5 Surat Cinta Romantis Seorang Suami untuk Istrinya

Apa janji yang Anda buat pada malam pertama pernikahan?

Dalam novel The Wednesday Letter, Jack Cooper berjanji pada dirinya sendiri untuk mengirim surat pada istrinya, Laurel, setiap hari Rabu. Janji itu ia buat tepat pada malam pertama pernikahan, 16 Juni 1948.

Janjinya ini selalu ia tepati selama 39 tahun usia pernikahan mereka. Jack menulis surat terakhirnya di Rabu malam, 13 April 1988. Pada malam itu, istrinya Laurel, menghela napas lebih dulu. Kemudian Jack menyusulnya setelah suratnya selesai ditulis.

1

Surat cinta pada malam pertama

16 Juni 1948

Teruntuk Ny. Cooper.

Percayakah kau bahwa akhirnya kita menikah juga? Kita sudah menikah! Betapa indahnya hari ini. Sekarang pukul 11.50 malam dan di seberang ruangan, kau sedang terlelap dalam tidur.

Apa kau tahu bahwa malaikat juga bisa mendengkur? Aku baru tahu kalau ternyata mereka bisa mendengkur. Aku mengetahui ini karena kau juga mendengkur. Dan kaulah malaikatku.

Aneh sekali. Aku tidak pernah menyangka kalau wanita juga bisa mendengkur. Kau pasti membenciku karena berpikiran seperti ini, tapi apa yang dapat kau lakukan sekarang? Kita sudah menikah dank au harus menerimaku apa adanya!

Aku sudah berjanji hari ini di altar dan aku akan berjanji lagi padamu malam ini. Mulai sekarang, aku akan menulis surat padamu setiap minggu. Di mana pun kita berada—entah di 2 sisi benua yang luas ini atau di dalam ruang tamu yang sempit—aku pasti akan menulis surat padamu.

Tadinya, aku ingin menyimpan sebuah jurnal, tapi aku tidak akan bisa  konsisten menulisnya. Siapa juga yang ingin membacanya? Surat adalah hal lain. Surat mampu bertahan di tengah perputaran waktu.

Aku tidak mungkin mengatakan ini jika kau terbangun sekarang, tapi berhubung kau sedang tidur…. Aku akan mengatakannya di sini:

Terima kasih.

Terima kasih karena telah menungguku.

Terima kasih karena telah membuatku menunggu.

Malam ini seindah yang aku bayangkan selama ini. Bukan. Malam ini JAUH LEBIH BAIK dari yang aku bayangkan. Malam ini merupakan sebuah berkah mukjizat.

Aku akan membuat sebuah janji lagi. (Percaya tidak percaya, aku belum pernah berjanji sebanyak ini dalam satu hari.) Laurel, aku akan selalu mendampingimu. Tak peduli apa pun yang terjadi. Kita akan selalu bersama. Tanpa rahasia. Tanpa kejutan. Dan aku akan selalu setia kepadamu dalam segala hal.

Aku mencintaimu, Ny. Jack Cooper

JC

NB: Maaf soal kelakuan saudaraku, Joe. Kita akan balas dia di pernikahannya nanti.

2

Surat cinta permintaan maaf

27 November 1957

Teruntuk Laurel,

Aku tidak tahu kenapa aku membutuhkan waktu yang sangat lama untuk mempelajari kata-kata yang sangat sederhana.

Maafkan aku.

Terkadang aku lupa betapa bahayanya temperamenku jika dibiarkan meledak-ledak. Apakah dulu kau sempat membayangkan seorang gadis baik-baik sepertimu bisa jatuh cinta kepada seorang penggemar tim bola kasti Chicago Cubs dari utara sepertiku?

Aku ingin sekali melemparkan seribu alasan kepadamu demi membela harga diriku, tapi alasan apa yang kumiliki setelah membentak wanita yang aku cintai? Itu bukan sebuah pertanyaan. Dan tidak ada alasan yang cukup untuk menjelaskan perbuatanku.

