Strategi Pembelajaran Aktif yang Diterapkan di Jepang

Mulai tahun 90-an, Jepang mulai menerapkan Integrated Learning agar generasi muda mereka mampu menyelesaikan masalah-masalah yang akan mereka hadapi. Siswa Jepang tidak hanya ditargetkan untuk memahami pelajaran, tetapi juga harus dapat menggunakan ilmu yang mereka dapat di kelas untuk menyelesaikan masalah masyarakat yang ada di sekitar mereka.

Dalam video Strong Performer and Successful Reformer In Education ini diilustrasikan bagaimana murid-murid SMP/SMA Jepang belajar untuk menghadapi beberapa masalah yang masyarakat Jepang hadapi, seperti masalah sampah kaleng, masalah lansia, dan masalah radiasi nuklir.

 Agar murid bisa menyelesaikan masalah tersebut, guru Jepang tidak bisa hanya mengandalkan pengetahuannya atau mengajarkan ilmu yang ada di buku pelajaran. Untuk bisa menyelesaikan masalah masyarakat, murid perlu mengetahui berbagai sudut pandang yang berbeda.

Oleh karena itu, murid perlu mengetahui pendapat dari berbagai sumber. Praktis peran guru Jepang bukan lagi menjelaskan di kelas, tetapi membantu murid mendapatkan narasumber dan pembicara agar murid mendapatkan pemikiran yang menyeluruh tentang suatu masalah.

Contohnya saja setelah mengalami tsunami hebat 2011 lalu, Jepang menghadapi masalah keamanan radiasi nuklir. Guru sekolah Jepang ingin murid-muridnya dapat mengambil sikap berdasarkan ilmu dan pengetahuan, bukan hanya dari rasa takut yang tidak berdasar.

Guru merancang pembelajaran di kelas dengan mengundang dosen yang mendalami radiasi nuklir dan aktivis lingkungan yang mendalami limbah nuklir. Dosen menjelaskan apa radiasi sebenarnya dan manfaat yang nuklir berikan untuk masyarakat sementara aktivis lingkungan menjelaskan masalah yang perlu masyarakat hadapi dengan penggunaan energi nuklir, seperti limbah.

Dengan mendapatkan informasi dari dua pihak yang berbeda, murid bisa menganalisis dampak positif dan negatif dari suatu program dan hingga akhirnya memberikan solusi terbaik yang dapat mereka berikan. Setelah murid belajar dari berbagai sudut pandang, guru mengatur diskusi agar murid bisa memberikan analisis dan pendapatnya sehingga kemampuan siswa dalam memecahkan masalah berkembang.

Jepang merasa pendidikan seperti inilah yang perlu diberikan agar murid-murid dapat menghadapi tantangan di masa mendatang—yang bisa jadi sangat berbeda dengan tantangan yang guru hadapi saat ini.

Seiring dengan semakin berkembangnya zaman, menjadi semakin penting bagi guru untuk bisa memberikan pelajaran dari berbagai sudut pandang yang berbeda. Guru bukan lagi satu-satunya narasumber siswa dalam belajar, banyak pihak yang bisa dan dengan senang hati akan membantu proses belajar siswa. Contohnya saja di SDN Penggilingan 07 Pagi Jakarta Timur.

Dalam salah satu kelas di SDN Penggilingan 07 Pagi, orang tua murid berinisiatif untuk memberikan pengalaman belajar yang berbeda. Salah satunya adalah mengajarkan cara bersepeda yang aman. Berawal dari satu masalah, semakin sedikitnya anak yang bersepeda ke sekolah karena jalanan yang makin berbahaya.

Solusinya, para orang tua murid mengadakan simulasi bersepeda dengan aman di sekolah. Orang tua murid ini mengundang fasilitator untuk mengajarkan cara bersepeda kepada anak-anak. Fasilitator ini berasal dari komunitas pengguna sepeda yang dikenal salah satu orang tua.

Dengan cara ini bukan hanya anak menjadi paham hal-hal yang perlu mereka lakukan saat bersepeda agar terhindar dari bahaya, tetapi juga orang tua menjadi lebih tenang setelah tahu sejauh mana anaknya paham tata cara berkendara di jalan raya. Fasilitatornya juga merasa senang karena bisa berbagi pengetahuan untuk pendidikan generasi penerus.

Banyak orang yang tertarik untuk menjadi fasilitator, menjadi relawan, dan berbagi pengetahuannya untuk mengajar anak-anak sekolah. Relawan ini tersebar di mana-mana dan seringkali orang-orang ini tidak mau dibayar, guru hanya perlu meminta dan berdiskusi dengan relawan ini untuk menyampaikan materi yang sesuai bagi anak.

Dengan strategi pembelajaran aktif seperti ini, siswa-siswa akan belajar jauh lebih banyak dari sekadar mendengarkan penjelasan guru atau membaca buku. Seperti inilah seharusnya pendidikan yang layak untuk generasi penerus bangsa ini.

Tinggalkan komentar