. Runtuhan gunung Mahameru yang berada di sepanjang pulau Jawa menjadi gunung-gunung di Jawa.

  •  Kitab Calon Arang

kitab ini berisi tentang seorang tukang tenung yang bernama Calon Arang yang pada saat itu hidup pada masa pemerintahan Airlangga. Ia memiliki seorang anak yang sangat cantik dan menarik, namun tak ada seseorang pun yang berani meminangnya. Calon Arang dengan sendirinya merasa terhina dan menyebarkan penyakit di seluruh negeri. Atas perintah Airlangga ia dapat dibunuh oleh Empu Bharada.

Patih Gajah Mada

patih gajahmada
civilization.wikia.com

Jika berbicara tentang sejarah Kerajaan Majapahit tentu tak bisa lepas dari satu nama, yaitu Gajah Mada. Beliau merupakan sosok patih yang paling terkenal dalam sejarah kerajaan di Indonesia. Tidak banyak informasi yang tersedia mengenai kisah masa kecil Gajah Mada. Beberapa tulisan menjelaskan bahwa Gajah Mada kecil berasal dari kalangan rakyat jelata.

Sosok sentral dalam Kerajaan Majapahit ini mengalami peningkatan karir militer yang pesat setelah berhasil menyelamatkan raja kedua Majapahit, Jayanegar dari peristiwa pemberontakan yang dilakukan oleh Ra Kuti pada tahun 1319. Setelah kejadian itu Gajah Mada diangkat menjadi patih di Kerajaan Majapahit.

Saat menjabat sebagai patih, Gajah Mada sangat disibukkan dengan pemberontakan yang terjadi dimana-mana terutama setelah meninggalnya Raden Wijaya. Sebagian besar pemberontakan terjadi karena orang-orang bekas istana ingin mengambil alih kekuasaan, ada pula daerah-daearh yang ingin melepaskan diri dari kekuasaan Majapahit.

Karena prestasinya itu Gajah Mada sempat diangkat menjadi Patih Kahuripan (Sidoarjo) dan Patih Doha (Kediri). Karir militernya semakin moncer saat masa pemerintahan Tribhuwana Wijayatunggadewi. Dia diangkat sebagai Mahapatih setelah berhasil menumpas pemberontakan di daerah Keta dan Sadeng (daerah di Situbondo).

Sebagai Mahapatih, Gajah Mada melakukan ekspansi besar-besaran ke segala penjuru Nusantara untuk memperluas wilayah kekuasaan Kerajaan Majapahit. Hasil ekspansi tak sia-sia, Gajah Mada mampu merebut kerajaan penting seperti Kerajaan Pejeng (Bali), dan sisa-sissa Kerajaan Malayu dan Sriwijaya.

Puncak karir Gajah Mada terjadi saat pemerintahan Hayam Wuruk. Dia diangkat sebagai Patih Amangkubumi. Sosoknya di Kerajaan Majapahit seolah tak dapat digantikan lagi, mengingat perannya yang begitu sentral dalam sistem pemerintahan. Dalam masa ini pula sebuah ikrar yang sakral mulai dikenal, yaitu Sumpah Palapa.

Sumpah Palapa dikumandangkan pada tahun 1336 masehi atau pada tahun 1258 saka, tepat setelah dia diangkat sebagai Patih Amangkubumi.

Isi Sumpah Palapa adalah:

Sira Gajah Mada pepatih Amangkubhumi tan ayun amuktia palapa, sira Gaja Mada: “Lamun huwus kalah nusantara isun amukti palapa, lamun kalah ring Gurun, ring Seran, Tanjung Pura, ring Haru, ring Pahang, Dompo, ring Bali, Sunda, Palembang, Tumasik, samana isun amukti palapa.”

Jika diartikan ke dalam Bahasa Indonesia, kiri-kira seperti ini artinya:

Beliau Gajah Mada Patih Amangkubumi tidak ingin meninggalkan puasa. Dia Gajah Mada, “Ketika sudah menyatukan Nusantara, saya (baru akan) meninggalkan puasa (makan). Ketika bisa menglahkan Gurun, Seram, Tanjung Pura, Haru, Pahang, Dompo, Bali, Sunda, Palembang, Tumasik, demikianlah saya (baru akan) meninggalkan puasa.”

Sungguh besar cita-cita Gajah Mada. Dari sumpahnya terlihat bahwa dia adalah seorang yang bermimpi besar, percaya diri, berusaha keras, pantang menyerah dan berpikir jauh ke depan. Hasilnya, sumpah yang sempat dicibir banyak orang itu pun menjadi kenyataan. Penaklukan demi penaklukan terus dilancarkan. Mulai dari Swarnnabhumi (Sumatera), Tumasik (SIngapura), Dedahulu (BAli), Lombok, Brunei, Kalimantan, dll. Hanya dua wilayah di Pulau Jawa yang terbebasa dari invansi Patih Gajah Mada dan pasukannya, yaitu Kerajaan Sunda dan Pulau Madura.

Keberhasilan tersebut membuat Kerajaan Majapahit menjadi salah satu Kerajaan Paling Mashyur yang pernah ada di Indonesia, bahkan Dunia.

Menurut Kakawin Nagarakretagama, bahwa saat Hayam Wuruk kembali dari upacara keagamaan yang berlangsung di Simpling, dia menemui Gajah Mada yang sedang sakit. Disebutkan bahwa Gajah Mada meninggal pada tahun 1364 masehi atau 1286 saka. Meninggalnya Panglima Perang Terhebat yang dimiliki Majapahit ini merupakan pukulan telak bagi Kerajaan Majapahit. Mungkin ada orang-orang yang bisa menggantikan jabatan posisi Gajah Mada, namun tak ada seorang pun yang mampu melampaui kehebatan, prestasi dan kharisma seorang Gajah Mada.

Tinggalkan komentar