Cerita Soulmate #7: Ketika Pembimbing Suara Hatiku Berkata Kalau Dialah Jodohku

Kata-kata yang Arnie sampaikan padaku tampak wajar. Namun anehnya Arnie tidak tahu dari mana ia bisa terpikir untuk melakukannya. Ia tidak terbiasa memegang tangan wanita yang baru ia temui. Apalagi menatap mata sang wanita dan meyakinkannya kalau Arnie sangat antusias telah bertemu.

Ia bilang kalau ia merasa tangannya menyentuh tanganku dan mulutnya mengucapkan kalimat itu dengan sendirinya. Aku tidak mengingat kejadian ini. Namun ia mengingatnya karena kehangatan sikapnya saat itu membuat dirinya terkejut.

Terdorong oleh pertemuan pertama ini, kami mengatur waktu untuk bertemu lagi beberapa hari lagi. Kami berencana menentukan beberapa arahan spesifik dalam kerja sama yang akan kami buat. Kami bertemu untuk makan malam dan menghabiskan sebagian besar waktu untuk saling mengenal satu sama lain. Pada saat kami pindah ke tempat lain untuk membicarakan tentang pekerjaan, kami berdua sama-sama tak tahu dari mana kami perlu memulai.

“Menurutmu apa yang harus kita fokuskan pertama-tama?” tanya Arnie.

“Aku benar-benar tidak tahu,” jawabku. “Mungkin kita harus berpikir tentang isi materi workshop yang ingin kita buat. Atau mungkin kita perlu mulai dengan kelas yang sudah berjalan atau mungkin grup psikoterapi. Menurutmu bagaimana?”

Pada saat itulah Arnie mengambil diktat A Course in Miracles dari mejaku. “Mungkin kita perlu mencari  petunjuk,” jawab dia. Arnie pun membuka diktat itu secara serampangan. Ia menelisikkan jari telunjuknya ke tengah-tengah halaman dan mulai membaca paragraf yang mengena di hatinya secara keras-keras.

Inilah paragrafnya:

Kamu harus bertanya apa kehendak Tuhan dalam segalanya,

karena itu milikmu. Kamu tidak tahu apa kehendak Tuhan,

namun ruh di dalam tubuhmu tahu perjanjianmu dengan-Nya.

Bertanyalah pada Tuhan. Bagaimana pun juga, apa pun kehendak Tuhan sebenarnya itu untukmu,

dan Dia akan memberi tahu takdirmu.

Hal ini tidak bisa diulang-ulang terlalu sering karena kamu bisa jadi menjadi tidak menyadarinya.

“Itu tepat sekali!” balasku sambil tertawa. “Tampaknya kita harus melakukan sesi self insight dan bertanya apa yang seharusnya kita lakukan. Yuk kita coba lakukan selama beberapa menit.” Kututup mataku dan memvisualisasikan diri berjalan ke suara hatiku bersama Arnie sambil bergandengan.

“Hai,” kataku. “Ini teman baruku, Arnie. Kukira kamu sudah mengenalnya.  Bagaimana pun juga, kai merasa penasaran menurutmu apa yang bisa kami lakukan bersama-sama. kami sudah membahas tentang kelas, workshop, dan berbagai hal lainnya. Namun kami belum benar-benar yakin sebaiknya kami mulai dari mana. Menurutmu apa yang sebaiknya kami lakukan?”

“Kamu perlu memulai dengan menjalankan hubungan yang suci,” jawab suara hatiku tanppa ragu. Hal itu membuatku diam  dan menutup diri.

Bagi yang tidak mengenal A Course in Miracles, cara ini menawarkan jalan menuju cinta tanpa syarat. Sebagai pembelajar kursus ini, aku sudah ingin menemukan pasangan yang untuk sama-sama berkomitmen untuk hubungan dalam jangka panjang. Namun aku merasa kaget dan malu kalau memikirkan orang asing yang duduk di ujung sofa ini bisa jadi satu orang yang jadi pasanganku. Seperti yang sudah kukatakan, aku bahkan tidak tertarik pada Arnie. Bahkan tidak terpikir dalam benakku kalau ini bisa terjadi!

Lebih jauh lagi, apa yang akan ia pikirkan kalau aku kembali ke ruangan dan berkata, “Oh, by the way, suara hatiku bilang kalau kita perlu membangun hubungan suci”? Dia akan berpikir kalau aku sedang berpikir jorok. Terlebih lagi aku melakukannya secara menyedihkan. Bagaimana kalau dia salah paham dan mulai mendatangiku?”

“Ayolah,” aku protes. “Kamu bisa secara serius mengharapkan aku untuk kembali ke ruangan itu dan memberi tahu orang asing kalau aku ingin memiliki hubungan yang suci dengannya.” Namun suara hatiku hanya diam, menatapku dengan sabar, namun kulihat ada ekspresi berharap di raut mukanya. Aku diam sedikit lama, berharap bisa lepas dari masalah ini. Namun suara hatiku ini tidak mengatakan hal lain lagi. Aku akhirnya menyadari kalau lebih baik aku kembali.

Baca juga kelanjutan dari cerita ini di Cerita Soulmate #8: Pertemuan Dua Hati

Tinggalkan komentar