Pelajaran dari Dodik Mariyanto: Tatapan Seorang Ayah

Dalam Fatherhood Forum V kemarin, saya belajar banyak hal. Para pembicara keluarga Dodik-Septi benar-benar mengajarkan bagaimana cara agar keluarga menjadi tempat terbaik memulai aktualisasi diri.
Misalnya saja keluarga Dodik-Septi mengajarkan tentang tahapan mendidik anak agar tidak bingung passionnya apa, cara mendidik anak laki-laki agar siap menjadi pemimpin dalam keluarga, cara mendidik anak perempuan agar dapat memelihara kehormatan, dan juga cara memperlakukan istri yang baik.

Namun hal terbesar yang saya pelajari justru bukan dari apa yang mereka katakan. Pelajaran termahal yang saya dapat justru dari bagaimana keluarga ini memperlakukan sesama anggota keluarganya. Hal yang paling kentara untuk diamati adalah tatapan mata Pak Dodik saat anak-anaknya berbicara di depan umum.

Tidak banyak yang Pak Dodik ucapkan dalam sesi  4 jam lebih ini. Namun seperti kata Ronan Keating, “You say it best, when you say nothing at all.” Karena tidak sibuk berbicara,  Pak Dodik bisa fokus memperhatikan anak-anaknya.

Tatapan mata Pak Dodik saat anak-anaknya berbicara itu memancarkan rasa percaya dan juga rasa bangga.  Hati orang memang hanya Allah yang tahu, namun mata Pak Dodik seperti sedang berkata, “Bagus Nak, ayo lanjutkan! Keluarkan gagasanmu.” “Agak grogi ya Nak, tidak apa-apa. Nanti juga rasa tegangmu hilang. Lanjutkan saja.”

Genuine Acceptance, cinta tanpa syarat, hal terbaik yang bisa diberikan seorang ayah

Dalam psikologi ada istilah genuine acceptance alias penerimaan yang tulus.Genuine acceptance ini sangat vital dalam perkembangan anak. Hanya anak-anak yang memperoleh penerimaan tanpa syarat dari orang tualah yang akan dapat menerima dirinya sendiri. Mungkin inilah hal terbaik yang bisa seorang ayah berikan untuk anaknya, setelah keimanan.

Begitu anak mampu menerima dirinya sendiri, anak akan lebih mudah untuk mengembangkan potensi yang ia miliki dan berprestasi di masyarakat. Ia tidak akan merasa minder dengan kekurangan yang ia miliki. Ia tidak juga mencoba menutup-nutupi kelemahan.

Ia juga tidak akan merasa Tuhan pilih kasih karena memberinya banyak kekurangan. Justru kekurangan membuat anak nyaman menjadi dirinya sendiri. Anak lebih mudah untuk menjalani hidup dengan penuh rasa syukur serta rendah hati.

Bahkan Warren Buffett  menyebut genuine acceptance ini sebagai nasihat terbaik yang pernah ia  dapatkan. Warren Buffett menyebutnya unconditional love. Cinta tanpa syarat. Penerimaan apa adanya. Ayahnya Warren menunjukkan bahwa anaknya ini akan selalu diterima di rumah senakal apa pun kelakuannya.

Saat masih SD, Warren pernah merasa stres dengan sekolah. Nilai-nilainya jatuh. Biasanya selalu A namun menjadi terancam tidak lulus. Bahkan Warren sempat bolos berhari-hari, kabur ke luar kota.

Apa Kata Rasulullah tentang Unconditional Love?

Rasulullah pun menekankan pentingnya memberikanunconditional love pada anak.

Rasulullah mengatakan pada para sahabat, “Allah merahmati orang tua yang membantu anaknya berbakti  kepadanya.”

“Bagaimana caranya membantu untuk berbakti, ya Rasulullah?”

“Dia menerima yang sedikit darinya, memaafkan yang menyulitkannya, dan tidak membebaninya, serta tidak pula memakinya,” jawab Rasulullah.

Dalam buku Saat Berharga untuk Anak Kita, Fauzil Adhim menuturkan penafsiran 4 hal yang Rasul sebut dalam hadits ini.

  1. Terimalah yang sedikit dari anak, maka setiap anak akan menjadi istimewa di mata kita. Kelebihannya yang sedikit akan tampak berharga di mata kita, sehingga kita bersemangat untuk menyebut-nyebutnya, memupuknya, dan mengembangkannya. Kita menghargai setiap kebaikan dan keunggulan anak, sekecil apa pun, sehingga yang kecil itu akan menjadi besar.
  2. Maafkanlah yang menyulitkannya, maka dada kita akan terasa lebih lapang menghadapi mereka. Kita lebih mampu menerima mereka apa adanya. Ini merupakan bekal yang berharga  karena acapkali beserta kehebatan yang besar, ada kesulitan yang mengawali.
  3. Jangan membebani anak, maka kita akan melihat perkembangan anak-anak kita yang menakjubkan. Sehebat apa pun anak kita, kalau terlalu banyak menanggung beban ambisi kita, akan membuat potensi mereka kerdil dan tak mampu berkembang dengan baik. Sebaik apa pun anak Anda, lama-lama akan berontak apabila terlalu banyak Anda bebani.
  4. Pesan terakhir Rasulullah adalah jangan memarahi anak. Anak-anak yang dibesarkan dengan caci maki akan belajar rendah diri, bukan rendah hati. Anak yang dibesarkan dengan hinaan, akan belajar menyesali diri. Anak yang dibesarkan dengan caci maki akan belajar mengobarkan permusuhan dalam dadanya, sehingga ia sulit menumbuhkan persahabatan yang hangat dan penghormatan yang tulus. Tidak terkecuali terhadap orang tuanya.

Semoga Allah memudahkan kita dalam menghindari keempat hal yang dilarang Rasul ini. Agar anak kita lebih mudah berbakti pada orang tuanya.

Anak perlu tahu kalau sang anak selalu menjadi yang terbaik di mata ayahnya, dengan segala kelebihan dan kekurangan yang anak miliki. Orang tua yang memberikan rasa aman, sosok yang membuat anak tak perlu menyembunyikan apa pun. Karena saat orang lain dan dunia meragukan kemampuan sang anak, ayahnya ini yang akan tetap mendukungnya, berada di sampingnya.

 

Anak akan mampu lebih teguh berjuang. Karena ia tahu ada ayahnya yang selalu menerima dirinya apa adanya. Namun bukan seadanya, karena anaknya tahu kalau ayahnya selalu melihat apa yang ada di dalam diri anak itu dari apa-apa yang tampak di luar.

Ini pelajaran yang saya dapat dari keluarga Pak Dodik, pelajaran apa yang kamu dapat?

Tinggalkan komentar