5 Tempat yang Selalu Ada dan Letaknya Berdekatan pada Kota-Kota di Jawa

Bagi kamu yang suka travelling ke kota-kota di Jawa, bila kamu lebih teliti akan menemukan kesamaan atau stereotype dalam tata kotanya.

Walaupun tidak sama persis letaknya, tapi paling tidak ada 5 tempat yang hampir pasti ada dan letaknya berdekatan. Pusat kota disini bukan hanya kotamadya, tapi juga di kabupaten yang punya satu kecamatan sebagai pusat kota.

Latar belakang kenapa ada kesamaan ini tidak lepas dari ikatan budaya Jawa, lalu ikatan daerah dalam satu kerajaan, juga karena tata letak yang dipengaruhi pemerintahan kolonial Belanda.

Berikut ini adalah 5 tempat yang selalu ada dan letaknya berdekatan di pusat-pusat kota di Jawa.

Alun-Alun

Alun-alun adalah tanah lapang yang luas dan berumput yang dikelilingi oleh jalanan yang biasanya terletak di pusat kota. Alun-alun sebenarnya mengikuti pola-pola rumah Jawa, yang selalu ada tanah lapang di depan rumah.

Bedanya alun-alun ini berada di depan rumah penguasa daerah (yang sekarang menjadi kantor bupati/walikota), sehingga tanah lapangnya juga dibuat begitu luas mengikuti luasnya rumah.

Fungsi awal dari dibuatnya alun-alun di zaman dulu adalah sebagai tempat pengumuman atau titah penguasa (entah raja, adipati, atau residen). Dipakai juga untuk kegiatan dagang rakyat dan tempat diselenggarakannya pentas tradisional.

Kantor Pemerintah Daerah

Kalau ada alun-alun, lazimnya ada rumah besar (istanah kecil) yang dulunya adalah kediaman dari penguasa daerah seperti adipati atau residen. Seiring dengan perubahan zaman, rumah itu beralih fungsi menjadi kantor pemerintahan daerah.

Banyak kantor pemerintahan daerah yang mengadap selatan, kemungkinan ada akar filosofisnya. Di depan kantor atau di dekat alun-alun juga terdapat pohon beringin yang menjadi simbol kekuasaan.

Masjid Agung atau Masjid Jami’

Masyarakat Jawa yang mayoritas beragama Islam, serta secara formal agama Islam juga menjadi agama resmi dari kerajaan di Jawa dari abad 15, maka tidak heran selalu ada Masjid Agung di dekat alun-alun atau dekat kantor pemerintahan.

Masjid Agung ini selain sebagai simbol keagamaan pemerintah setempat, juga menjadi pusat aktivitas agama Islam di daerah tersebut.

Sebagai pusat agama Islam dan simbol pemerintahan, tentu saja masjid ini dibuat sebesar mungkin, agar dapat memuat banyak jama’ah.

Masjid Agung biasanya ada di sebelah barat alun-alun, menunjukkan kiblat agama Islam yang menghadap ke barat.

Kauman

Di sekitar Masjid Agung umumnya terdapat satu perkampungan yang ditinggali oleh para ulama, para imam masjid, para santri, dan juga keturunan Arab. Merekalah yang mengelola dan memakmurkan Masjid Agung.

Kauman pada kota kerajaan seperti di Yogyakarta dan Surakarta, lebih khusus lagi mereka adalah para ulama resmi kerajaan, yang masuk dalam bagian dewan penasehat raja.

Kauman berasal dari kata kaum. Belum begitu jelas tentang arti kata kaum. Ada yang menyebut berasal dari kata “kaum iman”, atau ada juga yang mengartikannya “kaum ulama”.

Selain tinggal di Kauman, sebutan pak kaum juga ada di desa-desa, yang biasanya juga dianggap tokoh agama dan tetua desa.

Pecinan

Jika keempat tempat sebelumnya punya keterkaitan sejarah dan filosofis, pada pecinan tentu tidak ada hubungannya. Soalnya secara umum dari etnisitas dan kepercayaan komunitas pecinan berbeda dengan masyarakat Jawa.

Yang menjadi latar adanya kawasan pecinan adalah alasan politik, ekonomi, dan budaya. Alasan politik karena daerah pecinan dibuat Belanda untuk mengkosentrasikan orang-orang Tionghoa agar mudah diawasi.

Atau juga karena dalam stratifikasi masyarakat kaum Tionghoa dibedakan dengan pribumi oleh Belanda.

Ada juga alasan ekonominya, kita tahu bahwa tujuan para imigran Tionghoa adalah dalam rangka berdagang, maka tujuan pasar paling besar tentunya adalah di pusat kota seperti alun-alun.

Alasan budayanya, masyarakat Tionghoa tentu ingin mempertahankan tradisi leluhur Tiongkok, dan tidak ingin hilang karena proses asimilasi.

Banyak pecinan di Jawa yang berada dekat alun-alun, tapi tidak semua pecinan berada dekat alun-alun. Tergantung pada kebijakan politik dan alasan ekonomi dalam sejarah daerah tersebut.