Kita berdua tahu bahwa saat ini keuangan kita sungguh pas=pasan. Setidaknya dalam hal itu kita berdua mengerti. Sejujurnya, hal tersebut mungkin takkan berubah selama kau masih menjadi istriku.

Aku minta maaf jika kau merasa tertipu. Ternyata suamimu bukanlah seperti yang diharapkan kebanyakan wanita—seorang pria sukses didikan universitas kenamaan atau seorang ahli waris dengan kekayaan melimpah. Kau berhak mendapatkan pria seperti itu. Kau berhak mendapatkan seseorang yang lebih baik dari aku. Aku hanya berharap kau tidak perlu bekerja. Setidaknya jangan sekarang.

Entah bagaimana caranya, aku yakin kita akan berhasil mengatasi semua ini. Aku sungguh meyakini hal itu. Apakah kaupercaya padaku?

Ya, intinya, aku minta maaf. Aku minta maaf karena belum berhasil menjadi seorang suami yang pernah kujanjikan untukmu.

Tolong jangan menyerah begitu saja padaku,

Jack

3

Surat cinta sehabis kelahiran anak

15 Februari 1956

Laurel,

Ini adalah pembicaraan yang seharusnya kita lakukan secara langsung, sayangnya tidak mudah untuk melakukan itu. Beberapa hal lebih mudah diungkapkan di atas kertas.

Aku menikmati waktu bersama kita semalam. Makan malam. Musik. Kau menyukai bunga mawar merah, kan?

Aku akui, aku berharap semuanya tidak berakhir seperti itu semalam. Tiga bulan sudah berlalu sejak Malcolm lahir, dank au masih saja berlaku aneh terhadapku. Aku rindu padamu. Aku rindu akan hubungan intim kita yang semakin hari semakin membaik! (Tersenyumlah.)

Aku akan siap jika kau sudah siap. Tidak perlu terburu-buru, karena aku tahu bahwa proses melahirkan seorang anak merupakan hal yang cukup berat bagi tubuh dan keseimbangan emosimu. Tapi, kuharap kau akan merasa lebih baik dalam waktu dekat ini sehingga kita bisa menikmati malam romantic berdua.

Mungkin kita bisa liburan berdua di akhir pecan? Kalau itu yang kau inginkan, kau cukup bilang padaku dan aku akan atur semuanya. Termasuk menemukan orang yang bisa menjaga anak-anak kita selagi kita pergi.

Salam Sayang,

Jack

4

Surat cinta ulang tahun pernikahan

16 Juni 1971

Laurel tersayang,

Selamat hari ulang tahun pernikahan kita! aku sangat menyukai tahun-tahun saat hari pernikahan kita jatuh pada hari Rabu. Itu berarti kau akan mendapat lebih dari kartu ucapan seharga 99 sen yang kubeli di apotek. (Ya, ya, kau selalu bilang bahwa kau menyukai apa saja pemberianku, tapi wajahmu selalu berubah saat hari Rabu sudah dekat!)

Sudah beberapa lama ini aku menyusun daftar berikut. Hari ini sepertinya saat yang tepat bagiku untuk menambahkan beberapa hal.

