Bagaimana Takdir Mempertemukanmu dengan Jodohmu? Dan Mengapa Egomu Justru Menghalanginya?

Pasangan jiwamu tidak dipilih dengan bertanya pada egomu. Sisi dirimu yang salah tidak tahu apa-apa tentang cara mengenali pasangan yang ideal. Namun bisa jadi ketidakmengertian ego tentang pasangan jiwa ini adalah pertanda yang bagus.

Egomu sebenarnya sangat menentang dirimu untuk menemukan pasangan jiwamu. Jika ego benar-benar mampu mengenali pasangan jiwamu, egomu akan semakin keras berusaha menghancurkan kisah cintamu daripada sekarang ini!

Tidak ada jalan untuk menciptakan pilihan romantis yang baik. Kecuali kita bersentuhan dengan diri kita yang sebenarnya, atau mengikuti saran dari pembimbing yang menyuarakan hati kita yang sebenarnya. Selama sisi dirimu yang salah menguasai dirimu, kamu hanya akan melewati pasangan idealmu tanpa terlintas pikiran kalau dialah orang yang cocok untukmu.

Bagaimanapun juga, jika kamu pikir kamu mungkin sudah membuat kesalahan, jangan putus asa. Pembimbing di dalam hati kita akan melakukan usaha terbaiknya untuk mengatur berbagai kesempatan dengan pasangan jiwa kita. Pasangan jiwa yang tidak memberi kesan mendalam ke ego kita saat pertama kali bertemu.

Kesempatan kedua

picturequotes.com
picturequotes.com

Saat Carolyn masih single, dia sering merasa menderita kalau memikirkan bagaimana kalau dia ternyata sudah bertemu pasangan jiwanya namun menyia-nyiakan kesempatan itu. Bagaimana kalau ternyata dia sudah bertemu di supermarket, sama-sama berbelanja. Tapi bukannya memulai percakapan lucu tentang harga belewa seperti yang ia niatkan, dia malah memperhatikan anak-anak canggung yang berlarian kesana kemari.

Carolyn pun bertanya-tanya, apakah kita bisa mendapat kesempatan kedua untuk takdir cinta kita? Bahkan yang ketiga?

Untungnya, jawabannya adalah: ya. Gangguan dari ego kita dapat membuat kita sulit mengenali pasangan jiwa kita, tapi aku sudah menemukan banyak kisah di mana jiwa dan pembimbing orang-orang membuat mereka bersatu dengan pasangan yang sudah ditakdirkan, lagi dan lagi. Tentu saja, menemukan pasangan idealmu akan menjadi lebih mudah jika kamu memperhatikan suara hati yang mewakili jiwamu yang sebenarnya.

Berikut 4 kisah yang mencerminkan bagaimana dampak dari mendengarkan pembimbing di dalam hati kita. Pasangan-pasangan ini menceritakan kisahnya ke Carolyn.

Cerita cinta Yasmeen dan Mohammed

iwebstreet.com
iwebstreet.com

Saat menempuh S2-nya di Wayne State University, Detroit, Yasmeen, seorang keturunan Afrika Amerika, meninggalkan kebaptisannya dan masuk Islam. Walau Yasmeen tidak menggunakan hijab sepenuhnya, ia mulai “menutupi” rambut dan lehernya dengan kain saat berada di tempat umum.

Saat ia berjalan di tengah kampus, seorang pria dengan aksen asing datang dari belakang Yasmeen dan bertanya, “Apakah kamu seorang muslim?”

“Kukira kamu pasti merasa sedikit jengkel karena komentar sinis orang-orang atas caraku berpakaian,” kata Yasmine memberi tahu Carolyn, tersenyum namun ada sedikit rasa bersalah saat mengingat kejadian itu.

“Aku pun membalikkan badan dan mengomel, ‘Sekarang, apa lagi alasan aku mengenakan ini?’ Pria itu mundur tanpa mengucapkan sepatah kata pun dan pergi. Tapi saat aku melihatnya pergi, ada suara kecil di kepalaku yang berkata, ‘Itulah orang yang akan kamu nikahi.”

“Apa yang kamu pikirkan saat kamu mendengar suara itu?” Carolyn bertanya pada Yasmeen.

“Aku benar-benar tak tahu harus memikirkan apa,” Yasmeen mengangkat bahunya. “Tapi setelah pertemuan pertama itu, tampaknya pria asing ini dan juga aku terus-terusan bertemu. Aku mulai sering berpapasan dengannya ke mana pun aku pergi.

“Aku mulai tahu kalau namanya Mohammed. Dia mahasiswa teknik dari Pakistan, dan jug aseorang Muslim. Tiba-tiba saja tampaknya aku tidak bisa pergi keluar dari rumah tanpa ada momen berpapasan dengannya.”