  1. Rambutmu terlihat sama seperti saat kita baru menikah. Bagaimana mungkin? Sementara aku sudah memerangi uban semenjak aku masih sekolah menengah.
  2. Tawa yang keras—bukan tawa kecil yang sopan—yang selalu memenuhi penginapan dan menarik para tamu dari kamar mereka masing-masing karena takut kelewatan sesuatu yang seru. Kalau saja mereka tahu apa yang mereka lewatkan.
  3. Sikap adilmu.
  4. Kesabaranmu.
  5. Caramu melepaskan selimut di malam hari ketika kau berbalik badan di tempat tidur agar kau tidak menarik selimut itu dari tubuhku. Aku bahkan bisa merasakan saat kau memegang selimut itu lagi, dalam posisi barumu, dan menariknya sedikit. Aku suka tarikan-tarikan kecil itu.
  6. Imajinasimu.
  7. Kebesaran hatimu untuk memaafkan kesalahan siapa saja.
  8. Kecintaanmu pada Tuhan.
  9. Caramu menyetir mobil seolah kau harus pergi ke suatu tempat secepat mungkin.
  10. Penampilanmu saat disinari oleh matahari sore, di tengah-tengah kegiatanmu bercocok tanam.
  11. Caramu mencintai anak-anak kita.
  12. Roti panggang ala Perancis yang kau buat.
  13. Caramu mendengarkanku saat aku membicarakan hal-hal tidak jelas di atas tempat tidur—bahkan saat kau sudah mengantuk sekalipun.
  14. Suara dengkuranmu.
  15. Kakimu.
  16. Mungkin kita tidak selalu setuju, tapi aku senang bahwa kau peduli terhadap pemerintahan negeri ini lebih daripada kebanyakan orang.
  17. Caramu menemukan dan mempertahankan sahabat-sahabatmu. Itu adalah suatu berkah.
  18. Pidato-pidatomu di pertemuan orang tua murid dan guru.
  19. Matamu sebelum aku maju untuk menciummu, tepat sebelum matamu terpejam.
  20. Kamu.

5

Surat cinta terakhir sebelum meninggal

13 April 1988

Lauren tersayang,

Kau tidak pernah berhenti mengejutkanku. Malam ini kau membuatku bertanya-tanya lagi.

Di sini aku duduk sendiri, meski kau masih berada di sisiku, terbaring damai di atas ranjang yang kita bagi selama hampir empat puluh tahun. Aku tidak bisa hidup tanpamu.

Bukankah kau yang seharusnya menulis surat terakhir untukku? Setelah aku meninggal dalam tidur, seharusnya kau bangun dan menemukanku dalam keadaan mati. Lalu kau akan menulis surat terakhir dan menyimpannya sampai kau tidak tahan berada jauh-jauh dariku dank au menemuiku lagi di atas langit. Tapi sekarang justru aku yang ditinggal sendirian.

Sebentar lagi hidup kita akan jadi sejarah bagi ketiga putra-putri kita. sebuah buku yang terbuka, secara harfiah. Sudah lama aku mengira bahwa dari ketiga putra-putri kita, Malcolmlah yang paling menghargai suarat-surat ini. Dialah Si Ahli Kata-Kata. Matthew akan berpikir bahwa surat-surat ini bersifat misterius. Samantha akan merengkuhnya sekuat tenaga hingga perlu sekitar sepuluh pria untuk memisahkannya dari surat-surat ini. Ia bahkan mungkin takkan bisa tidur selama berminggu-minggu. Kuharap ketiganya bisa belajar dari surat-surat ini.

Laurel, pernikahan kita memang tidak sempurna. Kita telah melalui banyak cobaan. Kita telah diuji dengan hal-hal yang lebih berat dari yang pernah kita bayangkan saat kita setuju untuk mengarungi bahtera ini. Tapi perjalanan ini sungguh mulia. Aku telah diangkat olehmu. Dan kau telah melakukan lebih dari itu. Kau telah menepati semua janjimu. Terima kasih karena telah memercayai rencana besar Tuhan sebelum aku siap menerimanya.

Aku telah menulis banyak surat dan kata-kata pada hari Rabu. Tetap saja masih banyak yang ingin kusampaikan padamu. Namun sebentar lagi aku akan bertemu denganmu. Sebelum itu, aku harus menunggu anak-anak.

Aku menyesal karena aku bekerja terlalu keras, hingga jarang menghabiskan waktu bersama mereka. Aku menyesal karena selalu harus membaca semua artikel di koran dan tidur lebih lamadi pagi saat kita seharusnya pergi memancing. Aku menyesal karena mereka telah mendengar bentakanku. Aku sangat malu karena pernah membentak mereka. Atau siapa pun juga.

Kuharap mereka akan memaafkanku karena gagal menjadi ayah yang dijanjikan terhadap mereka.

Semoga Tuhan juga memaafkan kekuranganku. Semoga mereka memaafkan satu sama lain.

Semoga ratusan tahun akan berlalu sebelum mereka kembali kepada kita di atas sana.

Jack

6

Jack Cooper menulis juga surat untuk ketiga anaknya di malam itu. Berikut ini 3 suratnya.

Untuk Matthew, putra sulungku,

Ada alasan mengapa kau menjadi putra sulungku, Nak! Pikiran dan semangatmu membawa inspirasi bagi banyak orang. Apa kau sadar akan hal itu? Apa kau tahu betapa aku menghargai dan terpana oleh talenta yang kau miliki? Kau adalah seorang pria berbakat yang memutuskan untuk menggandakan bakatmu. Kau telah membuat-Nya bangga. Kau telah membuatku bangga. Aku tidak sabar sampai kau menjadi seorang ayah. kau akan melakukannya dengan luar biasa.

Matthew, cintailah istrimu. Cintailah dia seolah hanya dialah yang kau miliki di dunia ini. Dan suatu hari, kau akan sadar bahwa hanya dia yang kau miliki di dunia ini.

Aku menyayangimu,

Ayah

 

 

Untuk Samantha, bintang Broadwayku,

Di hari yang panjang, saat aku menghadapi kebosanan di universitas dan orang-orang yang malas bekerja, aku mengingatmu. Aku berkendara pulang di hari seperti itu, menantikan adegan apa yang telah kau siapkan untukku, peran apa yang kau ingin aku mainkan. Peran apa pun akan kulakukan, asal aku bisa berada dalam satu pertunjukkan bersamamu.

Kembalilah ke atas panggung. Sudah saatnya. Temukan cahayamu.

Aku sudah lusinan kali berkata padamu, dan sekarang dalam keadaan mati pun aku akan mengatakannya sekali lagi: Sammie, biarkan cucuku yang cantik mengenal ayahnya. Dia mungkin bukan ayah yang sempurna, tetapi ia tetap ayahnya.

Kau selalu bersinar, Sammie. Aku akan berbagi panggung denganmu, kapan pun kau mau.

Aku menyayangimu,

Ayah

 

 

Untuk Malcolm, penulisku, putraku,

Aku selalu bertanya-tanya semarah apakah dirimu hari ini. Aku sering menangis di malam hari dan memimpikanmu. Aku memimpikan amarahmu. Aku berdoa semoga aku salah. Tapi aku akan mengerti jika aku benar.

Kukatakan padamu, Nak, bahwa penemuanmu bukanlah tentang siapa ayahmu. Hal itu belum berubah. Sejak pertama kali aku memelukmu dalam pangkuanku setelah pengakuan ibumu—di hari aku kembali dari kediaman nenekmu di Chicago—sejak saat itu, aku selalu melihat putraku. Aku melihat seorang anak laki-laki milikku dan yang menjadi bagian dari diriku seperti halnya Matthew. Aku melihat sebuah berkah dari Tuhan yang diberikan kepadaku. Tidak ada satu alasan kenapa kau perlu tahu tentang malam ketika hidup ibumu berubah.

Apa yang nyata kemarin tetap nyata hari ini. Akulah ayahmu. Ibumu bisa memaafkan. Aku memaafkan. Tuhanmu memaafkan. Begitu juga seharusnya dirimu.

Malcolm, jika kau belum  menyelesaikan bukumu, selesaikanlah. Tolong. Lalu tulislah buku-buku lain. Kau harus tahu bahwa aku berharap akan berjumpa lagi denganmu. Ibumu dan aku tidak sabar untuk melihat anak-anakmu. Menurut kami, anak-anak itu akan mirip dengan Rain. Kau tidak salah baca, Nak, kami selalu tahu apa yang kalian berdua belum bisa lihat. Kalian ditakdirkan untuk bersama.

Aku menyayangimu,

Ayahmu.

Tinggalkan komentar