“Aku juga punya beberapa pengalaman aneh,” Mohammed menambahkan. “Aku terbangun di tengah malam melihat imej paras Yasmeen, lalu seperti ada yang mengatakan kalau inilah wanita yang akan kunikahi. Ini terjadi sampai 3 kali. Jadi aku tiba-tiba saja tahu sejak semula kalau dia pasti pasangan yang Allah simpan untukku. Kita saling jatuh cinta tidak lama kemudian dan menikah hanya dalam 2 bulan setelah pertemuan pertama itu.”

“Pernahkah kamu berharap menemukan orang untuk kamu nikahi?” Carolyn bertanya ke Yasmeen lantaran penasaran apa saja yang bisa membawa mereka berdua ke pertemuan itu.

“Oh, sebelumnya sudah cukup lama aku berdoa meminta dipertemukan dengan pria yang tepat. Ibuku juga ikut berdoa bersamaku. Kami berdua membisikkan pada Allah, tepatnya suami seperti apa yang kuinginkan…. hanya saja tidak terlintas di pikiran kami untuk meminta kalau dia haruslah dari ras dan budaya yang sama denganku. Kukira kita hanya menganggap kalau masalah itu tak perlu kuminta pada-Nya. Dulu kuanggap kalau Dia akan mengabulkan pria satu ras tanpa perlu kusebutkan. Ya, catat kata-kataku ini: ternyata tidak!

“Mohammed memiliki semua hal yang kucari dari diri seorang pria,” Yasmeen melanjutkan sambil memberi tatapan sayang pada suaminya, “tapi aku tidak pernah berharap akan mengalami pernikahan antarras dan antarbudaya seperti ini. Tiga puluh tahun yang kami lalui bersama sudah menjadi pendidikan tersendiri bagi kami berdua. Situasi seperti inilah yang membuatmu benar-benar belajar arti dari budaya!”

“Lucu sebenarnya,” tambah Mohammed. “Selama aku tumbuh di Pakistan, aku belum pernah merasa benar-benar cocok. Orang-orang di sekitarku dulu selalu mengomentari hal ini. Aku hanya tidak berpikir seperti orang-orang di sekitarku. Aku selalu merasa sedikit terasing. Kukira itulah yang membuatku sangat ingin pergi ke Amerika segera setelah aku lulus sarjana.

“Yasmeen bilang kalau dia punya perasaan yang sama, tidak begitu cocok dengan budayanya. Jadi, sesulit apa pun itu, mungkin menyesuaikan perbedaan di antara kami berdua jauh lebih mudah bagi kami daripada untuk pasangan lainnya. Tak satu pun dari kami benar-benar ingin melakukan berbagai hal dengan cara tradisional.”

“Itu benar sekali,” Yasmeen menyetujui. “Dan mengetahui kalau kami berdua ini dipertemukan oleh Allah benar-benar membantu memuluskan jalan kami juga. Kukira ada waktu-waktu di pernikahan mana pun saat kamu merasa kalau pasanganmu tampak aneh dan sulit dimenegerti. Akan ada waktu ketika kamu mempertanyakan apakah kamu sudah membuat keputusan yang tepat. Namun walaupun ada berbagai masalah tambahan yang harus kami hadapi karena perbedaan yang ada di antara kami, setidaknya kami tidak pernah meragukan kalau kami memang benar-benar ditakdirkan untuk bersatu.”

Walaupun berkali-kali pembimbing mereka berhasil mempertemukan mereka berdua, prasangka berdasarkan ego akan tipe orang yang seharusnya mereka nikahi bisa mencegah Mohammed dan Yasmeen dari menyadari kalau mereka berdua sebenarnya pasangan yang tepat untuk satu sama lain. Untungnya, keduanya benar-benar mendengarkan pembimbing mereka. Alhasil rasa tidak percaya yang mereka miliki tentang kecocokan mereka itu diabaikan oleh Mohammed dan Yasmeen.

Jika kita ingin mengenali nilai diri calon kita yang sebenarnya, kita perlu belajar untuk melampaui perkataan ego kita. Hal lain yang perlu kita lampaui adalah penghindaran dari jiwa calon pasangan kita. Jiwa dan pembimbing kita mencoba untuk mengarahkan kita ke orang yang memiliki tujuan dalam hidup yang sama, melengkapi kekuatan kita, dan menutupi kelemahan kita.

Tapi tidak ada jaminan kalau pasangan ideal kita akan terlihat seperti yang kita harapkan, atau berasal dari latar belakang yang sama. itulah satu-satunya alasan mengapa pasangan jiwa kita itu mudah terabaikan jika kita tidak mendengarkan pembimbing kita.

Cerita cinta Norman dan Carrie

Cerita cinta Herman dan Roma

Cerita cinta Stan dan Marion

Panduan untuk menemukan pasangan jiwamu

  1. Pasangan jiwamu tidak musti memiliki latar belakang yang sama denganmu, atau penampilan yang kamu harapkan
  2. Pembimbingmu bisa jadi mempertemukanmu dengan pasangan jiwamu berkali-kali, namun terserah padamu untuk menerima perkenalan itu dan mengejar orang yang kamu kenal itu

Tinggalkan komentar